Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Musik Tanpa Politik

Ada suatu masa ketika musik menjadi amat dekat dengan politik. Anda yang membaca Ayu Utami, dalam Manjali dan Cakrabirawa, akan menemukan bahwa melodi kalimat pertama lagu Surat buat Wakil Rakyat-nya Iwan Fals tak lain adalah melodi lagu Genjer-genjer. Telinga generasi Ungu yang hidup pada tahun 2010 barangkali tidak akrab dengan lagu yang disebutkan terakhir. Genjer-genjeradalah sebuah lagu yang pernah sangat terkenal di tahun 60-an. Tetapi Genjer-genjer populer pada saat yang tak tepat. Sebab ia acap diperdengarkan dalam pagelaran-pagelaran yang diselenggarakan oleh PKI. Sebab itulah Genjer-genjer pun lantas menjadi identik dengan Gerwani.

Seperti kata Ayu, tidak ada yang politis dalam lagu ini. “Syairnya bercerita tentang tumbuhan genjer yang banyak tumbuh di ceruk berair, yang bisa dipanen para wanita, dijual di pasar, dan dipotong-potong dan dimasukkan dalam kuali sebagai sayur,” tulis penerima Khatulistiwa Literary Award 2008 itu. Tapi Gerwani adalah kawanan siluman wanita yang memotong kelamin para Jenderal, yang belakangan dikenal sebagai Pahlawan Revolusi. Dan, ingat atau tahukah kita, pada tatahan relief Monumen Pancasila Sakti, digambarkan para wanita Gerwani sedang menari-nari setengah telanjang sambil, tentu saja, melantunkan Genjer-genjer. Alhasil, seperti PKI dan Gerwani, lagu Genjer-genjer pun mengalami nahas yang sama. Pemerintah Orde Baru membenamkannya ke dalam tanah bersama tak kurang dari satu setengah juta tubuh manusia.

Iwan Fals memang nyaris PKI. Pemerintah Diktator Orde Baru (PDOB), mengacu pada penjelasan John Roosa, yang bukunya Dalih Pembunuhan Massal turut “dibakar” oleh Kejaksaan pada penghujung tahun 2009, adalah rezim yang dibangun di atas sebuah kesadaran bahwa Negara ini melulu berada dalam kondisi darurat. Kata kuncinya adalah PKI. Betapa komunis adalah bahaya laten yang senantiasa menjadi ancaman buat bangsa ini. Maka organisasi apapun yang memiliki keterkaitan dengan ideologi Marxis-Leninis mesti disingkirkan. Bukan itu saja, PDOB juga memaklumkan “organisasi-organisasi tanpa bentuk” sebagai gerombolan terlarang. Lihatlah betapa ambigu sebutan itu, sehingga setiap orang, kawanan, kelompok, kumpulan, yang bersikap kritis terhadap kebijakan Pemerintah dengan gampang(an) dimasukkan ke dalam list pembangkang. Mereka komunis.

Dan Iwan Fals betul-betul hampir komunis, kalau saja ia tidak memainkan alat musik. PDOB, rupa-rupanya geram kepada mereka yang banyak omong. Soeharto tidak membenci penyanyi. Iwan Fals tak sesial Wiji Thukul, penyair yang aktif menggalang demonstrasi mengecam Orde Baru, dan kemudian dinyatakan hilang. Iwan Fals hanya bernyanyi, ia tak banyak berorasi, meski lagu-lagunya kerap didendangkan dalam demonstrasi-demonstrasi, dan meski ia sempat disekap selama beberapa hari sesaat sesudah turun panggung di Pekanbaru, Riau, pada tahun 1984. Seperti diceritakannya kepada Andi Noya dalam Kick Andy, setelah 14 hari penahanan serta interogasi, Iwan dibebaskan. Ia dinyatakan tak bersalah setelah dituduh mencemarkan nama baik kepala dan ibu Negara dalam lagu berjudul Mbak Tini; berkisah tentang seorang pelacur yang membuka warung nasi dan yang memiliki suami bersama Soeharyo. Pada konser itu, Iwan memelesetkan Soeharyo menjadi Soeharto.

Tetapi Mbak Tini tak pernah sama sekali dirilis, sementara Surat buat Wakil Rakyatmasih bisa didengar hingga hari ini. Lagu yang melodi awalnya mirip dengan lagu Genjer-genjer. Tidak jelas betul apakah Iwan Fals sengaja memasukkan unsur Genjer-genjer ke dalam lagunya itu. Sebagai seorang kritikus Orde Baru, menyusupkan elemen-elemen subversif seperti dalam lagu Genjer-genjer yang mungkin saja sudah pernah ia dengar sebelumnya, tentu bukan perkara sulit. Pun, melihat lagu-lagunya yang cenderung bernada sosialis, bukan tidak mungkin apabila kita kemudian berasumsi bahwa Iwan pun barangkali telah membaca naskah-naskah komunis juga, setidak-tidaknya ia pernah tergoda dengan keseksian kaum kiri (mengutip Goenawan Mohamad), termasuk barangkali sejarah PKI dan Gerwani. Untuk itu memang diperlukan serangkaian pembuktian, analisa dan wawancara, lebih jauh. Kita tahu, legenda musik Indonesia itu masih hidup. Dan pembuktian itu bukan pretensi tulisan ini, sehingga penulisnya terpaksa mencukupkan diri dengan ide tentang kebetulan.

Ya, mungkin saja melodi kedua lagu itu kebetulan mirip. Tak ada maksud ideologis sama sekali dalam penciptaan lagu Surat buat Wakil Rakyat, terutama jika harus dihubung-hubungkan dengan ideologi komunis, kecuali bahwa ia sekedar kritik atas perilaku para wakil rakyat kita yang tak kunjung “bener” –lagu itu masih cukup relevan untuk didengar lagi hari ini. Iwan memang tak hendak menghidupkan lagi Genjer-genjer. Atau? Atau PDOB yang tak menyadarinya? Dan kita sendiri baru sadar belakangan?

Tak satu setan pun tahu.

Yang jelas, kedua lagu itu memiliki nasib yang berbeda. Takdir yang tak sama juga dilakoni para penyanyinya. Genjer-genjer dilarang, dan Surat buat Wakil Rakyat melenggang. Wanita sinden Genjer-genjer dibikin mati, atau dibui dengan tanpa pengadilan sama sekali, sementara Iwan Fals masih terus bernyanyi. Tak terbayangkan bagaimana jadinya apabila PKI betul-betul menang (saat itu PKI diprediksi bakal memenangkan Pemilu jika saja tidak ada skenario G 30 S yang menjadi batu pijak pemberangusannya oleh rezim Orde Baru). Barangkali Genjer-genjer dipilih menjadi tembang terbaik sepanjang masa? Mungkin saja. Dan Iwan Fals? Kamerad Iwan menjadi pimpinan paduan suara pada setiap tanggal 07 Oktober –peringatan Revolusi Bolshevik. Lagu utamanya; Internationale. Hem…

***

Betapapun, penulis bukan simpatisan PKI. Ia tak berkepentingan untuk berbahagia kapan pun jasad partai berlambang palu arit itu tiba-tiba bangkit lagi. Penulis juga bukan aktifis neo kiri. Ia, meski kerap didesak untuk turut turun, belum sekalipun terlibat dalam aksi-aksi jalanan menolak ideologi neo liberal. Ya, betapapun penulis acap kedapatan membaca literatur-literatur kiri, ia sebetulnya tak begitu suka dengan ingar bingar organisasi. Ide boleh saja sepakat, tapi cara pelampiasan bisa jadi lain.

Saya termasuk satu dari sekian banyak orang yang mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals. Dan jujur saja, saya termasuk yang kecewa karena Bang Iwan tak lagi menyenandungkan, bukan meneriakkan, kritik-kritik sosial lagi; lelagu politis nan cerdik yang membuhulkan berjuta kesan.

Terus terang, seperti yang lain-lain, saya tidak terlalu memedulikan musikalitas. Telinga saya mendengarkan musik sebagai alat untuk berelaksasi. Saya tidak begitu mengerti genre-genre musik. Naïf barangkali, ketika Anda menemukan saya sebagai pembaca lirik lagu dan bukan pendengar atau penikmat “musik”.

Tapi apapun, kritik sosial di dalam lagu, atau musik yang membungkus sebuah tema sosial politik, adalah urgens. Tak peduli dibawakan oleh siapa. Iwan Fals muda –saya memakai istilah ini begitu teringat bahwa karl Marx juga dicirikan dalam dua periode, barangkali hanya contoh. Permisalan yang betapa konsisten, sebelum kemudian ia terjerembab ke dalam melankoli.

Musik adalah, pertama-tama, seberkas sensasi pada indera pendengaran. Tetapi musik juga, meminjam disiplin semiotika, sepatutnya menjadi “tanda” yang merepresentasikan pesan dan atau kegelisahan zaman.

Sepatutnya, bukan seharusnya. Musik memang tak semestinya melulu berkutat pada hal-hal berbau politis. Kalau memang harus begitu, apa bedanya dengan zaman terpimpin dulu, ketika politik didapuk menjadi panglima. Waktu kesenian dan kesusasteran dipelintir untuk mendukung rezim politik.  Saat Koes Plus dibui. Tetapi juga apa bedanya dengan ketika musik “dilarang” untuk membicarakan tabu-tabu politik seperti pada masa kita sekarang ini. Dengan terpaksa saya menuduh sesuatu yang kabur; rezim pasar. Semacam jejaring kekuasaan yang impersonal, mengutip Foucault, sehingga bahkan kita pun tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Tidak pabrik rekamannya, tidak artisnya, tidak pula para penggemarnya. Tetapi atas nama tren, musik-musik Indie digencet.

Dus, keduanya sama-sama totaliter, jika musik memang harus dipaksa untuk mengikuti arus atau tujuan tertentu. Rasionalisasi, kata Weber. Tetapi justru di sinilah dilematisnya. Seperti telah disinggung Foucault, kita tak pernah benar-benar mampu melepaskan diri dari kecenderungan seperti itu. Mau tak mau, elemen teleologis harus disematkan, dan sudah pasti itu bukan sekedar orientasi pasar.

Musik kritis, di satu sisi, memberikan efek relaksasi –hal pertama yang kita harapkan dari mendengar tetabuhan. Di sisi yang lain, ia menyadarkan kita akan hadirnya kenyataan yang tak selamanya indah. Kepekaan sosial dan kecerdasan membaca suasana, termasuk diantaranya juga kesadaran politis, tidak lagi kita temukan dalam tema-tema musik Indonesia kontemporer. Seperti lagu Efek Rumah Kaca; lagu cinta melulu//apa memang karena kuping melayu//suka yang sendu-sendu.

Dan Iwan Fals tak menyenandungkan lagi kritik-kritik sosialnya. Sebab itulah saya termasuk satu dari beberapa orang yang meragukan analisis bahwa Iwan berubah karena kehilangan Galang Rambu Anarki. Waktunya memang hampir bersamaan, tetapi mengambil keputusan betapa kedua hal itu (kematian Galang dan perubahan Iwan) memiliki pola hubungan sebab akibat (kausalitas) adalah naif dan terlalu terburu. Setidaknya berdasarkan logika formal. Pada sebuah malam minggu saya nge-date ke tempat seorang cewek. Beberapa bulan kemudian ia hamil. Betulkah dengan demikian Anda dibenarkan menghakimi saya? Nah, bagaimana jika –sambil memercayai bahwa tidak ada satu soal pun yang mampu dijawab dengan sebilah analisis  belaka, Iwan terpaksa berubah karena memang dipaksa berubah oleh rezim? Rezim pasar? Buktinya  keusilan Genjer-genjer rasa Surat buat Wakil Rakyat tak kita temukan darinya lagi, meski kita juga tahu betapa pada tahun 2004 ia menelurkan Manusia Setengah Dewa yang juga sarat kritik. Tetapi Iwan sudah berubah. Kreatifitas yang bermuara pada campuran antara kepekaan politik, sosial, dan musik rupa-rupanya telah “tumpul” –maaf saya menggunakan pilihan kata ini, barangkali saya sudah terlanjur apatis.

Belakangan, beberapa lagu kritis –yang memandang perilaku elite politik dan absurditas kehidupan sosial kita dengan nyinyir, memang sempat meramaikan belantika musik Indonesia. Gosip Jalanan-nya Slank pernah menjadi kontroversi yang cukup menggemparkan, meski hanya sesaat. Kita juga ingat sebuah band bernama Efek Rumah Kaca. Hanya saja, tidak lama kemudian arus hegemonik itu datang lagi; musik-musik mellow itu.

Saya tak habis pikir, bagaimana semua ini bisa terjadi. Sebuah rezim telah benar-benar mengakar urat di dalam kesadaran kita. Rezim musik yang menawarkan bual-bual kesadaran yang menipu. Rezim yang bahkan tak memberikan jatah kepada lagu-lagu kanak. Sebuah ironi tersendiri, melihat anak-anak seusia Sekolah Dasar lantang meneriakkan, serasa demonstrasi, tembang percaya padaku-nya Ungu. Saya baru sadar, ternyata sudah sedari kanak, kita diajarkan untuk menghapus kepekaan sosial itu. Sama dengan pola represi politik rezim Orde Baru, yang memberondong masa kanak kita dengan khutbah, bahwa ada dua makhluk yang musti kalian waspadai; setan dan PKI.

Demikianlah. Kita hidup pada suatu masa ketika musik tak lagi dekat dengan politik, tak memihak dan memikirkan orang banyak. Iwan Fals, ikon musik kritis itu, telah “tumbang”. Pada akhirnya kita cuma bisa mengumpat, sembari sesekali terpaksa turut ke dalam arus generasi Dahsyat!; menari-nari dalam melankoli, memendam konak pada rumbai-rumbai erosi. Selanjutnya, apakah kita masih percaya kepada idiom sederhana, bahwa seni (tentu juga musik), bisa mengubah dunia?

***

Musik memang hal sederhana, tetapi justru dalam kesederhanaannya itulah ia berkemampuan menggugah dan bahkan membentuk watak seseorang. Alhasil, perbincangan mengenai bangunan Indonesia di masa depan, cara bagaimana kita mentas dari keterpurukan, bisa saja berkait lekat dengan kondisi musik di tanah air (pun generasi masa kini yang berafiliasi dengannya).

Jadi, bangkit melalui musik, mungkinkah? Tak begitu mustahil, dan barangkali salah satu caranya justru sangat sederhana; tidak memanjakan diri dengan bunyi-bunyi mendayu seperti laku para remaja masa kini? Mengucap selamat tinggal pada musik yang tak berpolitik?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 05/03/2012 by in Essey and tagged , , , , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 54,927 hits
%d blogger menyukai ini: