Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Ahok, Barisan Monyet, dan Konspirasi Yahudi

Dia Ahok. Pria. Cina. Pakai kacamata. Entah beristri berapa. Seperti ketiban pulung, ia kejatuhan warisan menjadi Gubernur Jakarta, dan lalu –laik ketagihan– mencalonkan diri mengejar predikat sebagai gubernur yang bukan warisan.

Baru-baru ini, tentu bukan sekali ini, dan dalam lanskap reribut perebutan kursi orang nomor satu di Daerah Khusus Ibukota, celoteh Ahok kembali mendulang kontroversi. Ia menyitir satu dua larik kata yang oleh beberapa kalangan diterjemahkan sebagai pelecehan kitab suci.

Mulut Ahok memang begitu; gandrung mengundang mara. Barangkali mulutnya tak pernah sekolah. Atau barangkali Ahok tak membiarkan dirinya sendiri berbicara menggunakan otak; lebih senang memilih obrolan dengan memakai mulut saja. Siapa tahu!?

Tetapi bara dari mulut Ahok terlanjur jadi kebakaran. Di dunia nyata, orang berduyun-duyun meneriaki Ahok, menuntut polisi memenjarakan Ahok, mengimbau massa agar kelak tak memilih Ahok. Dan, di dunia maya, efek Ahok menciptakan banyak barisan kera atawa beruk alias monyet.

Barisan monyet yang dimaksud di sini adalah apa yang ditunjuk oleh para jurnalis sebagai ‘the clicking monkeys’; monyet-monyet tukang klik. Diserupakan dengan monyet karena monyet-monyet, eh orang-orang, itu suka sekali menebar berita –atau artikel atau esai atau kolase foto atau barangkali juga meme– yang tidak jelas juntrungannya; belum terverifikasi kebenarannya.

Alih-alih memeriksa keabsahan sebuah artikel, membacanya secara utuh pun enggan. Mereka merasa sudah cukup mafhum dengan cuma mencandrai judul suatu tulisan. Para monyet terlalu malas melakukan pengecekan, dan lebih senang bergegas menyiarkannya; mem-broadcast kesana kemari, me-retweet, atau mem-posting ulang di media sosial.

“Mereka seperti kumpulan monyet,” tulis Daru Priyambodo, orang yang pertama kali mencetuskan istilah ‘clicking monkey’, “riuh saling melempar buah busuk di hutan.”
image

Ahok, dengan segala bau yang menempel di mulutnya, sepertinya  betul-betul berhasil membiakkan gerombolan monyet itu. Tak peduli apakah barisan tersebut mendukung atau tidak mendukung; menyukainya atau benci padanya. Sekali ada teks yang bersesuaian dengan kondisi hati, sekali itu pula si monyet bergegas menggenggam gawai; klik sana-sini; teks tersebar; lalu perasaan lega –atau perasaan seolah telah menjadi pahlawan.

Lantas, apa kaitan semua ini dengan Konspirasi Yahudi?

Sebetulnya tidak ada sama sekali. Tulisan ini hanya hendak membuktikan bahwa ‘the clicking monkeys’ itu benar-benar nyata keberadaannya, setidaknya tampak gejalanya; orang-orang yang terbelalak hanya pada judul.

Hahahaha.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 24/10/2016 by in Essey and tagged , , , , , , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: