Elha Husnan

Man Syakka Wajada

IDENTITAS PECI HITAM

(Antara Sukarno, Kiai Wahab, dan Lain-Lain)

”…Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.”

Konon, itulah seruan Sukarno saat didapuk menjadi pembicara Konferensi Pemuda Jawa (Jong Java), di Surabaya, tahun 1921. Orang sama ternganga mendengar seruan itu. Persis seperti termelongo-melongonya mereka ditentang tampilan Sukarno; satu-satunya manusia berpeci di tengah gejolak muda yang serba ng-eropa. Buat para pemuda Jawa yang katanya modern itu, kemajuan adalah menjiplak Eropa, dan itu berarti juga dalam hal berbusana. Peci, juga destar, juga sarung, barangkali juga surjan, blangkon, dan beskap, adalah lambang masa lalu.

Apakah pemuda-pemuda itu keliru!? Tidak, tentu saja, tetapi Sukarno bisa jadi memang mendahului zamannya. Ia, jauh-jauh hari, sudah memikirkan identitas, sementara yang lain masih terbuai dengan semangat modernitas (ala Eropa).

Tahun 20-an, kita tahu, adalah tahun-tahun saat kata “Indonesia” mulai diberi muatan politis, setelah pada dekade sebelumnya diperkenalkan sebagai kesatuan etnologis dan geografis. Pada awal abad 20 sampai dua dekade berikutnya, orang hanya mengenal Hindia Belanda, bukan Indonesia. Puncak dari pembentukan identitas kebangsaan ini terjadi pada tahun 1928, tanggal 28 bulan Oktober. Momen yang sekarang dikenang sebagai peristiwa Sumpah Pemuda.

Saya tak habis pikir, menghadapi kondisi genting semacam itu, Sukarno bisa-bisanya masih memikirkan peci. Mungkin, baginya, penampilan adalah juga simbol, plus identitas; sesuatu yang menjadi wakil bagi gagasan orang yang mengenakannya. Seperti ditulis Cindy Adams dalam “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat”, seperti dikutip dari Majalah Historia, Sukarno mengidentifikasi pecinya sebagai, “ciri khas saya… simbol nasionalisme kami.”

Karenanyalah, sejak saat itu, peci –dalam hal ini peci beludru berwarna hitam– hampir tak pernah lepas dari kepala Sukarno. Laku seperti ini kemudian mempengaruhi kalangan intelektual dan seperti menjadi kesepakatan umum di tengah aktifis pergerakan pada waktu itu. Demikianlah sebabnya kelak kita menemukan bukan hanya gambar Bung Hatta, tetapi juga Bung Musso, pentolan PKI itu, menutup kepalanya dengan peci hitam.

Lalu, apakah yang tidak mengenakan peci hitam dengan demikian tidak nasionalis!? Atau, karena Musso yang PKI dan yang selanjutnya ditetapkan sebagai pemberontak oleh pemerintahan Sukarno, juga memakai peci hitam, katakanlah sebagai alat kamuflase,  lantas apakah Bung Karno membanting peci hitamnya!?

Tidak.

Dalam bukunya, “Berangkat dari Pesantren”, Kiai Saifuddin Zuhri (salah satu menteri agama di masa pemerintahan Presiden Sukarno) menceritakan, Sukarno berpidato;

“Seandainya saya adalah Idham Chalid yang ketua Partai NU atau seperti Suwiryo, ketua PNI, tentu saya cukup pakai kemeja dan berdasi, atau paling banter pakai jas,” ujar Bung Karno sambil melihat respon hadirin

“Tetapi soal Peci Hitam ini, tidak akan saya tinggalkan. Soalnya, kata orang, saya lebih gagah dengan mengenakan songkok hitam ini. Benar enggak, Kiai Wahab?” tanya Bung Karno pada Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) waktu itu, yang juga anggota DPA, KH Abdul Wahab Hasbullah.

image

Kiai Wahab dengan tangkas menjawab, “Memang betul, saudara harus mempertahankan identitas itu. Dengan peci hitam itu, saudara tampak lebih gagah seperti para muballigh NU.”

Jawaban Kiai Wahab itu direspons tawa dan tepuk tangan para hadirin.

Soal identitas-identitasan terkait tutup kepala seperti ini, Kiai Wahab tak kalah seru. Suatu kali, di sebuah sidang parlemen, Kiai yang senantiasa tampil mengenakan surban (imamah), tampak sedang membetulkan posisi surbannya sebelum tampil di atas podium. Tiba-tiba seseorang nyeletuk usil, atau bisa juga dikatakan meledek, “Tanpa surban kenapa, sih!?”

Kiai Wahab, sembari memandang tajam para peserta sidang, menunjuk ke arah surbannya, “Ini Surban Diponegoro.” Suasana kembali pecah oleh tawa dan tepuk tangan.

image

Peci, atau surban, atau blangkon, atau jenis busana apapun, hanya berarti bagi orang yang memaknainya (entah orang yang mengenakan, atau orang yang melihat peralatan itu dikenakan).

Dalam Tafsirnya, Ibn Rajab al-Hanbaly berkisah ihwal Sayyar Abul Hikam. Sayyar adalah seorang Zahid (Sufi). Kontras dengan murid-muridnya yang semuanya memakai shuf (pakaian wol kasar, ciri khas orang miskin yang biasa digunakan Kaum Sufi), Sayyar malah terbiasa mengenakan pakaian yang bagus. Kontan pemandangan ini tidak mengenakkan mata Malik bin Dinar, sesama Zahid (Sufi).

“Mengapa kau memakai pakaian bagus seperti itu, Wahai Sayyar!?” tanya Malik.

“Mengapa, Saudaraku Malik!? Apakah, menurutmu, memakai pakaian bagus itu rendah atau mulia!?” yang ditanya malah balik bertanya.

“Rendah,” jawab Malik (mungkin karena menyalahi adat kaum Sufi yang terbiasa memakai pakaian buruk).

“Nah, kalau begitu, itulah arti tawadhu’, Saudaraku Malik. Sebaik-baik pakaian adalah yang menyebabkan rendah di hadapan manusia,” mendengar jawaban itu Malik tiba-tiba menangis sesenggukan.

Begitulah, Sukarno menginternalisasi makna pada peci hitam, atau Kiai Wahab memberi makna pada surban, atau Sayyar dan Malik menyuntik makna pada pakaian bagus.

Dalam sebuah status fesbuk, saya pernah memetik kutipan elok dari buku “Cantik Itu Luka”-nya Eka Kurniawan, berbunyi: “Setiap pakaian memberikan peran badut yang berbeda bagi jiwamu.” Saya sendiri kalau memakai Jaket Jeans Belel sobek-sobek, misalnya, seolah merasa jadi Ali Topan Anak Jalanan. Anda yang alisnya dibikin pola-pola segitiga, segi empat, segi lima, dan lain-lain itu juga sudah merasa seperti Krisdayanti kan!? Atau Dewi Persik!?

Nah…

Dulu, di kampung saya, orang tidak berani sembarangan memakai peci putih, karena tutup kepala semacam itu berkesan langit, kalau bukan mistis. Hanya orang-orang yang sudah berhaji memakainya. “Memakai peci hitam, bukan peci putih, adalah cermin kedudukan sosial,” ini satu pemaknaan.

Dulu, di pesantren, santri tak berani menggelungkan surban di kepala. Ini karena yang melakukan itu hanya para kiai dan orang-orang alim yang setara dengan mereka. “Memakai peci saja, bukan surban, adalah cermin ketawadhuan,” ini juga satu pemaknaan.

Hari-hari ini, ada yang mengajak anti-antian, boikot-boikotan; menyeru untuk memaknai ulang status peci hitam, dengan menolak memakainya.

Boleh-boleh saja. Tapi mbok ya jangan cuman ngelarang-larang. Sekalian dibelikan, kenapa!? Apa sampean dak kasian sama saya!? Atau sampean perlu alamat lengkap pengiriman barang untuk saya!? Hehehehe.

#boikotndasgundul
#boikotndasmu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: