Elha Husnan

Man Syakka Wajada

KIAI AMPLOP, ULAMA MATRE

Ruang tamunya hampir tak pernah sepi. Orang dari mana saja selalu mengetuk pintu, seperti tak kenal waktu, meminta kepadanya apa saja; dari sekedar wejangan sampai dukungan.

Maklum, Kiai sohor. Kualifikasi sundul langit.

Bulan Rabiul Awal, seperti sedang kita jalani hari-hari ini, kau pasti tak akan bisa membayangkan. Otakmu yang hanya sanggup mencerna aktifitas dari hanya jam delapan pagi sampai jam empat sore, itu pun kalau kau seorang Pegawai Negeri yang rajin dan taat, tak bakal mengerti bagaimana setiap hari, pagi-siang-sore-malam, sang Kiai seolah tak berhenti.

Tidak, ia tak bisa mangkir. Umat menunggunya; umat menantikan fatwa-fatwanya.

Hari lain di bulan lain akan sama saja. Rabiul awal ada Peringatan Maulid Nabi. Muharram; tahun baru Islam. Rajab; Isra’ Mi’raj. Ramadhan; Nuzulul Qur’an. Syawal, Dzulqa’dah, Dzulhijjah; Walimatus Safar (Haji).

Begitulah undangan pengajian, atau apapun  namanya, itu datang silih berganti. Kiai mesti tak boleh bosan mengamini permintaan tersebut, biarpun pemintanya dari negeri antah berantah; dari mulai kampung berbariskan rerumahan kumuh sampai kota berderet hotel-hotel mewah.

Lalu kau pun ikut mengetuk pintunya, dan memohon:

“Mohon maaf, Kiai. Hari ini, tanggal itu, jam segitu, masyarakat kami mengundang anda untuk mengisi pengajian dalam rangka peringatan ini itu.”

Kiai menjawab:

“Boleh. Tapi siapkan amplop seratus juta ya!?”

Kau pun tergeragap. Kaget, bagaimana bisa Kiai serendah itu: mematok tarif. Di dalam hati kau membatin, “Gak ngundang kamu, kami juga gak bakal mati”, tapi yang keluar dari mulutmu:

“Oh gitu ya, Kiai. Kayaknya kami perlu musyawarahkan dulu dengan warga.”

“Ya,” Kiai menimpali pernyataanmu sambil mengelus janggutnya, dan menambahkan, “Jangan lupa dijemput ya nanti!? Mobil agak bagusan dikit. Kalo ada, Alphard boleh juga.”

Maka kau kembali ke kampungmu dengan membawa segumpal gerutu, tetapi juga sebongkah isu: “KIAI MATRE, KIAI AMPLOP, KIAI GADUNGAN, ULAMA SUU’, ULAMA PARTISAN,” dan sejumlah label yang kau pungut entah dari mana.

Sesungguhnya, yang tak kau tahu adalah pengakuan Sang Kiai berikut ini:

“Aku ini sebetulnya sudah amat capek. Hampir tiap hari, siang malam, keluyuran kesana kemari, sementara tubuhku sudah mulai sakit-sakitan.”

“Tapi orang-orang itu seperti tak mau mengerti, masih saja mengajak pergi. Ditolak secara halus dengan alasan mobil rusak, mereka bilang ‘ndak papa, Kiai, nanti kami jemput’. Dikata sedang tak enak badan, mereka memaksa, ‘yang penting Kiai bisa hadir, kalau perlu saya gendong, di sana nanti cuma diam dan duduk-duduk saja juga tak apa, yang penting berkahnya’.”

“Setelah berpikir cukup lama, aku akhirnya ketemu akal-akalan. Sekarang, kalau ada yang mengundang, aku minta mereka menyiapkan amplop yang kira-kira mustahil bisa mereka sediakan.”

Hahahaha.

Kau yang terlanjur antipati pada sang Kiai lalu berdalih sedemikian rupa, “Halah, Kiai kok cuman mementingkan dirinya sendiri.”

Tetapi Warimin, di sudut jalan sana, punya pemaknaan lain:

Sang kiai sungguh sudah tak peduli lagi dengan hinaan, cercaan, atau apalagi fitnah ecek-ecek itu.  Ia bahkan menyediakan dirinya sendiri sebagai ladang gunjingan, tudingan, tuduhan, dan lain-lain, serta bahkan tak lagi memedulikan kepentingan perutnya sendiri. Ia tak lagi takut dibenci, tak lagi takut tidak populer (yang karena itu tak akan ada lagi yang menyalaminya dengan amplop).

Barangkali karena ia tahu rizkinya bukan di tangannya sendiri!? Mungkin saja di hatinya sudah tak ada yang lain selain Tuhannya!? Siapa tahu!?

Atau, bisa saja Kiai kini mengerti, kajian-kajian yang ia uarkan siang malam itu nyatanya tak membuahkan apa-apa. Mereka yang datang di majelisnya, yang sejak mula suka mencaci maki, tetap suka mencaci maki. Yang senang bertengkar dengan saudaranya sendiri, tetap suka bertengkar. Yang suka menggunjing, memfitnah, mengadu domba, tetap dengan kelakuannya. Dan lain-lain dan seterusnya.

Bukankah, seperti kata Nabi, “Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa-apa yang tak bermakna.” Apakah Kiai kini beranggapan kalau pengajian-pengajiannya itu dianggapnya tak bermakna!?

Wallahu a’lam.

Yang jelas, sang Kiai kini lebih fokus merawat murid-murid Taman Al-Quran kecil di rumahnya, dan mendadak namanya dikenang “hanya” atau “cuma” sebagai guru TPQ.

@elhahusnan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 19/12/2016 by in Essey and tagged , , , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: