Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Deterjen Ruhani

Catatan tentang Catatan
Disampaikan dalam, sebut saja, bedah buku di Pond. Pest. Al-Lathifiyyah Palembang

(30 Januari 2016)
Apa itu Deterjen Ruhani?

Anda menyebutnya Rinso, atau So Klin, atau mungkin juga Attack. Tapi diksi yang tepat, yang mampu mengakomodir kesemua sebutan, yang sesungguhnya adalah merek itu, adalah kata deterjen.


Deterjen adalah media, sedemikian rupa berupa butir-butir seukuran pasir berwarna putih, berbau masam dan mampu mengeluarkan busa apabila dikombinasikan dengan air, yang lazim dipakai oleh ibu-ibu (atau barangkali juga bapak-bapak) untuk mencuci pakaian, membersihkan bebajuan. Tak perlu bertanya, apakah mencuci mesti pakai deterjen atau tidak, atau apakah pada jaman Sultan Mahmud Badaruddin II dulu, orang-orang membersihkan pakaiannya dengan deterjen atau tidak. Pendeknya kita, orang-orang yang sempat bertemu dengan tahun 1980-an ke atas ini, pasti mengerti apa itu deterjen (sebagaimana kita akrab dengan Rinso dan Soklin dan Attack). 

Deterjen, kurang lebih, adalah alat untuk mencuci.

Sementara ruhani merupakan adaptasi dari bahasa arab. Ia biasa diperbandingkan dengan jasmani. Apabila jasmani berarti yang kasat, yang tampak, yang lahir, sebaliknya ruhani bermakna tak terlihat, tersembunyi, atau yang batin. 

Ruhani identik dengan ruh, sisi batin dari manusia. Jika malaikat hanya tersusun dari ruh, manusia terbentuk dari racikan jisim, akar kata jasmani, alias tubuh, berikut ruh. Semua yang tidak mewujud secara fisik bisa dikatakan sebagai bersifat ruhaniyyah. Dan ruhani, karena itu, merupakan “organ” penting kemanusiaan yang tanpanya manusia mustahil hidup. 

Tetapi juga, karena itu, yakni karena bahwa ruh bersifat tak nampak, orang lalai seperti kita acapkali lupa untuk memperhatikannya. 

Kita terlalu sibuk dengan pekerjaan di kantor, sehingga pakaian yang kita jemur lupa kita angkat. Pakaian itu pun jadi kotor (lagi). Kita terlalu sibuk hidup di arena fisik, sehingga kita alpa dari memerhatikan unsur ruhani di dalam diri kita. Sisi ruhaniah itu pun jadi kusam, bahkan bisa jadi lama kelamaan membusuk. Sebab itulah, pakaian ruhani kita itu mesti dibersihkan kembali. Perlu dicuci lagi.

Di titik inilah mungkin kita memerlukan Deterjen Ruhani; medium untuk mencuci pakaian ruhani. 

Dan “Deterjen Ruhani” adalah judul buku pertama saya yang tidak saya tulis secara keroyokan.
Mengapa Deterjen Ruhani?

Mulanya bukan itu. Deterjen Ruhani sesungguhnya adalah judul yang dipilih oleh Penerbit, yang bahkan penetapannya tidak pernah dikonsultasikan dengan saya sebagai penulisnya. 

Penerbit yang saya maksud adalah Penerbit Pustaka Pesantren, anak perusahaan dari Penerbit LKIS, Yogyakarta. Pada zamannya, sewaktu saya masih unyu-unyu dan gandrung baca buku, kami mengenal Penerbit LKIS sebagai perusahaan penerbitan yang menelurkan banyak buku berkualitas, atau pendeknya buku-buku berat. Saya sendiri “berkenalan” dengan pikiran-pikiran Muhammad Arkoun, Abid Al-Jabiri, Nashr Hamid Abu Zaid, atau bahkan Frederick Nietzsche, Karl Marx, JacquesDerrida, dan pemikir-pemikir lain dari Timur maupun Barat, dari buku-buku yang diterbitkan oleh LKIS. Itulah yang membuat saya sejak dulu berhasrat atau bertekad untuk menembus benteng redaksi penerbit bonafit itu. Sebutlah saya menumpang eksis. Hehehehe.

Belakangan, LKIS memiliki banyak lini penerbitan. Semua dirujukkan pada ruang-ruang naskah yang spesifik. Ada Mata Pena yang menjaga gawang naskah-naskah sastra. Lalu ada Pustaka Pesantren, yang membawahi naskah-naskah berbau kepesantrenan. Label LKIS sendiri bukan tidak dipakai lagi, hanya kini ia lebih difokuskan pada naskah-naskah “kelas berat”, macam buku-buku filsafat. Buku saya diambil oleh Pustaka Pesantren, mungkin karena kecenderungan keagamaannya yang cukup kental. Sementara beberapa judul buku kepesantrenan yang fenomenal terbitan Pustaka Pesantren diantaranya “Suluk Abdul Jalil” (tentang perjalanan ruhani Syeikh Siti Jenar) karya Agus Sunyoto, atau “Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Klasik” (tentang perilaku vandalistis penganut Wahabisme) karangan SyeikhIdahram. Buku Kiai Mal An Abdullah, tentang Riwayat Syeikh Abdus Shomad Al-Falimbani, juga diterbitkan oleh Pustaka Pesantren.

Judul “Deterjen Ruhani” dipilih oleh editor Pustaka Pesantren mungkin sebagai rangkuman yang dianggap paling mewakili isi buku saya, atau mungkin juga karena alasan lain seperti aturan umum di dunia bisnis literasi bahwa sebuah buku/tulisan harus sudah menarik sejak dari judulnya, sehingga ia mudah diingat atau barangkali juga bisa menjadi magnet bagi pembaca. Wallahua’lam.

Yang jelas, sedari awal mengirimkan naskah, saya tidak memesan judul untuk calon buku saya itu. Saya menyerahkan sepenuhnya ke Penerbit. Dan saat pihak Penerbit mengonfirmasi bahwa buku saya lolos seleksi, dan akan diterbitkan di bawah payung Pustaka Pesantren, saya mengulang kembali pernyataan tersebut; bahwa buku itu bisa dan boleh diberi nama apa saja sesuai dengan kebijakan Penerbit.

Untuk konsumsi pribadi, atau untuk orang-orang dekat, sebetulnya saya sudah memikirkan judul sendiri. “Meniru Watak Tuhan”, yang saya petik dari judul artikel pertama dalam buku. Tapi, ndilalah, pas muncul di pasaran, buku itu memakai nama yang berbeda sama sekali dari apa yang saya pikirkan. Ya, yang mecungul (muncul) justru “Deterjen Ruhani” itu.

Tahu kalau judul yang diberikan penerbit tidak sesuai dengan ekspektasi, saya sih tidak protes. Saya malah mesam-mesem (senyum-senyum) saja. Lho kok?

Lha iya, wong judul dari Penerbit lebih keren dari judul kepunyaan saya sendiri. Wkwkwk.
Kapan “Deterjen Ruhani” diterbitkan?

Meski kita, khalayak literasi di Palembang, baru dapat memegang buku tersebut pada medio sampai akhir 2015, sebetulnya -sesuai dengan tahun terbit yang tertera di dalam identitas buku- ia sudah terbit dan atau mendapat ISBN sejak tahun 2012. Kenapa bisa begitu telat sampai di Palembang?

Begini…

Buku saya itu sejak mula oleh penerbitnya diberi status POD atau Print On Demand. Itu artinya, buku tidak dicetak sebelum ada yang memesan (mohon perhatikan perbedaan antara diterbitkan dan dicetak). Buku sementara dibiarkan dalam bentuk dummy (draft), sampai ada yang berniat untuk membeli.

Kebijakan seperti ini lumrah terjadi, terutama bagi penerbit-penerbit bermodal cekak dan atau tidak memiliki jaringan pemasaran yang luas laik penerbit-penerbit besar semacam Gramedia atau Mizan. Dengan demikian, buku hanya di-display secara online, tidak dipajang secara fisik di toko atau lapak atau gerai pada umumnya. 

Penerbit LKIS, atau juga Pustaka Pesantren, memang memiliki reputasi yang tinggi pada masanya dulu. Tapi siapa tahu, kini mereka didera degradasi, sekurang-kurangnya di aras permodalan. Dalam hal ini, saya ingat pernah membaca esai di Koran Jawapos yang mengeluhkan kondisi penerbitan buku yang kian lesu. Sebabnya banyak, diantaranya mahalnya harga kertas, ketergencetan oleh penerbit-penerbit bermodal besar, atau -ini yang paling penting- kian beralihnya pembaca (pangsa pasar) pada bacaan-bacaan online via internet. Untuk urusan yang disebut terakhir itu kita tahu sendiri; di internet sudah bertebaran artikel atau buku yang bisa diunduh gratis. Jadi, ngapain beli buku lagi?

LKIS, atau Pustaka Pesantren, bisa jadi mengalami kendala yang serupa, sehingga mengambil kebijakan beberapa bukunya diterbitkan secara POD. Atau mungkin juga karena alasan lain, seperti bahwa buku saya diperkirakan tidak laku di pasaran. Itu juga bisa. Alasan seperti itu logis saja.

Buku saya akan tetapi bukan buku yang diterbitkan secara indie. Artinya, penulis membiayai sendiri seluruh proses penerbitan, mulai dari cetak sampai pemasaran. Penulis dengan demikian hanya menyewa atau membeli merek penerbit. Inilah biasanya yang dilakukan oleh penulis-penulis, umumnya penulis baru, yang berpandangan asal bukunya terbit. Atau inilah pula yang terjadi pada beberapa dosen yang kerap memaksa mahasiswa membeli buku karangannya. Mereka mau modalnya segera balik.

Buku saya bukan juga terbit secara patungan, di mana pembiayaan ditanggung separuh oleh penerbit dan separuh lagi oleh penulis. Pernah memang, dulu, buku ini saya tawarkan ke penerbit IAIN Raden Fatah. Karena mereka menggunakan sistem patungan, maka saya pun enggan. Saya tidak sekaya Pak Aflatun Muhtar (Rektor IAIN, sekarang UIN, Raden Fatah Palembang). Hehehe.

Saya tidak juga menjual seluruh hak kepemilikan naskah kepada penerbit. Yang demikian ini biasanya dikenal dengan penerbitan borongan. Penulis menjual seluruh naskahnya, termasuk hak patennya, pada penerbit pada saat penyerahan naskah. Taruhlah 2 sampai 5 juta. Dan karena hak kepemilikan buku sudah jatuh ke penerbit, penulis pun tidak berhak lagi mengeklaim kepemilikan bukunya, termasuk barangkali keuntungan apabila buku ternyata meledak di pasaran, atau sebaliknya buku tersebut tak laku. Semua ditanggung penerbit.

Buku saya terbit dengan sistem royalti, di mana hak kepemilikan masih di tangan saya, dan akan jatuh ke tangan saya lagi setelah 2 tahun. Artinya, saat hak itu kembali kepada saya lagi, saya berhak untuk menerbitkannya di tempat lain. Sebaliknya, selama buku saya masih dalam proses penjualan oleh penerbit, saya sebetulnya berhak atas honor sebesar 20% dari harga bersih penjualan. 

Saya tidak sama sekali mengeluarkan uang untuk menerbitkan buku. Dan itulah salah satu isi dari perjanjian penerbitan yang ditandatangani kedua belah pihak, saya dan penerbit, pada tahun 2010. 

Sebetulnya, buku ini pernah “terbit” nyaris unofficial pada bulan-bulan terakhir tahun 2011. Saat itu saya sebetulnya juga bermaksud mengumumkan bahwa buku ini akan diterbitkan secara official oleh penerbit Pustaka Pesantren, Yogyakarta.

Momen terbit pertama kali itu, di mana draft naskah buku saya susun sendiri, termasuk desain sampul, dan lain-lain, serta masih mengambil judul “Meniru Watak Tuhan”, adalah juga momen penting dalam hidup saya. Ya, buku ini sebetulnya adalah buku yang sama yang pernah menjadi mahar alias mas kawin pada pernikahan saya.
Berapa lama proses penulisan “Deterjen Ruhani”?

Buku ini merupakan kumpulan esai keagamaan yang penyelesaiannya tidak ditargetkan secara khusus. 

Nyaris setiap sekali sepekan saya menulis esai keagamaan. Biasanya pada rabu malam kamis. Kenapa? Sebab esoknya esai tersebut mesti diterbitkan di Buletin Info Masjid Agung Palembang, dan didistribusikan pada hari jumat. 

Oleh Kiai Nawawi Dencik, saya ditunjuk menjadi pemimpin redaksi buletin itu pada pertengahan 2009. Waktu itu saya masih berdomisili di gudang/di kamar, di gedung bagian depan kediaman Kiai Nawawi, yang sekarang dialih fungsi menjadi Salon Muslimah. Di tempat yang secara serampangan saya sebut dengan nama “Vila Damai Al-Lathifiyyah” itulah saya menulis. Sementara esai-esai keagamaan pilihan dari buletin info masjid saya kumpulkan dan lantas coba-coba saya kirimkan ke penerbit pada tahun 2010.

Sebelum tahun 2010, saya tidak pernah memublikasikan tulisan untuk khalayak yang lebih luas daripada sekup pembaca Masjid Agung Palembang. Saya merasa tidak cukup yakin dengan kualitas tulisan saya.

Tetapi, salah seorang kawan baik, yang pada tahun-tahun itu bersama mendirikan dan mengelola sebuah majalah pendidikan bernama “Majalah Edukasi”, membujuk dan meyakinkan bahwa tulisan-tulisan saya cukup bagus dan layak untuk dikonsumsi umum. Waktu itulah, berkat dorongannya yang biasanya juga menjadi pembaca pertama tulisan saya itu, saya akhirnya menulis untuk beberapa surat kabar. Saya juga kerap ikut kompetisi dan, alhamdulillah, cukup sering menang. Lalu, satu dari beberapa puncaknya adalah kabar dari Yogyakarta bahwa kumpulan esai saya bakal diterbitkan oleh Pustaka Pesantren.

Kawan baik yang juga mendorong agar kumpulan esai saya diterbitkan itu, kelak pada tahun 2011, menerima bakal buku “Deterjen Ruhani” ini sebagai mahar pernikahan dari saya. Ayah ibunya memberikan nama padanya; Siti Alfiatun Hasanah.
Apa saja muatan Deterjen Ruhani?

Seperti sudah saya singgung sebelumnya, esai-esai dalam buku ini pada awalnya adalah editorial sebuah media massa yang berorientasi keagamaan. Hanya, berbeda dari editorial media massa pada umumnya, saya tidak secara khusus mengomentari persoalan-persoalan yang sedang hangat. 

Memang, ada beberapa tulisan yang berkaitan dengan konteks kekinian pada waktu itu, seperti esai berjudul “Selamat Jalan, Kiai”, yang saya dedikasikan untuk Gus Dur, atau “Terbakar Hasad”, komentar saya atas insiden kapal Mavi Marmara. Tapi tulisan yang seperti itu tidak cukup dominan, dan kalaupun ada, akan selalu saya belokkan ke arah keagamaan.

Selebihnya, esai-esai dalam buku ini saya tulis dengan dua garis panduan;

Pertama, sebagai komentar atau catatan atas teks khutbah yang dimuat, dan memang menjadi maqshudal-a’zham penerbitan buletin Info Masjid. Dengan editorial yang biasanya dicetak di halaman kedua buletin, saya bermaksud mengantarkan pembaca pada poin utama khutbah yang akan dibacakan para khotib di Masjid Agung Palembang. Esai berjudul “Sosialitas Shalat” misalnya, bisa disebut sebagai pelengkap naskah khutbah yang menjelaskan tentang dimensi sosial dari shalat yang sedianya akan dibacakan oleh khatib jum’at waktu itu. Kalau tidak salah Kiai Syarifuddin Ya’cub.

Saya akan tetapi juga tidak jarang mengkritik dan mengoreksi, biarpun (dan senantiasa saya usahakan) secara halus, materi-materi khutbah yang menurut saya kurang pas, atau setidaknya kurang lengkap, dalam pandangan saya. Esai berjudul “Sesal Sebelum Sesal” sebetulnya adalah kritik halus untuk khutbah yang hanya menekankan agar khalayak segera menyesali laku buruknya, dan menggantinya dengan amal baik. Memang harus begitu, tapi menurut saya anjuran itu kurang. Bahwa di balik penyesalan yang pernah kita lakukan, dan di balik perbuatan baik yang kemudian menggantikannya, terdapat peran yang amat penting dari Tuhan. Bahwa Dialah yang menerima penyesalan dan taubat seorang hamba atau tidak. Dengan esai tersebut, saya bermaksud agar pembaca tidak semata-mata mengandalkan amalnya belaka.

Kedua, catatan tentang topik-topik keagamaan tertentu, yang menurut anggapan saya cukup layak untuk diketahui pembaca. Biasanya, topik-topik tersebut, yang tak jarang dibumbui dengan cerita, saya peroleh dari pengajian guru saya, Kiai Djamaluddin Ahmad, Tambakberas, Jombang. Saya menukil ulang apa yang saya dengar dari pengajian, dan kemudian meramunya kembali dalam bentuk tulisan yang khas saya sendiri. Dengan begini, saya tidak saja berkepentingan untuk menge-share ulang pengajian Kiai Djamal, yang sudah barang tentu tidak dapat diterima oleh khalayak Palembang (karena menggunakan pengantar bahasa jawa), tetapi juga karena alasan yang sebetulnya sepele; bahwa saya cuma ingin mencatat penjelasan-penjelasan ilmu dari guru saya; sesuatu yang sudah sepatutnya dilakukan oleh seorang santri.

Selebihnya, bil khusus esai-esai yang diberi muatan alegoris (berisi cerita), saya menukil beberapa kitab, terutama kitab yang memuat cerita-cerita yang asing bagi telinga masyarakat pengajian di Kota Palembang. Satu kitab yang paling banyak saya rujuk adalah kitab An-Nawadir, karya Syeikhal-Qalyubi; ulama dan mufti Syafi’iyyah di Mesir. Seperti labelnya, kitab ini memang mendokumentasikan kisah-kisah aneh dan langka (nadir; tidak lazim).

Selain dua patokan di atas, buku ini secara umum berisi esai-esai dengan semangat meneguhkan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sejak awal diutus ke Masjid Agung Palembang, saya diwanti-wanti oleh Kiai Nawawi untuk turut membentengi Masjid Agung, khususnya, dan Kota Palembang, pada umumnya, dari serangan ideoleogi-ideologi baru yang berseberangan dengan Aswaja. Itulah juga alasan utama didirikannya MAPTV (Masjid Agung Palembang Telivisi), di mana saya belakangan ikut berkecimpung aktif.

Dengan demikian, apabila terdapat esai yang bernada akidah, maka itu adalah tulisan yang mengarahkan pembaca untuk memahami teologi Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur Al-Maturidi. Jika ada esai yang menyinggung bab fiqh, itu adalah tentang mazhab Syafi’i, satu dari empat mazhab mu’tabarah yang sejak awal termaktub dalam AD/ART Yayasan Masjid Agung Palembang. Dan kalau ditemukan esai yang membicarakan akhlak dan tasawuf, maka itu pasti tidak jauh dari pandangan-pandangan Imam Al-Ghazali, Imam Junaid al-Baghdadi, dan Imam Abu Hasan As-Syadzily.

Resiko yang timbul akibat pilihan ideologis ini bermacam-macam. Beberapa dari esai dalam buku ini terasa seperti menyerang pandangan keislaman yang lain, seperti misalnya pandangan anti-tahlil, anti-maulid, dan lain-lain. Sebaliknya, karena nomor ponsel pribadi saya juga tercantum di tubuh buletin, saya tidak jarang “diteror” barangkali oleh orang-orang yang enggan bersepakat dengan ideologi Masjid Agung Palembang.

Kebanyakan esai merupakan otokritik bagi perilaku keberagamaan kita sendiri, terutama kiblat keagamaan kita yang serba daging; serba lahiriyyah. Esai yang cukup baik menggambarkan kritik tersebut berjudul “Lahiriyyah Belaka”. Mungkin karena semangat otokritik inilah penerbit akhirnya memutuskan untuk memberi judul “Deterjen Ruhani”; agar kita kembali merawat sisi batin, meski bukan berarti saya berkata bahwa yang lahir itu tak penting.

Seorang kawan, setengah berkelakar, bertanya, “Apakah dengan membaca buku itu, hati saya langsung jadi bersih?”

Saya jawab, “Tergantung seberapa besar karat di dalam hatimu.” 

Melanjutkan timpalan itu, dalam hati saya membatin, “Karat yang lebih tebal akan membutuhkan buku sekaliber Ihya’ Ulumiddin Imam Ghazali atau Al-Hikam Ibn ‘Athaillah As-Sakandary, bukan buku ucak-ucak macam Deterjen Ruhani.” Hehehehe.

Selamat mencuci, eh, membaca!!!
Rumah Damai Sukawinatan, 29 Januari 2016

Turab al-Aqdam

Lukman Hakim Husnan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 30/01/2016 by in Essey.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: