Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Tentangku

SEJARAH SEBUAH NAMA

Peringatan; halaman ini penuh dengan “bual-bual” narsistis. Sebab entahlah, belakangan saya tergila-gila, dan berniat untuk menjadi Hitler. Hahahaha. 😉

Hitler memulai dengan mencintai dirinya sendiri. Dan saya mengawali dengan membuhulkan jejuluk saya sendiri. Lukman Hakim, ketika memberikan nama ini konon Bapak saya sedang memikirkan seorang filsuf. Baginya, nama yang juga menjadi tetanda surat dalam Al-Qur’an itu adalah bukan nama seorang Nabi. “Paling banter ulama,” katanya. Dan, ya, nama seorang filsuf; orang bijak.

Bapaklah yang selalu ngotot agar nama saya ini ditulis dengan menggunakan “q”, bukan “k”. Lu[q]man Hakim, dan bukan Lu[k]man Hakim. Mungkin saja, menurutnya, peralihan huruf tersebut berdampak negatif terhadap suatu hal yang entah apa. Saya sendiri tak begitu mengerti, sebab saya percaya bahwa betapapun, sebuah nama hanya mungkin berarti apabila orangnya “Ada”. Nama sekedar penunjuk, dan yang paling penting adalah yang ditunjuk. Orang bisa hidup bahkan tanpa menyandang nama sekalipun. “What’s in a name?“, kata Shakespeare.

Bisa jadi karena pandangan yang begini, saya akhirnya kerap mengotak-atik nama saya. Terkadang bahkan tidak ada kaitan dengan nama saya sama sekali. Ambil misal, suatu saat saya amat terpesona dengan sosok Tan Malaka. Sebab itulah saya memakai nama Ilyas Husein, yang kemudian diprotes oleh seorang kawan karena seperti melecehkan nama seorang Kyai besar di daerah kami; Kyai Husein Ilyas (Al-Mukarram). Ilyas Husein sendiri sebetulnya adalah satu dari sekian nama samaran dari Sang Datuk Ibrahim Tan Malaka Revolusioner penghafal Al-Qur’an yang  kerap menjadi buronan.

Nama lain, yang terkadang saya gunakan, dan yang juga berfungsi sebagai alat kamuflase, adalah Sunny Kecil. Nama ini mulai saya pakai ketika dulu, sewaktu saya menjadi Ketua OSIS di Madrasah Mu’allimin Mu’alimat Atas Bahrul Ulum (MMA BU) Tambakberas Jombang, saya kerap membuat tulisan di majalah dinding. Isi tulisan tersebut umumnya bersifat polemis dan menantang (satu dari tulisan-tulisan pada masa itu sempat terekam dan terposting dalam blog ini dengan judul “Kebangkitan Tuhan”). Di situ, saya berdebat dengan beberapa orang sahabat melalui tulisan. Saya bayangkan saat itu, suasana dunia kepenulisan di Madrasah terpopuler se-Ponpes Tambakberas ini sedang sangat bergairah.

Selain Sunny Kecil, ada satu nama lagi yang juga saya pakai sebagai alat menyamar. Louis Alexander. Terlalu nge-jreng, memang. Sebab nama ini sudah terpikir sejak saya masih duduk di bangku SMP. Ketika itu, setiap anggota gerombolan memiliki nickname-nya masing-masing. Dan saya memilih Louis, bukan karena mengacu kepada nama raja Perancis, tapi semata-mata ada kemiripan bunyi di awal, bunyi “Lu”. Louis (Lui) dan Lukman.

Di Pondok, di Bumi Damai Al-Muhibbin, pesantren asuhan KH. Djamaluddin Ahmad, saya mendapat panggilan Men. Lengkapnya Mbah Men. Saya kurang ingat bagaimana dan kenapa saya diseru dengan sebutan ini. Barangkali karena tampang saya memang oldies, atau barangkali karena saya memang benar-benar sudah tua. Setidaknya dibanding dengan kawan-kawan sekelas dan sekamar (Saya masuk pesantren setelah merampungkan SMP di kampung, dan di pesantren itu saya memilih untuk memelorotkan diri ke kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah  Program Khusus, kelas ancang-ancang untuk memasuki MMA BU). Ketimbang marah-marah karena dipanggil mbah, saya berinisiatif untuk memperkeren sebutan untuk diri saya itu. Muncullah bunyi Men’s Death (Kawan-kawan perempuan di MMA mungkin saja terpengaruh oleh penulisan ini, sehingga kerap kali ketika mereka menuliskan nama saya, entah dalam sms atau surat, yang dipakai adalah mbah mens dengan “s” dan bukan mbah men). Saya memistifikasi nama yang saya ciptakan sendiri itu, dan memberikan makna, “Kematian kaum lelaki”. Sebuah kebetulan yang mengejutkan, sebab pada saat yang sama saya mulai tertarik pada ide-ide Feminisme.

Belakangan, setelah agak lama berkenalan dengan dunia pemikiran, dengan alam filsafat, saya tergerak untuk membuat nickname baru. Locke Hakim, dan saya mengacu kepada penemu Tabula Rasa dari Inggris, sang Empirisis yang bernama John Locke. Alamat email saya yang pertama, yang sekarang sudah terblokir karena tidak ada aktifitas, dirangkai dari nama ini; locke_hakim@yahoo.co.id. Akun FB saya, sebelum saya ganti, juga bertitel sama.

Tetapi nama Locke Hakim tidak bisa dipakai sebagai nama resmi. Selain saya juga merasa bahwa nama itu terlalu plagiatis. Maka, di Palembang, tempat saya berdiam sekarang, saya memakai nama resmi Lukman Hakim Husnan atau terkadang disingkat menjadi Lukman Hakim HS. Husnan adalah nama depan Bapak saya.

Nama ini sebetulnya sudah lama saya pakai, terlebih pada ajang-ajang resmi. Kalau dulu, di pondok, saya mendapatkan tambahan nama Muhammad (biasanya ditulis M. Lukman Hakim) entah dari siapa, maka saya sebetulnya lebih sreg dengan tambahan Husnan. Menambahkan nama depan orang tua laki-laki sebagai nama belakang kita adalah sesuatu yang lumrah buat kultur masyarakat kita. Seingat saya, nama Lukman Hakim HS, mulai saya pergunakan saat kelas empat MMA. Ketika nama saya harus dipampang di papan struktur dinding kantor OSIS. Teman-teman saya, yang belum familiar dengan nama ini, terlebih akronim HS di belakang nama, secara bercanda menyebutnya sebagai kepanjangan dari, maaf, “Hontol Singo“. Saya tertawa saja.

Anda bertanya, kenapa HS? Mengapa tidak HSN, atau HN, untuk mengakronimkan Husnan?

Akronim HS ini saya kutip dari seorang guru saya, sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Mardhiyah, yang sama-sama memiliki bapak bernama Husnan. Ya, beliau bernama M. Yahya HS, alias Muhammad Yahya Husnan, orang yang acap mem-berdiri-kan saya di depan kelas karena tak sanggup menghapal lima bait Alfiyah ibnu Malik. Dengan mengidentifikasi diri kepada pengampu mata pelajaran Qawa’id Fiqh pada saat saya kelas IV ini, saya mengharap tertulah berkah.

Selain itu, akronim HS juga saya kaitkan pada akronim yang dipakai oleh guru saya yang lain, yang juga pengasuh Bumi Damai Al-Muhibbin. Gus Idris menulis namanya sendiri dengan M. Idris HD. Merasa ada kemiripan, saya juga mengharapkan tertulah berkah lagi.

Hingga kini nama Lukman Hakim HS masih dipakai. Orang-orang pondok, Pondok Pesantren Ahlul Qur’an tempat saya mendekam sekarang, menggunakan nama itu. Sementara itu, di Masjid Agung Palembang, saya menjadi head bidang Penerbitan di sini, nama Lukman Hakim Husnan-lah yang lebih banyak muncul.

Dari sini, sejak kurang lebih satu tahun lampau, ketika kawan-kawan Yayasan Literasi mendapuk saya menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Edukasi, saya memakai nickname baru. Elha Husnan, yang sebetulnya pelafalan dari bahasa tulis LH Husnan alias Lukman Hakim Husnan. Kalau dulu, nama Bapak yang saya akronimkan dengan sewenang-wenang, dengan tanpa sepengetahuannya, sekarang nama saya sendirilah yang saya singkat. Apakah Beliau akan tidak setuju? Barangkali saja, dan apa peduli saya (hehehe).

Oh ya, saya juga terkadang memakai sebutan-sebutan lain.

Salam hangat,

Lukman H. Husnan

 

Iklan

One comment on “Tentangku

  1. Sharren al Ayyubi
    24/12/2013

    mbah men…. aku Ukasya Ali Malang,
    nomere pean piro???
    iki nomerku, 081217208812,
    081945145200. pin 298624b0.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 58,575 hits
%d blogger menyukai ini: