Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Namimah

—kepada anak-anakku—

Nak…

Yang berbahaya dari namimah adalah sebuah cerita:

Setelah berhasil menemukan yang ia mau, seseorang bertanya kepada makelar budak yang berdiri di hadapannya;

“Apa kekurangan budak ini!?”

“Tiada kekurangan, Tuan,” jawab si makelar, “hanya yang ini gandrung namimah.”

Tak menghiraukan penjelasan si makelar, yang seharusnya menjadi peringatan baginya itu, orang tersebut –yang sebentar lagi beralih nama menjadi “tuan” atau “sayyid”– akhirnya membeli budak dimaksud. Dibawanya budak itu ke rumah, dan betul, budak itu bekerja luar biasa trengginas (Jawa: rajin). Hanya…

Suatu hari, si budak menghampiri tuan perempuannya (istri orang tadi). “Nyonya,” budak itu mengawali pembicaraan, “sebetulnya suami Nyonya itu tukang selingkuh.”

Tuan perempuan itu pun kaget; kalau bukan marah. Tapi ia setengah percaya, dan budak itu melanjutkan, “Kalau nyonya tak percaya, tak apa. Saya bisa bantu nyonya dengan guna-guna. Agar  suami nyonya tak aneh-aneh lagi.”

“Caranya?” tanya si Nyonya yang perlahan mulai percaya.

“Malam nanti,” sergah si budak, “bawalah pisau ke kamar. Potonglah beberapa helai rambut suami nyonya. Kita mulai dari sana dulu.” Si Nyonya mengangguk terpengaruh.

Di tempat lain, budak itu berupaya mendekati tuannya lelaki. Dan berbisik, “Tuan, istri Anda selingkuh.”

“Hah,” si tuan tiba-tiba merah padam, “jangan macam-macam kamu.”

“Lho, kalau tidak percaya ya sudah,” sergah si budak, “tapi, asal tahu saja, Tuan. Istri Anda sudah lama berniat membunuh Anda. Kalau masih tidak percaya, lihatlah malam ini, istri Anda bakal membunuh Anda.”

Meski enggan untuk percaya dengan ocehan budaknya, tak urung tuan lelaki itu terpaksa waspada. Malam itu, ia bersiap tidur dengan menghunus belati.

Dan, yang terjadi, terjadilah…

Di rembang petang, sang istri pelan-pelan mendekatinya; memegang pisau; berusaha meraih kepalanya. Si suami tak kurang sigap; mendadak ia membalikkan badan; mengacungkan belati. Tanpa basa-basi, ditikamnyalah leher istri yang disangka hendak membunuhnya itu.

Darah di mana-mana. Tuan lelaki pun masuk penjara. Dan si budak tertawa-tawa.

***

Namimah adalah apa yang biasa kita sebut sebagai adu domba; membikin dua orang atau lebih saling memusuhi antara satu dengan yang lain. Thus, Provokasi. Tetapi namimah, seperti diuraikan Al-Ghazali, sejatinya adalah;

ﻛﺸﻒ ﻣﺎ ﻳﻜﺮﻩ ﻛﺸﻔﻪ ﺳﻮاء ﻛﺮﻫﻪ اﻟﻤﻨﻘﻮﻝ ﻋﻨﻪ ﺃﻭ المنقول ﺇﻟﻴﻪ ﺃﻭ ﻛﺮﻫﻪ ﺛﺎﻟﺚ

“Membangkitkan rasa benci; bagi orang yang dibicarakan, atau bagi orang yang diajak bicara, atau bahkan bagi pihak ketiga.”

image

Ketika seseorang menceritakan hal orang lain, yang apabila orang lain yang dibicarakan itu mendengarnya, ia lantas jadi tidak suka, demikianlah namimah. Ketika seseorang menceritakan hal orang lain, dan selanjutnya orang yang diajak bicara itu jadi tidak senang, demikianlah pula namimah.

Namimah, dengan kata lain, adalah ujaran yang mengajak kita untuk membenci. “Biarpun topik yang sedang diudar tersebut benar adanya; sekalipun menyangkut hal-hal yang baik maupun yang buruk,” Kata Al-Ghazali. Sebab, lanjut Al-Ghazali, kalau yang menjadi pokok pembicaraan itu tidak benar, maka jadinya fitnah (tepatnya, fitnah dan namimah sekaligus). Atau, kalau yang menjadi bahan perbincangan itu adalah keburukan orang lain, maka jadinya ghibah (tepatnya, ghibah dan namimah sekaligus). Dan, kalau yang dijadikan obyek obrolan berupa keburukan orang lain, yang –celakanya– tidak benar adanya, maka jadilah ghibah dan fitnah dan namimah sekaligus. Na’udzu billahi min dzalik.

Namimah seperti ini, kata Al-Ghazali, mengambil bentuk dalam banyak hal; yang paling lazim adalah dengan lisan, tetapi juga melalui tulisan, atau bahkan melalui perlambang.

***

Karena itulah, Anakku…

Berhati-hatilah tiapkali bertemu dengan ujaran-ujaran yang mengajakmu untuk membenci seseorang atau sesuatu. Waspadalah terhadap uraian, yang dengan mendengar atau membacanya, menyebabkan terseruaknya rasa benci dari dalam dadamu.

Jangan hanya karena kau senang, sebab yang diusung dalam sebuah tautan adalah keburukan orang yang kau anggap sebagai musuhmu, lantas kau dengan mudahnya menjentikkan jari; menge-share ulang kemanapun kau mau.

Jangan gegabah, Nak. Jangan ikut-ikutan mengembangbiakkan kebencian. Jangan ikut berlaku namimah. Jangan karena informasi yang buruk, lantas engkau ikut-ikutan mencari-cari keburukan (tajassus).

Itulah yang diajarkan oleh guru-gurumu, bukan!? Itulah yang dipetuahkan oleh Imam Al-Ghazali.

Ingatlah sabda Nabimu yang agung itu;

لا يدخل الجنه قتات

“Tak akan masuk surga, orang-orang Qattat.”

Tahukah kau, Nak, siapa itu Qattat!? Mereka adalah Nammam. Mereka adalah orang-orang yang gandrung namimah.

image

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 26/11/2016 by in Essey and tagged , , , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: