Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Tak Perlu Petrus

Momok itu bernama premanisme. Setelah Ayung (Tan Hari Tantono), bos PT. Sanex Steel, terkapar tewas di kamar 2701 Swiss-Bel Hotel, publik kian gelisah. Berturut-turut, juga sesudah John Kei (terduga pembunuh Ayung) dicokok, adegan-adegan premanisme membuat masyarakat tambah resah.

Kamis (23/02), puluhan orang menggeruduk RSPAD Gatot Subroto. Sebagian memegang senjata tajam. Tiba-tiba, kawanan itu menyerang rombongan pelayat Bobby Sahusilawane. Akibatnya, empat pelayat luka-luka dan dua yang lain meninggal dunia. Serangan itu diduga terkait bisnis narkoba. (Majalah Detik, 27 Februari 2012)

Apakah, seperti kata TB. Hasanuddin, Anggota Komisi I DPR, “negara telah hampir kalah oleh premanisme”?

Terutama di ibu kota, gejala premanisme tidak saja mengambil bentuk gerombolan mafia; geng-geng yang merujuk pada asal daerah. Kelompok Kei umpamanya, rata-rata dihuni oleh jawara-jawara dari Pulau Kei, Maluku. Tetapi lebih dari itu, gerakan preman kini juga mewujud dalam organisasi kepemudaan dan atau organisasi masyarakat (ormas). Beberapa anggotanya juga tak main-main; bersertifikat sarjana.

Di lain sisi, laku-laku preman diperagakan oleh sejumlah organisasi sosial keagamaan. Dengan menyaru sebagai juru dakwah, orang-orang ini menggebuk apa saja yang mereka tuding sebagai sarang maksiat. Dalih keagamaan dipakai untuk membenarkan aksi-aksi anarkis.

Lebih meresahkan, kelompok-kelompok kekerasan ini kerap saling terlibat baku pukul di antara mereka sendiri. Insiden Blowfish (Wisma Mulia), misalnya, masih lekat dalam ingatan. Saat itu kelompok Angkatan Muda Kei bertarung melawan massa Thalib Makarim dari Flores Ende. Beberapa saat yang lalu juga terdengar kabar bentrok antara massa Forum Betawi Rempug (FBR) dan massa Pemuda Pancasila (PP).

Apapun motifasinya, yang konon umumnya berlatar perebutan lahan bisnis, premanisme harus dilawan. Sebelum setiap orang merasa diperbolehkan untuk main hakim sendiri, aparat negara harus segera turun tangan.

Memang ada sementara analisis, kelompok-kelompok preman itu sebetulnya dibiarkan hidup (dipelihara?) oleh klik-klik politik tertentu, tidak terkecuali juga aparat. Tetapi sangkaan negatif tersebut sebenarnya bisa segera ditepis jika saja negara mau bertindak lebih tegas.

Dulu, pada masa orde baru, buncahan premanisme dibasmi dengan cara yang tak lazim. Preman-preman ditandai dan kemudian dibunuh secara misterius. Petrus, sebutan bagi para penembak misterius itu, lantas membuat gentar kawanan preman pada tengah 80-an.

Kini, kita tak perlu petrus-petrus macam itu lagi. Ikhtiar yang lebih manusiawi, asal tegas dan bertanggung jawab, masih bisa dilakukan. Kita boleh resah, tapi kita tak diperkenankan putus asa. Cukup berikan contoh kepada para pelaku premanisme, bahwa negara juga punya taji. Bahwa preman juga tak kebal hukum. Indonesia adalah negara hukum yang semestinya dikelola sesuai tatanan hukum. Indonesia bukan negeri preman, tak perlu preman, dan tak butuh cara-cara preman.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 06/03/2012 by in Journey and tagged , , , , , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: