Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Dari Bosporus Sampai Hebron

Setelah adegan Umrah plus yang entah dibiayai siapa itu, beberapa surat kabar meminta Ustadz Nawawi (KH. A. Nawawi Dencik al-Hafizh) menggubah catatan perjalanan. Ia menyanggupi, dan “tugas” itu ujungnya dilempar ke saya. Di sini, saya menulis Hebron. Saya menulis Bosporus. Saya juga menulis Palestina. Tetapi, tentu saja, kota-kota masyhur tersebut tak betul-betul saya kunjungi. Saya hanya berkelana melalui imajinasi -meski tulisan ini based from reality.

Tengah hari pada 11 Mei 2011. Seperti lazimnya, setelah sejenak berada di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, kami beranjak menuju pelabuhan udara dengan label internasional yang sama; Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Perjalanan yang kelak memakan waktu cukup panjang ini memang dimulai di sini, di Jakarta, sebelum kemudian seluruh rombongan diwajibkan untuk transit di Singapura.

Dari Singapura, bersama maskapai Turkish Air, kami terbang menuju Istanbul (Turki). Alokasi waktu lebih kurang 15 hari (11-27 Mei 2011) dihabiskan untuk berziarah –atau juga biasa dikenal dengan istilah wisata relijius, di empat Negara; Turki, Yordania, Palestina dan Saudi Arabia.

Umrah Plus, demikian perjalanan ini disebut, diikuti oleh serombongan jama’ah asal Palembang (dan sekitarnya), dengan jumlah 20 orang. Selain saya bersama istri, turut juga dalam perjalanan ini mantan ketua DPRD Sumsel, Bapak Zamzami Ahmad.

Yang cukup mengesankan saya, di dalam rombongan ini terdapat seorang paruh baya yang bahkan huruf pun tak mampu ia kenali. Ya, tanpa bermaksud untuk merendahkan, memang tidak pernah terbaca sebelumnya bagi kita, betapa orang buta huruf pun ternyata bisa saja berumrah. Umrah plus pula. Dan tidak hanya itu, ia juga mengajak beberapa orang anggota keluarganya, dari mulai isteri, ibu, serta dua orang anaknya. Haji Amro, nama orang itu, berbekal kebun karet miliknya di Tanjung Batu, Ogan Ilir, sejak mula memang berniat untuk membuktikan sendiri (keberadaan tempat-tempat suci bagi agama Islam). Tidak cuma mendengarnya dari oleh-oleh cerita orang yang pernah ke sana belaka.

Dari beliau kita kemudian mengambil hikmah dari apa yang kita sebut sebagai himmah (cita-cita dan/atau kemauan). Dalam soal ibadah haji dan umrah misalnya, sebagai muslim kita diwajibkan untuk memiliki ‘azm (niat atau rencana yang kuat), betapapun sekarang kita belum diberi kemampuan untuk melaksanakannya. Perlu kita ingat firman-Nya, man yattaqillaha yaj’al lahu makhraja wa yarzuqhu min haitsu la yahtasib. Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menjadikan baginya jalan keluar, serta memberinya rizki dari arah yang tidak terduga. Insya Allah.

Dan betul, Pak Haji Amro pun akhirnya sampai juga di Museum Topkapi di Istanbul. Di sini kami diberi kesempatan untuk melihat secara langsung diantaranya rambut beserta tapak kaki Rasul Saw, pedang beliau, juga pedang-pedang para sahabat seperti Khalid bin Walid dan Salman al-Farisi, selain juga pakaian-pakaian Rasul dan bebajuan anak-isteri beliau.

Dari Topkapi, perjalanan dilanjutkan ke Aya Sofia. Pada masa pemerintahan Islam (Kesultanan Islam di Turki), tempat ini difungsikan sebagai masjid, meski sebelumnya Aya Sofia dikenal sebagai gereja pada pemerintahan Romawi Kristen. Belakangan, oleh karena protes kalangan Kristen yang menghendaki Aya Sofia dikembalikan fungsinya sebagai gereja, yang tentu saja menuai resistensi dari umat muslim, pemerintahan Turki modern (waktu itu dipimpin Musthafa Kemal) mengambil keputusan tengah; menjadikan Aya Sofia sebagai museum. Kini, jejak kemasjidan sekaligus kegerejaan Aya Sofia masih terlihat jelas. Selain terdapat rupa-rupa kaligrafi, di sana juga kita temukan ikon-ikon kristiani.

Selanjutnya ke selat Borporus, di mana kami semua sedang berdiri di wilayah antara, yaitu tempat perpisahan antara tanah Asia dan Eropa. Selat Borporus adalah bagian yang menghubungkan antara Laut Marmara dan Laut Hitam. Selain ia juga membelah Turki menjadi dua kategori, yakni Turki Eropa dan Turki Asia.

Di sini, di Borporus, terasa betul aroma perjuangan mujahid-mujahid muslim pada era klasik, ketika bahkan daerah kekuasaan Islam pernah mencapai Spanyol. Di sinilah, di Turki, pada satu periode tertentu di dalam sejarah, Islam pernah menjadi pusat imperium dunia. Kami bahkan diberi kesempatan untuk berkunjung ke bekas kerajaan Sultan Sulaiman nan luas itu, selain juga berziarah ke masjid-masjid dengan arsitektur megah seperti masjid Blue Mask dan masjid New Mask.

Setelah tiga hari di Turki, perjalanan diteruskan ke Yordania. Kami berziarah ke makam Nabi Syuaib, berkunjung ke Gua Kahfi (tempat ashabul kahfi bermukim selama beberapa ratus tahun seperti disebutkan di dalam Al-Qur’an), menghikmati death sea (laut mati), dan bersua dengan Bukit Sinai (Bukit Tursina). Asal kita tahu, di puncak Sinai yang disebut belakangan, tempat di mana Nabi Musa pernah “bertemu” dengan Allah Swt itu, kini didirikan sebuah gereja. Kenyataan ini menyiratkan adanya agenda yang bertujuan agar umat muslim kapok berziarah ke tempat-tempat bersejarah itu. Wallahu a’lam.

Di Yordania kami bermukim selama tiga hari. Selanjutnya kami menuju Palestina, berziarah ke Masjidil Aqsha, Betlehem, dan Hebron. Dari Palestina perjalanan diteruskan ke Arab Saudi. Seperti dalam ibadah umrah dan haji pada lazimnya, kami berziarah ke baqi’, masjid quba, makam Nabi Saw, Jabal Magnit, dan lain-lain.

Buat saya, tempat-tempat yang kami kunjungi dalam rihlah umrah plus itu semua sangat mengesankan. Tetapi hanya di Palestina, perjalanan kami tidak cuma terasa mengesankan, melainkan juga menegangkan. Betapa tidak, di banyak tempat di daerah konflik ini, di mana-mana kita temukan serdadu Israel bersenjata lengkap. Sejak pertama memasuki area perbatasan Yordania-Palestina, tentara-tentara Israel yang tampak tak pernah tersenyum itu mencegat rombongan dan menahannya lebih dari empat sampai lima jam. Terutama mereka yang berusia di bawah 50 tahun, semua pengunjung diinterogasi dengan ketat, konon untuk menghalau penyusupan teroris. Upaya mempersulit semacam ini mereka lakukan dilakukan agar kita tidak lagi kembali berziarah ke Palestina. Orang-orang Israel betul-betul berniat mengisolasi penduduk Palestina dari dunia luar. Dengan begitu, perekonomian bangsa Palestina pun terblokade.

Kesulitan yang serupa juga kami alami ketika hendak memasuki Masjidil Aqsha. Lagi-lagi, di kompleks seputaran Masjid yang telah disulap menjadi area dagang itu, kebanyakan pedagang pernak-pernik Kristen (salib, peci ala paus, dan lain-lain), tentara Israel kembali menginterogasi. Lebih mengejutkan, ketika sudah berada di dalam, kami ditunjukkan pada sebuah lubang di lantai masjid. Dari lubang itu, terlihat amat jelas riuh rendah orang bekerja di bawah tanah. Telah banyak yang curiga, betapa penggalian yang konon dimaksudkan untuk menemukan kerajaan Nabi Sulaiman, sebetulnya dilakukan orang-orang Israel untuk meruntuhkan Masjidil Aqsha. Karena itu tidak mengherankan apabila tidak jauh dari Masjid, pada apa yang orang-orang Yahudi sebut sebagai tembok ratapan, telah berjejer sekian macam alat-alat berat.

Di bagian lain Palestina, cukup jauh dari Bethlehem –tempat kunjungan kami setelah Masjidil Aqsha, terdengar letupan  suara bedil. Belakangan kami tahu bahwa suara itu berasal dari Hebron. Waktu itu tanggal 16 Mei, orang-orang Israel memang sedang memperingati hari kelahiran negara mereka. Sebaliknya, pada saat yang sama Palestina tampak sepi. Semua dilarang pergi ke Masjid. Toko-toko sama tutup. Orang-orang Palestina sendiri terlihat ramai berdemonstrasi, tentu saja, sebagai ungkapan penolakan atas keabsahan negara Israel yang sedang merayakan ulang tahun. Tidak lama setelah itu, tersiar kabar dari televisi; di Hebron, enam orang Palestina wafat diterjang peluru Israel.

Di Betlehem, kami mengunjungi tempat yang dinyana pemeluk Kristiani sebagai lokasi kelahiran Yesus. Sebetulnya, sesuai deskripsi yang disebutkan oleh al-Qur’an, Bethlehem bukanlah tempat yang tepat disebut sebagai lokasi kelahiran Nabi Isa. Disebutkan bahwa Nabi Isa As dilahirkan di suatu tempat yang rendah (lebih rendah dari permukaan laut) dengan suasana yang sejuk. Betlehem tidak mencocoki gambaran tersebut. Satu tempat yang patut disebut sebagai lokasi kelahiran Nabi Isa As sebetulnya juga ada di Palestina, tepatnya di Jericho.

Kami juga sempat mengunjungi Hebron, ajang pertumpahan darah pada 16 Mei 2011 itu seperti telah disebut, dan berziarah ke Masjid Ibrahim. Di sinilah jasad Nabi Ibrahim beserta Isteri beliau (Sarah) dan anak beliau (Ishaq) dimakamkan. Sejak peristiwa Subuh berdarah pada tahun 1996 (pembantaian tentara Israel atas muslim yang sedang bershalat Subuh), Masjid Ibrahim dibelah menjadi dua; satu bagian untuk umat muslim (masjid), dan bagian lain untuk orang yahudi (sinagog). Hanya pada hari-hari istimewa saja, kurang lebih tiga kali dalam setahun, masjid Ibrahim menjadi sepenuhnya milik Umat Muslim di sana. Sebaliknya, karena hari rayanya lebih banyak, kaum yahudi menguasai Masjid Ibrahim sebanyak 10 kali dalam setahun.

‘Ala kulli hal, menurut hemat saya, disamping berziarah ke tempat-tempat bersejarah di negeri-negeri yang lain, ziarah ke Palestina juga amat penting. Anda –para pembaca– umpamanya, apabila suatu saat diberi nikmat rezeki seperti apa yang dikaruniakan kepada kami, sempatkanlah untuk berkunjung ke negara yang satu ini. Hal ini urgens karena, pertama, dari sudut peribadatan, pahala beribadah di Masjidil Aqsha seperti telah diungkapkan oleh Nabi Saw berlipat 500.000 kali dibandingkan ibadah-ibadah di Masjid lain. Meski ironis, tidak seperti di Masjidil Haram, shalat subuh di Masjid dengan nilai ibadah yang amat tinggi ini hanya diisi oleh tiga shaf jama’ah. Imamnya pun tidak berpakaian layak; memakai celana denim (jeans) dan berkaos belaka.

Kedua, untuk meningkatkan moral serta perekonomian saudara-saudara kita sesama muslim di negara konflik itu. Bayangkan, di tengah kepungan bangsa Yahudi dan kaum Kristiani, siapa mau membeli produk-produk mereka kalau bukan peziarah seperti kita? Selain itu, dengan identitas kita sebagai tamu di rumah mereka, kita pun pada akhirnya bisa sedikit mengangkat moral mereka yang ditubi krisis. Bahwa mereka tidak sendirian. Bahwa nun jauh dari luar Palestina, mereka masih memiliki saudara; kita!

Wallahu a’lam bis shawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 05/03/2012 by in Ghost Writing and tagged , , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: