Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Air dan Lokalitas

Thales (6thales_color-s24-548 SM) tak sedang mengigau ketika suatu saat meyebut bahwa Air adalah arche. Perjalanan ke Mesir, dan ke pelbagai belahan dunia yang lain,  membukakan matanya. Air menjalar di mana-mana. Laut, sungai, irigasi, dan sebagainya. Maka pertanyaan Thales kemudian berjawab. Apakah bahan yang membentuk segala sesuatu? Air, katanya. Bahwa, menurut Thales, water is the basic principle of the universe. Air adalah asal mula dan sekaligus menjadi prinsip yang mendasari segala sesuatu.

Tentu  saja, terasa amat naif membiarkan konsepsi Thales ini hidup di abad science dan technology seperti pada masa kita kini. Membayangkan bahwa air adalah mula dari segalanya pasti sangat spekulatif dan amat sulit dibuktikan. Barangkali kelak terbukti, air memang bukan arche buat semuanya, tetapi siapa bisa menyangkal kenyataan bahwa air memang segalanya –bukan saja buat kita, tetapi juga “ekosistem” lain di sekitar kita? Susah mengandaikan hidup tanpa air, apalagi air yang bersih dan sehat, seperti halnya amat sulit memikirkan hidup keseharian yang tanpa mandi, tanpa menanak nasi, tanpa merebus kopi, dibayangi paceklik padi, dihantui dehidrasi, dan seterusnya. Itulah sebabnya tidak berlebihan ketika disebut; “Water is everything”. Dus, kita tidak sedang mengigau.

Maka apa yang mesti dilakukan ketika kita tahu bahwa persediaan air mulai menipis?

Anda bisa mulai membuat sumur resapan bersama komunitas warga sekitar. Silahkan Anda membangun ruang terbuka hijau di seputaran rumah. Anda juga boleh sejak sekarang membikin lubang-lubang biopori di taman atau di halaman. Dan yang pasti, Anda mesti sedari kini membudayakan lakon hemat dalam penggunaan air. Dan saya? Bagi saya, mula-mula kita harus tidak memandang rendah kearifan lokal; tidak melihat dengan cara yang sama seperti cara kita menilai naif pemikiran Thales.

Karena itu sangat menarik, membaca artikel Agoeng Noegroho, dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unsoed Purwokerto, di Rubrik Wacana Suara Merdeka (02/03/2011). Ia bercerita tentang lelaku masyarakat Kalibening, Desa Dawuhan, Kabupaten Banyumas, yang menurutnya telah berhasil mempertahankan keutuhan alam dengan hanya bersandar pada kepercayaan, atau kita menyebutnya mitos –penamaan yang menurut saya sangat problematis. Konsepsi perihal “Pasucen Telung Lapis” (tempat bersuci tiga lapis) telah menumbuhkan komitmen masyarakat Kalibening untuk senantiasa bersetia kepada alam. Dan hasilnya, mata air Kalibening tak pernah pupus dari sifat jernih. Bahkan pada musim kemarau, mata air tersebut tak jua kering.

Lagi-lagi, saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya, jika kita (baca; manusia yang didik di lingkungan ultra-modern yang rasionalis nan kompetitif) itu berada di sana. “Wah, Kalibening bisa jadi lahan bisnis yang prospektif tuh!!! Persetan dengan danyang-danyang buah mitologi masyarakat.”

Barangkali hal seperti inilah yang terjadi di daerah saya, di Sumatera; ketika hutan-hutan ulayat perlahan dibabati demi sepeser pundi untuk hari ini. Pembangunan dioperasikan dengan cara menanam beton (mall, hotel, dan lain-lain, hingga kami sekarang kesulitan mencari rumah warga dengan pelataran tanah terbuka. Hanya ada semen, semen, dan semen. Kearifan lokal, juga hubungan baik terhadap alam, dikorbankan demi gengsi modernitas atau untuk janji vini, vidi, vici. Datang, perang, menang.

Inilah juga sebetulnya sasaran kritik Ayu Utami dalam Bilangan Fu. Tidak bisa tidak, agar hubungan kita dengan alam  bisa terperbaiki, cara berpikir kita yang keterlaluan  modern itu juga perlu sedikit direnovasi. Alam bukan ladang penaklukan, dan manusia tidak bisa melulu memposisikan diri sebagai satu-satunya penguasa sungai, laut, hutan –lebih daripada para dedemit, antu banyu (jenis hantu penghuni air yang dipercaya masyarakat Palembang), kalap, gandaruwo, dan sebagainya. Percaya tidak percaya, wangsa jin yang kerap “disembah” masyarakat lokal itu eksis dan hidup bersebelahan dengan kita.

Hari ini, kita dihadapkan pada krisis. Konservasi sumber air minum menjadi kebutuhan mendesak. Dalam pada itu, kita perlu mengintrospeksi diri; mengoreksi kesalahan-kesalahan yang sadar atau tidak telah kita lakukan selama ini. Kearifan masyarakat lokal, yang selama ini kita pandang dengan tatapan jorok, atau dengan cara berpikir yang eksploitatif, sudah waktunya dijadikan salah satu pertimbangan. Bukan untuk menyetujuinya, memang, tetapi cukup menghikmatinya.  Untuk masa akan datang yang lebih baik, apapun yang bisa kita lakukan sekarang, segera kerjakan! Cara-cara praktis ala urban (baca; metode-metode konservasi air secara mudah dan praktis seperti telah sedikit disinggung) memang layak diterapkan. Tetapi di atas segalanya, cara berpikir kitalah yang sebetulnya menentukan akan jadi apa masa depan kita semua.

Mari menjadi arif. Mari mengarifi lokalitas. Mari menghikmati Thales. Water is the basic principle of the universe.

 

Iklan

One comment on “Air dan Lokalitas

  1. Istanamurah
    04/04/2015

    benar sekali bahwa yang bisa menentukan masa depan kita ya kita sendiri dengan membuka pikiran yang arif..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 24/12/2012 by in Essey and tagged , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: