Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Anomali Jakarta

Rabu, 11 Juli 2012, warga ibukota berduyun menghampiri bilik suara. Mereka mencari sosok pemimpin. Ada enam pilihan pasangan; (1) Fauzi Bowo-Nahrowi Ramli; (2) Hendardji Supandji-Ahmad Riza Patria; (3) Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama; (4) Hidayat Nur Wahid-Didik J. Rahbini; (5) Faisal Bahri-Biem Benjamin; dan (6) Alex Noerdin-Nono Sampono.

Lepas pukul 13.00, saat prosesi Pemilihan Umum Kepala Daerah itu ditutup, orang ramai seolah memperoleh tontonan baru nan seru; kejar-kejaran hasil hitung cepat Pemilu. Yang terdahsyat dari semua itu adalah lahirnya kejutan demi kejutan. Di jalan Diponegoro 61, Jakarta Pusat, misalnya, teriakan “satu putaran” dari seratusan orang yang berada di sana mendadak surut. Hasil sementara quick count memperlihatkan gejala lain; Pilkada Daerah Khusus Ibukota Jakarta nampaknya akan berlangsung dua putaran. Para pendukung petahana, Fauzi Bowo, itu gusar. Di hadapan sorot media massa, mereka akhirnya mengubah seruan; “Fauzi Bowo maju terus”. (Majalah Tempo, 22 Juli 2012)

Bagaimana tak kaget? Sebelumnya, hampir semua lembaga survei opini publik mengunggulkan Foke-Nara (pasangan Fauzi Bowo dan Nahrowi Ramli). Setidaknya empat lembaga survei   –Indo Barometer, Sugeng Sarjadi School of Government, Lingkaran Survei Indonesia, serta Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis)– menyatakan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli bakal menang dengan tanpa susah payah. Lingkaran Survei Indonesia (LSI) malah sudah menujum; pasangan Foke-Nara menang satu putaran. “Foke masih populer di mata masyarakat,” tandas Direktur Citra Komunikasi LSI Toto Izul Fattah suatu kali. Tak ada yang menyangka, akumulasi suara Foke-Nara belakangan disalip oleh calon underdog; Jokowi-Ahok (pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama). Dalam hasil hitung cepatnya, LSI sendiri mencatat; Foke-Nara hanya memperoleh 33,57 persen suara, jauh di bawah Jokowi-Ahok yang mendapat 42,7 persen.

Sementara itu, kandidat-kandidat lain juga tak kalah terperanjat. Pasangan Alex Noerdin dan Nono Sampono, umpamanya. Selang sehari sebelum pencoblosan, tim sukses mengumumkan tingkat elektabilitas pasangan yang berslogan “tiga tahun bisa” itu mencapai 14,6 persen. Belum lagi, pasangan tersebut didukung oleh beberapa partai, diantaranya Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Damai Sejahtera, yang konon memiliki jumlah pemilih tradisional sekira satu juta orang. Itulah muasal kenapa para pendukungnya yakin Alex-Nono bakal melenggang ke putaran dua. Tetapi tak dinyana, perolehan calon yang juga didukung oleh pembiayaan kampanye lumayan gigantik itu terbanting. Mereka bahkan dipaksa bertekuk lutut oleh pasangan jalur non-partai (independen), Faisal-Biem, yang dana kampanyenya jauh di bawah. Dikutip dari Kompas, berikut adalah hasil akhir rekapitulasi penghitungan suara Pilkada yang dirilis Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta :

– Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama 1.847.157 (42,60 persen)

– Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli 1.476.648 suara (34,05 persen)

– Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini 508.113 (11,72 persen)

– Faisal Basri-Biem Benjamin 215.935 (4,98 persen)

– Alex Noerdin-Nono Sampono 202.643 (4,67 persen)

– Hendardji Soepandji-Riza Patria 85.990 (1,98 persen)

Dus, inilah barangkali Pilkada yang penuh dengan anomali. Dukungan dana, sokongan partai, statistik lembaga survei, bahkan posisi sebagai incumbent, tak segera jadi jaminan. Laik pertandingan bola kaki, sebuah Pilkada –dan apalagi Pilkada Ibukota– pada akhirnya tak berhenti di atas kertas. Taktik, strategi, juga faktor keberuntungan, yang mungkin saja hanya berlaku di tengah lapangan, tidak boleh diabaikan.

Tak satu setan pun tahu apa yang sebetulnya dikehendaki oleh rakyat Jakarta. Untuk itu kemudian tercetus pelbagai analisis –meski buat lembaga-lembaga survei yang tebakannya meleset, eksplanasi itu berubah aroma menjadi apologi. Kenapa perolehan suara Jokowi-Ahok meroket, berbanding terbalik dari data yang ditunjukkan lembaga-lembaga survei?

Dodi Ambardi, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia, menulis sebuah kolom di Majalah Tempo (idem). Menurutnya, ada beberapa hal yang selama ini terabaikan oleh lembaga-lembaga survei. Salah satunya adalah perihal komposisi demografi pemilih Jakarta yang atypical (memiliki karakter berbeda dari rerata nasional). Bahwa, proporsi pemilih Jakarta yang berpendidikan S-1 ke atas sebesar 21 persen berada jauh di atas rerata nasional. Ini seharusnya membuat lembaga-lembaga survei menentukan parameter untuk memahami perilaku pemilih Jakarta; sejauh mana mereka jujur menjawab pertanyaan survei. Singkatnya, kenapa prediksi lembaga-lembaga survei keliru? Jangan-jangan, selama ini mereka terlanjur percaya diri, tanpa sadar telah dikibuli oleh sample-nya sendiri.

Tentu saja, hanya ada dua kemungkinan informasi yang bisa kita peroleh dari narasumber yang diberi pertanyaan, yakni jujur atau bohong. Persoalan bisa jadi lain apabila “narasumber” itu berceloteh, mengeluh, berargumen, mengutuk, mencemooh, atau menunjukkan dukungan dengan tanpa diminta. Kejujuran seseorang memang masih akan sulit dideteksi, tapi setidaknya perasaan “terintimidasi” oleh peneliti/pengamat terasa berkurang. Kejujuran mungkin tak bisa dipastikan, tapi bagaimana dengan “emosi” –yang sekarang bisa kita tulis dan kita baca di mana-mana, di re-tweet, komentar, dan tempat-tempat lain? Ya, hari ini kita punya facebook, twitter, blog, dan lain sebagainya. Di sinilah setiap orang diperbolehkan mengoceh tanpa perlu merasa dikendalikan oleh pihak di luar dirinya sendiri.

Efektifitas terkait spekulasi metodik di atas memang masih patut diuji. Tapi keberhasilan Jokowi-Ahok pada pilkada putaran pertama sebenarnya sudah “dibaca” oleh Politicawavesebuah platform yang secara komprehensif memantau media sosial.

Mulanya, seperti disebut Tempo, Jokowi-Ahok adalah pasangan yang paling “berkuasa” di Twitter dan Facebook. Tetapi, memasuki bulan April 2012, pasangan Foke-Nara –yang sebelumnya paling sedikit dipercakapkan di media sosial– mulai ikut bergerilya. Hingga akhir April, jumlah buzz (percakapan yang terjadi atas suatu brand di media sosial) pasangan Foke-Nara kian meningkat dan bahkan mengungguli Jokowi-Ahok.

Meski merajai percakapan di linimasa, Foke-Nara belum tentu benar-benar unggul. Kenapa? Sebab citra yang ditampilkan dalam tiap-tiap perbincangan mengenai pasangan ini cenderung terpuruk. Politicawave menunjukkan bahwa nilai Net Brand Reputation –nilai bersih reputasi sebuah brand; total mention positif dikurangi total mention negatif– milik Foke-Nara amat buruk (-30,54). Sementara itu, nilai Brand Talkable Favourability –pengukuran percakapan suatu brand yang dianggap positif, netral dan negatif– Foke-Nara (58,66) berada cukup jauh di bawah Jokowi-Ahok (73,41). Citra Foke-Nara hanya menang dari pasangan Hendardji-Reza yang memperoleh Brand Talkable Favourability sebesar 54,29.

Sejak awal, Jokowi-Ahok diuntungkan oleh pemberitaan positif media massa. Seperti disebut Burhanuddin Muhtadi, “Jokowi memang media darling (kesayangan media).” Banyak orang, bukan hanya masyarakat Jakarta, dibuatnya simpati. Ini berkebalikan dari apa yang dialami oleh Fauzi Bowo dan Nahrowi Ramli. Selama masa kampanye putaran pertama, Foke-Nara dikenal sebagai sosok yang arogan. “Jika tidak ada perubahan gaya tim Fauzi dalam mendekati massa,” kata peniliti LIPI, Jaleswari Pramodhawardani, “putaran kedua akan memperbesar kemenangan kubu Jokowi-Ahok.” (Majalah Tempo, idem)

Lebih dari sekedar pencitraan melalui media massa, simpati yang diperoleh Jokowi pada putaran pertama Pilkada juga bisa ditandai sebagai protest voting –seperti disinyalir Dodi Ambardi. Jika betul demikian, pilihan warga Jakarta selama ini ditentukan oleh gelombang ketidakpuasan terhadap kinerja petahana. Mereka akhirnya memberikan dukungan pada penantang untuk mengekspresikan perlawanan tersebut.

Sampai tanggal 2 September 2012, Politicawave menunjukkan total buzz yang signifikan untuk pasangan Jokowi-Ahok. Dalam tabel candidate electability Jokowi juga mengungguli Foke. Di linimasa, reputasi (net reputation) Jokowi juga tergolong baik (0,4). Sementara itu, nilai Foke masih negatif (-31,81).

Kini, tibalah kita pada pertanyaan pamungkas; “Siapakah dari kedua calon Gubernur yang tersisa yang akan menjadi pilihan warga Jakarta?”

Ah, kita tak sedang berjudi bola. Betapapun lembaga-lembaga survei sama “tiarap” pada putaran kedua Pilkada Jakarta ini, kita belum bisa berandai-andai. Barangkali, tak seperti iman Enstein, Tuhan memang sedang bermain dadu di Pilkada Jakarta? Barangkali juga, Jakarta memang betul-betul sebuah anomali?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 02/09/2012 by in Journey and tagged , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: