Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Yang Muda, Yang Beragama

Semacam resensi atau bisa juga salinan ringkas. Tapi esai yang ditulis pada tengah 2011 ini dianggap sebagai “tutorial” bedah buku yang digelar Ikatan Remaja Masjid Agung (IRMA) Palembang. Setidak-tidaknya, itulah barangkali yang menggelayut di benak narasumber pembedah, yang semestinya penulis buku itu an sich (Prof. Jalaluddin); yaitu Ketua Umum Yayasan Masjid Agung Palembang; Drs. H. A. Anshori Madani, M.Si. Oh ya, buku itu berjudul “Fiqh Remaja”.

Remaja adalah ambang utama menuju kedewasaan. Di sinilah perjalanan hidup seorang anak manusia menemukan momentum yang amat krusial alias menentukan. Seorang remaja, terutama yang hidup pada zaman serba tak menentu ini, dihadapkan kepada pelbagai persoalan pelik. Selain masalah-masalah khas terkait perkembangan biologis dan psikologis, seperti bahwa pada fase ini ia menemukan dirinya tiba-tiba mengeluarkan darah –haidh (bagi perempuan), ransangan seksual yang meletup (pubertas), dan lain-lain, ia juga ditantang oleh perjumpaannya dengan apa yang dalam buku ini disebut sebagai isme-isme bikinan manusia, atau boleh juga disebut paham-paham yang mirip dengan agama, yang kalau tidak diarifi dengan tepat bisa berakibat fatal.

Karenanyalah diperlukan upaya pendampingan secara bertanggung jawab untuk melalui fase transisional ini. Buku yang sedang dibahas, Fiqh Remaja; Bacaan Populer Remaja Muslim, menyanggupi kebutuhan tersebut. Ditulis dengan bahasa populer, buku ini semakin meneguhkan keluasan wawasan sang Profesor (Prof. Dr. H. Jalaluddin, penulisnya). Di sini, Anda akan menemukan hampir seluruh jawab dari pertanyaan yang menggelayut di benak remaja masa kini, yang dikemukakan dengan uraian segar, lincah, serta sederhana (meski bukan menyederhanakan). Tidak kurang, buku ini bisa menjadi teman dan sahabat, sekaligus pembimbing dan ustadz, buat para remaja kita.

Untuk sebuah tujuan penulisan yang cukup prestisius, yakni menumbuhkan semangat pada remaja supaya mencintai agama Islamnya, buku ini tidak digubah secara kaku (tidak doktriner dan menggurui). Di sana-sini, dan inilah yang menjadi salah satu kelebihan buku ini, ditemukan pilihan kata yang akrab di telinga remaja, seperti ente, lu, gue, nah, dan seterusnya, dibarengi dengan kelakar-kelakar yang menggugah. Berbeda dari kesan sampulnya yang feminin dan cukup “sangar”, buku ini siap untuk segera dikonsumsi para remaja (kendati juga sangat baik dibaca oleh kelompok usia yang lain) dengan cara yang fun. Setelah membacanya, mari kita bersiap menyambut lahirnya generasi baru; generasi muda yang beragama. Mengutip judul sebuah program yang pernah poluler pada sebuah stasiun televisi; yang muda yang beragama.

Mengenal Akar-Akar Ajaran Islam

Sebelum mempelajarinya lebih jauh, kita musti mengetahui dari mana dan dengan cara apa saja ajaran-ajaran agama Islam digali. Hal ini sangat penting, sebab hanya dengannyalah agama Islam dapat dibedakan dari ajaran-ajaran yang lain. Ya, Islam berbeda dari Kristen, Budha, Hindu, Konghuchu,  atau Marxisme, Eksistensialisme, Rasionalisme, dan lain-lain, karena agama Islam mendasarkan ajaran-ajarannya pada Al-Qur’an, Al-Hadits, Ijma’ dan Qiyas (empat sumber hukum Islam yang disepakati, selain sebetulnya ada juga sumber-sumber hukum yang lain yang tidak menjadi kesepakatan ulama seperti istihsan, mashlahah mursalah, ishtishab, dan sebagainya).

Al-Qur’an adalah kitab suci kita sebagai umat Islam, yang dalam buku ini didefinisikan dengan “wahyu Allah yang disampaikan kepada Rasul-Nya, Muhammad Saw, dalam bahasa arab yang khusus, dengan perantaraan malaikat Jibril As, secara mutawatir dan bertahap, dalam kurun waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari, terdiri dari 114 surat yang tersusun secara sistematis dari surat Al-Fatihah hingga An-Nas, dan yang merupakan mukjizat serta membacanya adalah ibadah”. (11-12)

Nah, dari pengertian di atas kita tahu bahwa sumber paling pokok ajaran agama kita, Al-Qur’an adalah betul-betul firman Allah, bukan seperti dituduhkan oleh para orientalis bahwa Al-Qur’an hanya bualan Muhammad, yang kebenarannya tidak mungkin disangsikan lagi. Al-Qur’an inilah yang sampai ke tangan kita secara mutawatir, alias diriwayatkan oleh orang banyak yang tidak mungkin secara adat sepakat untuk berdusta. (12)

Al-Qur’an yang berada di hadapan kita sekarang adalah Al-Qur’an dalam keasliannya yang sudah dijamin bahkan oleh Allah sendiri. Darinyalah mula-mula ajaran Islam dibentuk.

Dan kemudian, karena beberapa hal di dalam Al-Qur’an masih memerlukan penjelasan, seperti tata cara shalat –dimana Al-Quran hanya memerintahkannya belaka, dibutuhkan pencerahan dari seorang Rasul. Ya, Nabi kita Muhammad Saw, sang manusia sempurna (insan kamil) yang dijamin tak pernah “salah” (ma’shum) itu, menjelaskan bagian-bagian yang masih umum dan ambigu dari Al-Qur’an. Sumber kedua inilah yang sekarang kita kenal dengan sebutan Al-Hadits.

Ketika Rasul masih hidup, segala persoalan menyangkut agama ditanyakan dan dijawab langsung oleh beliau. Sepeniggal beliau, para sahabat menemukan kasus-kasus tertentu yang penyelesaiannya tidak diperoleh dari Al-Qur’an dan Al-Hadits. Maka mereka pun berijtihad. Hasil ijitihad tersebut kemudian mereka diskusikan bersama hingga tercapai kesepakatan. Inilah yang disebut dengan Ijma’, yaitu kesepakatan seluruh ahli (ulama) pada suatu masa. Dilansir dalam buku ini, bahwa diperkirakan setelah periode khulafa’ur rasyidin (khalifah empat) sudah amat sulit terjadi Ijma’ sebab daerah kekuasaan Islam yang semakin meluas. Para fuqaha (pakar hukum Islam), bertebaran di mana-mana, sehingga amat sulit untuk merumuskan kesepakatan bersama. (39)

Akibatnya, para ulama kini hanya mungkin berijtihad secara individual, atau paling tidak merumuskan kesepakatan pada regional tertentu, mewakili masyarakatnya masing-masing –bukan keseluruhan dunia Islam (sebagai syarat Ijma’). Salah satu metode ijtihad yang disepakati adalah qiyas, yakni membandingkan dan mempersamakan hukum suatu persoalan yang belum diketahui dengan persoalan yang sudah diketahui hukumnya dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits (atau bahkan dari kumpulan Ijma’ dari ulama sebelumnya). Contoh konkretnya adalah eksekusi haram buat semua minuman keras. Sebelumnya Al-Qur’an mengharamkan khamar (minuman keras dari kurma), dan bagaimana dengan yang berbahan baku non-kurma? Secara qiyas dihukumi haram, karena memiliki kesamaan illat (sebab) yaitu memabukkan dan kesamaan akibat yakni merusak akal sehat. (42)

Al-hasil, prosedur normal pengambilan keputusan hukum Islam secara berturut-turut adalah mencari jawab pada Al-Qur’an, kemudian mencari penjelasan dalam Al-Hadits, diteruskan mencari jawab pada hasil-hasil Ijma’, dan lalu produk-produk qiyas para mujtahid dan atau imam madzhab.

Menanam Fondasi Agama Islam

Dikutip dari buku ini, bahwa Rasul Saw bersabda, memberikan penjelasan tentang Islam: “Islam dibangun atas lima prinsip; (1) kesaksian bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah; (2) mendirikan shalat; (3) mengeluarkan zakat; (4) berpuasa di bulan Ramadhan; (5) menunaikan haji.

Rasul mengilustrasikan Islam sebagai sebuah bangunan. Di situ terdapat fondasi yang tanpanya Islam akan roboh. Kita juga mengenal fondasi tersebut dengan sebutan familiar, yakni rukun Islam, yang ada lima. Menjadi muslim, atau dengan berislam, berarti kita harus menunaikan kelima kewajiban pokok tersebut secara tuntas.

Syahadat berarti penyaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul-Nya. Yang disebut sebagai penyaksian bukan sekedar luapan mulut belaka, ketika kita membaca asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. “Bersaksi dalam ungkapan kata-kata, sama sekali tak ada gunanya,” tukas Pak Prof. Lebih dari itu, syahadat adalah prinsip dan keyakinan yang kukuh di dalam hati. Ya, pernyataan lisan hanya bermakna apabila ia timbul dari  pengakuan hati. Semua ini memang tidak akan tumbuh seketika. Perlu upaya terus menerus untuk membuktikan, merenungkan, dan menghayati syahadat. Buku ini menawarkan banyak ilustrasi cerdas serta mengajak kita untuk mengasahnya. (61-63)

Rukun-rukun selanjutnya merupakan pembuktian ikrar dari apa yang telah kita ucapkan (syahadat). Jika benar ikrar kita didorong oleh kesadaran batin yang paling dalam, selanjutnya kita diajak untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, hal yang memang menjadi kebutuhan mendasar dari manusia. (81)

Salah satu caranya adalah dengan dzikir. Dalam QS.13:28 disebutkan, “ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. Pada titik ayat yang lain Allah juga berfirman, “dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku”. Ya, rukun kedua (shalat), tak kurang adalah gambaran hubungan hamba dengan Tuhannya dalam bentuk pengabdian total, jiw dan raga. Hubungan tersebut telah diatur menurut cara dan syarat yang telah ditentukan oleh Allah sendiri, seperti telah dicontohkan oleh Rasul-Nya. Di sinilah arti penting dari bersuci, semisal wudhu, mandi, membersihkan diri dari najis, belajar membaca Al-Qur’an, mengetahui waktu, dan sebagainya. Semua itu berkaitan dengan norma-norma serta etika perhubungan kita dengan Allah Swt.

Rukun selanjutnya adalah puasa, yaitu menahan diri dari lapar dahaga dan dorongan seksual di bulan Ramadhan. Pada bulan inilah juga diwajibkan membayar zakat (fitrah). Kedua jenis rukun islam ini memiliki filosofinya masing-masing, di mana puasa mensyaratkan tingkat keimanan individual yang tinggi (bayangkan siapa orang lain tahu kalau kita berpuasa, kalau bukan kita sendiri dan Allah), sementara zakat mengandaikan adanya kepekaan sosial (buku ini menyebut kesalehan sosial ilahiyat, yang bermakna kepedulian sosial yang berasaskan kesadaran, keikhlasan, dan keimanan kepada Allah Swt).

Rukun terakhir adalah haji, mengunjungi kakbah untuk beribadah kepada Allah Swt pada waktu tertentu. Ibadah haji dinilai sebagai bentuk ibadah yang terberat karena mensyaratkan ketersediaan biaya, kondisi kesehatan yang prima, dan keamanan perjalanan.

Demikianlah fondasi agama Islam kita tunaikan untuk semakin mendekatkan diri kita kepada Allah Swt. Disamping itu, untuk menambah kualitas kedekatan dan penghambaan, dianjurkan untuk melakukan ibadah-ibadah sunnah yang lain, yang wujudnya sangat berupa-rupa, seperti shalat sunnah, puasa sunnah, sedekah sunnah, dan sebagainya.

Menebar Benih Kebaikan di Tengah Masyarakat

Manusia datang ke dunia ini bukan tanpa tujuan sama sekali. Ia adalah makhluk Allah, yang berjalan menuju kepada-Nya, sekaligus sebagai makhluk yang berorientasi kemasyarakatan. Oleh karenanya, Islam menentang cara pandang filsafat kebanyakan yang menyejajarkan manusia sebagaimana benda-benda mekanis atau ada juga yang menyamakan manusia dengan hewan.

Salah satu aliran filsafat yang paling terkenal, dan yang teorinya dipelajari oleh siswa-siswa remaja di sekolahnya, adalah teori Darwinisme. Menurut teori ini, manusia adalah hasil proses evolusi dari kera. Walaupun sekedar teori, yang mungkin benar mungkin salah, darwinisme memiliki implikasi serius ketika dipraktikkan pada tataran kehidupan. Seakan-akan manusia tidak sama sekali memiliki orientasi spiritual dan sosial.

Sebagai muslim, kita musti meyakini kebenaran informasi yang dikutip dari agama yang kita peluk. Pada QS. 51:56, Allah menyatakan: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. Manusia juga diperintahkan untuk menjadi khalifatullah di muka bumi (QS. 2:30), dan sekaligus memakmurkannya (QS. 11:61). Di sinilah arti penting dari bermasyarakat, terutama bagi para remaja yang menyongsong fase kedewasaan.

Ternyata manusia tidak hidup sendirian. Ia bukan makhluk individual yang dapat hidup sendiri dan menyendiri. Manusia adalah makhluk sosial yang hidupnya memerlukan teman dan masyarakat. Berbuat baik kepada sesama, membangun hubungan baik bersama masyarakat (mu’asyarah), menjadi amat penting

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 05/03/2012 by in Ghost Writing and tagged , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: