Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Bahasa Arab dan Peradaban Qur’ani

Dibawakan oleh KH. A. Nawawi Dencik Al-Hafizh pada sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah. Kegiatan yang diadakan pada tahun 2011 itu tidak sempat saya ikuti –mengapa pula mesti ikut-ikutan? :). Itulah sebabnya, esai ini telanjang tak beridentitas; tak bertanggal dan bertempat. Ia tak punya akta kelahiran, apalagi Kartu Tanda Penduduk (KTP). 😀

Sebuah kelakar diriwayatkan secara temurun di pesantren. Konon, suatu saat di alam barzakh, malaikat penjaga kubur bertanya kepada seorang ‘alim –ada yang menyebut bahwa orang ‘alim ini tak lain adalah Umar ibn al-Khattab yang terkenal cerdas dan tegas. “Man rabbuka!?,” seru malaikat. Sang ‘alim tak segera menjawab, tetapi justru balik bertanya. Kira-kira begini, “sebentar, pak malaikat, lafazh man yang Anda pakai dalam kalimat tersebut maknanya apa? Fungsinya sebagai apa? Istifham-kah? Maushul-kah? Isim syarat-kah? Atau man dengan makna yang lain?”. Barangkali karena memang tidak tahu, sebab mungkin saja malaikat tidak pernah belajar gramatika arab, dalam kisah itu malaikat disebut bergeming tak mampu menjawab. Syahdan, sebab itulah sang ‘alim terbebas dari siksa kubur. Ya, sebab malaikat penjaga kubur yang bertugas salah satunya memberi pertanyaan kepada mayit, justru gagal menjawab pertanyaan.

Tentu saja, sebagai sebuah kelakar, riwayat yang tak diketahui dari mana asal muasalnya ini tidak perlu ditanggapi serius. Tetapi kita tahu, kisah tersebut tidak sepenuh-penuhnya kosong dari nilai. Ia misalnya, kerap dikemukakan oleh para ustadz di pesantren untuk mendorong pembelajaran bahasa arab di tingkat dasar. Tetapi juga dari cerita tersebut, sekilas tersirat penjelasan menyangkut posisi bahasa arab dalam struktur kesadaran kaum muslimin.

Bahasa Arab sebagai Bahasa Al-Qur’an

Beberapa ulama menganggap bahasa arab sebagai sejati-jatinya bahasa (agama) Islam. Dalam kisah di atas umpamanya ditunjukkan betapa bahasa arab menduduki tempat yang sentral. Karena itulah tidak mengherankan apabila suatu saat disebutkan bahwa bahasa arab merupakan bahasa yang dipakai sebagai media komunikasi nanti; di alam akhirat, di kehidupan ukhrawi.

Juga barangkali dari sudut pandang inilah kemudian menjadi jelas, mengapa belakangan muncul fenomena pemakaian bahasa yang campur-campur. “Antum mau kemana, Akh?”, yang sebetulnya bisa di-plembang-kan dengan, “awak nak kemano, lur?”, atau diindonesiakan saja, “mau kemana, kawan?”. Fenomena seperti ini tidak menjadi masalah, memang, selagi fungsi bahasa (sebagai medium komunikasi) tetap terjaga. Selagi ia masih bisa dipahami oleh kedua belah pihak yang sedang bercakap-cakap. Tetapi lebih dari itu, merunut pada pola pikir yang telah ditulis di atas, bahwa bahasa arab adalah bahasa Islam, fenomena tersebut menggambarkan ghirah keberagamaan masyarakat kita yang cukup tinggi. Dan hal ini, tidak bisa tidak, sangat menggembirakan.

Di sisi lain, terdapat pendapat yang mengatakan bahwa sebagai medium komunikasi, bahasa arab tidaklah menduduki posisi yang eksklusif, apalagi lebih superior dibandingkan bahasa-bahasa yang lain. Ia tidak berbeda dan tidak perlu dibedakan dari bahasa-bahasa selebihnya, terutama sampai  mengasosiasikannya dengan akhirat segala. Soal bahasa apakah nanti yang dipakai di akhirat, tidak pernah ada yang betul-betul tahu. Lagipula jika benar bahasa yang dipakai adalah bahasa arab, mengapa setiap orang harus “mengidolakannya” sejak sekarang? Kenapa kita perlu mempelajarinya sedari kini? Apakah dengan tidak menguasai bahasa arab, seseorang akan dicampakkan dari pergaulan akhirat? Lagi-lagi, kita tak pernah betul-betul mengerti.

Lepas dari perdebatan di atas, sebab disebutkan dalam kaidah fiqh betapa al-khuruj minal khilaf mustahabbun (keluar dari perbedaan itu disunnahkan), terdapat hal yang tidak bisa dibantah, yaitu kenyataan bahwa bahasa Arab adalah bahasa al-Qur’an. Ini ditegaskan oleh Allah Swt sendiri, seperti misal dalam surat Yusuf ayat 2, yang artinya, “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya”, atau az-Zukhruf ayat 3, “Sesungguhnya Kami menjadikan Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami (nya)”.

Dari sini diketahui bahwa terjemahan –betapapun indah dan baik bentuknya, tidak mungkin dan tidak bisa setara dengan bahasa aslinya yang arab. Ini sangat berbeda dengan kitab-kitab suci yang dipegang oleh agama selain Islam, dimana tidak ditemukan sama sekali otentisitas dari sudut kebahasaan. Injil edisi Indonesia misalnya, lazim disebut sebagai Injil, bukan terjemahan Injil, dan dianggap setara dengan bible. Sementara terjemahan al-Qur’an tetap kita sebut terjemahan, bukan al-Qur’an itu an sich.

Pertanyaannya, mengapa Allah menurunkan al-Qur’an dalam bahasa arab?

Umumnya, pertanyaan tersebut dijawab dengan, “karena Nabi Muhammad Saw, nabi terakhir yang menerima wahyu al-Qur’an itu, berasal dari suku bangsa arab”. Jawaban seperti ini senada dengan penegasan al-Qur’an, surat Fushilat ayat 44, “Dan jika Kami jadikan Al Qur’an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?”.  Apakah (patut Al Qur’an) dalam bahasa asing, sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh”.

Masalahnya, apakah dengan demikian al-Qur’an, dan secara umum risalah kenabian Muhammad Saw, hanya diperuntukkan buat orang-orang arab belaka?

Tentu saja tidak. Sebab, sesuai dengan al-Anbiya’ ayat 107, sifat keterutusan Nabi Muhammad Saw adalah rahmatan lil ‘alamin, sebagai rahmat untuk seru sekalian alam. Tetapi di sinilah problematikanya, bagaimana bisa bahasa lokal (jazirah arab) mengatasi yang corak komunikasi universal (bahasa seluruh dunia)?

Pertanyaan ini tidak bisa tidak dijawab dengan menganalisis keistimewaan bahasa arab. Dengan begini kita kemudian boleh berkata bahwa mengapa Allah memilih bahasa arab sebagai “wadah” Firman-Nya yang azali? Sebab bahasa arab memang istimewa!

Telah banyak risalah dikarang untuk mengupas persoalan ini. Pada kesempatan terbatas ini, penulis menyajikan beberapa saja diantara keistimewaan bahasa arab itu. Pertama, seperti dikutip dari Ahmad Sarwat, bahasa arab adalah satu-satunya bahasa kuno berumur ribuan tahun yang masih bertahan, masih aktif digunakan, dan lebih dari itu masih tersebar.

Seperti diketahui, bahasa arab termasuk dalam rumpun bahasa semit, meliputi bahasa Babilonia, Asyuria, Aramy, Ibrani, Yaman Lama, Habsyi Semit dan bahasa Arab itu sendiri. Empat yang pertama telah musnah, sementara dua yang belakangan masih digunakan. Hanya saja, dari kedua bahasa tertua yang tersisa, bahasa arablah yang paling menonjol dan paling luas tersebar (populer). Karenanya tidak mengherankan apabila al-Qur’an memakai bahasa arab. Bible (Perjanjian Lama) saja, yang disebut-sebut berbahasa asli Ibrani, kini tidak lagi eksis. Ini sesuai dengan pandangan para ulama bahwa bahasa arab bahkan sudah digunakan sejak masa Nabi Ibrahim. Ulama yang lain malah menyatakan bahwa bahasa manusia pertama (Nabi Adam) adalah bahasa arab.

Kedua, kekayaan ragam kata yang dimiliki oleh bahasa arab. Menurut penelitian para ahli, bahasa arab memiliki jumlah kosa kata paling besar. Ini ditunjukkan dengan diantaranya bahwa bahasa arab memiliki banyak sinonim (muradif) untuk nama-nama benda. Konon, untuk menyebut unta saja, orang arab memiliki 800 kata yang identik. Dari sini tidak mengherankan apabila kemudian bahasa arab dipilih untuk menerjemahkan konsep-konsep ketuhanan dan keakhiratan, seperti lazim kita temui di dalam al-Qur’an.

Bahasa Arab: Menuju Peradaban Qur’ani

Telah dijelaskan beberapa poin mengenai keistimewaan bahasa arab, serta beberapa alasan mengapa al-Qur’an diturunkan dalam bahasa arab. Dengan sedikit membalik logika, kita kemudian tahu bahwa untuk mempelajari al-Qur’an, dan lebih-lebih untuk “mendirikan” tata kehidupan masyarakat yang berasaskan pada nilai-nilai al-Quran (Peradaban Qur’ani), kita musti mengenal bahasa arab dengan baik.

Memang, akhir-akhir ini kaum muslim yang tidak berbahasa arab, seperti halnya kita di Indonesia ini, sedikit dimudahkan dengan adanya terjemah-terjemah al-Qur’an. Akan tetapi, seperti telah sedikit disinggung sebelumnya, terjemah-terjemah tersebut tidak bisa disejajarkan dengan al-Qur’an itu sendiri. Dengan kata lain, kekayaan dan keindahan bahasa al-Qur’an, dengan begitu juga kedalaman maknanya, tidak bisa direduksi dengan sekedar terjemahan belaka.

Khususnya kita yang tidak memahami dan memiliki “rasa bahasa arab”, seperti diuraikan Quraisy Shihab dalam Wawasan al-Qur’an, pemahaman yang utuh terhadap al-Qur’an amat sulit dipenuhi. Di sinilah urgensi pembelajaran bahasa arab secara intensif, terutama menyangkut gramatika (nahwu dan sharaf), dan lebih-lebih diskursus balaghah-nya. Amat menarik, di pesantren, nahwu dan sharaf dinamai sebagai ilmu alat. Dalam arti bahwa keduanya menjadi piranti (alat)  dasar untuk menggali pemahaman atas teks-teks berbahasa arab, termasuk diantaranya al-Qur’an.

Quraisy Shihab menyebut syarat pokok dan umum sebagai penafsir (orang yang berusaha memahami dan “menjelaskan” al-Qur’an); (a) pengetahuan tentang bahasa Arab dalam berbagai bidangnya; (b) pengetahuan tentang ilmu-ilmu Al-Quran, sejarah turunnya, hadis-hadis Nabi, dan ushul fiqh; (c) pengetahuan tentang prinsip-prinsip pokok keagamaan; dan (d) pengetahuan tentang disiplin ilmu yang menjadi materi bahasan ayat. Lebih jauh ia mengemukakan :

“Seorang mahasiswa yang membaca kitab tafsir semacam Tafsir An-Nur karya Prof. Hasby As-Shiddiqie, atau Al-Azhar karya Hamka, kemudian berdiri menyampaikan kesimpulan tentang apa yang dibacanya, tidaklah berfungsi menafsirkan ayat. Dengan demikian, syarat yang dimaksud di atas tidak harus dipenuhinya. Tetapi, apabila ia berdiri untuk mengemukakan pendapat-pendapatnya dalam bidang tafsir (menguraikan secara langsung pendapatnya mengenai suatu ayat, Pen), maka apa yang dilakukannya tidak dapat direstui, karena besar kemungkinan ia akan terjerumus ke dalam kesalahan-kesalahan yang menyesatkan”.

Begitu berat persyaratan untuk “memahami” al-Qur’an (secara langsung), alias menjadi penafsir, bahkan jika pun kita sudah menguasai bahasa arab par excellent. Di sinilah pentingnya berkaca dan atau mempelajari pemahaman serta karya-karya ulama terdahulu (salaf), yang telah diakui kapabilitas keilmuannya. Dan di sinilah, lagi-lagi, kita melihat pentingnya bahasa arab, sebab banyak di antara karya-karya tersebut digubah dalam bahasa arab. Di bidang hukum, pemahaman Qur’ani tersebut mewujud dalam karya-karya fiqh. Di bidang teologi, kita bisa menilik karya-karya ilmu kalam atau tauhid. Dan lain-lain, dan sebagainya.

Alhasil, dengan menghargai dan mendalami karya-karya para ulama inilah, selain juga mengejawantahkannya di dalam kehidupan, nilai-nilai Qur’ani insyaallah bisa terwujud. Dengan demikian, apa yang kita lakukan ini juga bisa diartikan sebagai pelestarian al-Qur’an. Apabila tahfizhul qur’an secara spesifik berarti menghafal ayat-ayat al-Qur’an, maka upaya untuk mengkaji dan meneladani para ulama seperti disebut di atas adalah menjaga kelangsungan nilai-nilai yang terkandung pada ayat-ayat al-Qur’an. Keduanya mesti berjalan secara sinambung. Mudah-mudahan dengan begini terwujud peradaban yang Qur’ani. Wallahu a’lam bis shawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 05/03/2012 by in Ghost Writing and tagged , , , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: