Elha Husnan

Man Syakka Wajada

KI HAJAR “JEMBLUNG” DEWANTARA

Yang acap terlupa dari Hari Pendidikan Nasional adalah Ki Hajar Dewantara. Setidaknya, inilah yang kerap terjadi pada diri saya sendiri.

Sejak dulu, saya membayangkan Ki Hajar sebagai sosok sepuh nan teduh, yang citra tentangnya saya peroleh dari potret-potret yang dipaku di dinding sekolah. Orang yang tak nek-neko, laik para guru tanpa pangkat di jaman ini, yang membaktikan diri sepenuhnya untuk mengajar. Sosok yang mirip resi, yang dari lidahnya keluar ludah kebijaksanaan, terutama kalimat yang sudah terlanjur menjadi semacam mantra bagi dunia pendidikan;
“Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”
(Di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi daya kekuatan)

Di dunia pendidikan, kalimat ini bahkan sama populernya dengan peribahasa, seperti, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” atau “Rajin pangkal pandai” atau “hemat pangkal kaya”, atau…

Demikianlah Ki Hajar Dewantara, sebagai realitas yang saya bayangkan…

Saya tak pernah tahu kalau ternyata orang ini musuh bebuyutan kompeni. Saya tak pernah tahu kalau orang ini kerap dicap sebagai pembangkang, atau mungkin sekarang disebut sebagai kelompok pemberontak nan radikal.
Saya tak pernah tahu kalau orang ini adalah sosok jurnalis yang acapkali menulis kritik tajam atas pemerintah (kolonial), yang artikelnya (berjudul Als Ik Eens Nederland Was/Andai Aku Orang Belanda) membuatnya dibuang ke luar negeri.

Saya tak pernah tahu kalau Ki Hajar bukan semata tokoh pendidikan, tetapi lebih dari itu, tokoh politik. Lihat tindak-tanduknya yang bisa jadi sebetulnya merupakan sikap politis. Misal, ia mengubah namanya sendiri yang Raden Mas Soewardi Soerjaningrat menjadi Ki Hajar Dewantara. Ia menghapus gelar Raden Mas, konon, agar semata-mata dekat dengan rakyat (dan atau murid-murid-nya dari kalangan jelata). Tetapi bagaimana jika sikapnya ini sebanding dengan, umpamanya, sikap Sukarno saat ia menolak untuk menggunakan Bahasa Jawa Kromo, dan lebih memilih Ngoko, pada saat Kongres Jong Java tahun 1921; sikap enggan terhadap stratifikasi sosial yang sebaliknya justru hendak dilanggengkan oleh Pemerintah (kolonial).

Lantas, tentu saja, “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”-nya Ki Hajar juga bakal memiliki makna lain apabila ditilik dari sudut politis?

Ya, saya bahkan tak pernah tahu kalau Ki Hajar adalah sosok santri. Bahwa ia dibesarkan di lingkungan pesantren di seputaran Kalasan, Prambanan, Jawa Tengah, di bawah asuhan Kiai Sulaiman Zainuddin.

Saya tak pernah tahu kalau, sebagaimana layaknya kaum santri, Ki Hajar juga “begejekan”; barangkali juga suka “gojlok-gojlokan”. Ki Hajar sendiri dijuluki oleh kawan-kawannya dengan sebutan “Jemblung” (Perut Buncit). Barangkali hanya kelak, sebutan “Jemblung” ini ditambah dengan label yang lebih keren, “Jemblung Trunogati” (Anak berperawakan kecil dengan perut buncit, namun berpengetahuan luas).

Saya tak pernah tahu…

Selamat Hari Pendidikan, Mblung…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 02/05/2017 by in Essey.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: