Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Menampik Dakwah Kekerasan

Kisah masuknya agama Islam di bumi Indonesia bukanlah sebuah cerita silat. Para pendakwah pertama agama ini bukan segerombol jawara yang bernafsu menegakkan supremasi di atas tubuh target-targetnya.

Sejak mula, bukan cuma di Indonesia, jalan pedang tidak dipilih sebagai model penyebaran agama ini. Akan halnya Islam sudah menjadi mayoritas di tanah nusantara seperti hari ini, umat Muslim sepatutnya tidak besar kepala; tak bersikap tiranik terhadap “yang lain” (the others). Argumen mayoritas inilah, dibumbui dengan fobia berlebihan terhadap the others, yang kerap menggerakkan Front Pembela Islam (FPI) –juga organisasi berbeda tapi senapas– berlaku destruktif. Kesatuan bangsa terancam retak. Umat didera ketakutan terhadap praktik-praktik keagamaan yang tak jarang berasosiasi dengan bau kekerasan.

KH. Musthofa Bisri suatu saat menyindir laku dakwah semacam ini. Selain sama-sama berjubah dan berjenggot, apa yang membuat Nabi Agung Muhammad berbeda dari pamandanya sendiri, si Abu Jahal? Sang Nabi senantiasa menunjukkan raut tersenyum ramah, sementara Abu Jahal selalu menampakkan wajah yang merengut marah.

Di luar sana orang bertanya, apa yang membuat FPI mirip dengan Nabi Muhammad? Dan apa pula yang membuat mereka setara dengan Abu Jahal? Banyak orang, tak terkecuali umat Muslim sendiri, kemudian menilai FPI tak lebih dari preman yang menyaru juru dakwah. Bukan ide dan atau ajaran keagamaan itu an sich yang ditolak, tetapi cara-cara dakwah mereka yang terlanjur anarkistis. Maka aspirasi anti FPI susul menyusul disuarakan setelah organisasi ini ditolak kehadirannya dari bumi Kalimantan Tengah.

Kekerasan, apapun alasan dan dalil pembenarannya, tak patut diamini. Tujuan dakwah FPI, yang umumnya berkisar di seputar ajakan untuk mengikis kemaksiatan, barangkali memang tidak bertentangan dengan tema dakwah organisasi-organisasi keislaman yang lain. Hanya saja, apabila hal itu melibatkan kekerasan, yang tak jarang memakan korban itu, serta merta kita harus menolak.

Penolakan terhadap FPI harus kita baca sebagai penolakan terhadap praktik-praktik kekerasan semacam ini. Terutama buat negara yang telah meratifikasi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) laiknya Indonesia, perjuangan menampik kekerasan mesti menjadi aspirasi bersama seluruh elemen bangsa. Pemerintah harus tegas. Rakyat tak boleh menutup mata.

Sejauh berkaitan dengan dakwah keagamaan, kita semestinya bisa lebih kreatif daripada Sunan Kudus. Dialah yang suatu saat  mengharamkan daging lembu bagi para pengikutnya semata-mata untuk menghargai umat agama lain yang tak mengonsumsinya. Dakwah mesti dilakukan dengan sabar dan toleran. Sikap arogan hanya akan menerbitkan penolakan, seperti masyarakat Makkah menampik Abu Jahal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 27/02/2012 by in Essey and tagged , , , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: