Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Ormas Anarkis, How Long Can You Go?

GELOMBANG aspirasi anti Front Pembela Islam (FPI) kian meninggi sejak organisasi tersebut ditampik di Kalimantan Tengah. Penolakan terhadap FPI ini berkait lekat dengan penghapusan laku kekerasan yang kerap diperagakan oleh organisasi “milik” Habib Rizieq.

Kita ingat, pada medio 2010, tuntutan yang serupa juga pernah membahana. Pro dan kontra pembubaran FPI terbit setelah organisasi tersebut secara sepihak membubarkan acara sosialisasi kesehatan gratis Komisi IX DPR di Banyuwangi, Jawa Timur. Sementara itu, kita juga belum lupa, isu penolakan terhadap FPI tersebut perlahan kikis dan terlupakan. FPI tetap sehat wal afiat, sebelum kemudian terjadi pemblokiran di Bandara Tjilik Riwut (Palangkaraya) di tahun 2012 itu. Penyelesaian problem kekerasan sedang dipertaruhkan.

Memang, lakon yang dipertontonkan oleh FPI tak selamanya dibenci. Barangkali justru karena FPI kerap menjustifikasi tindak-tanduknya dengan dalil keagamaan, beberapa kalangan berharap agar ia tetap hidup. Tengoklah sejumlah agenda kegiatan FPI; memberantas perjudian, meringkus minuman keras, memberantas pornografi, menista pornoaksi, dan lain-lain. Pendeknya, menyegel perilaku kemaksiatan. Siapakah muslim yang bakal mendakwa salah atas tindakan yang kerap diidentifikasi sebagai upaya nahi munkar itu? Kelirukah mengamputasi kemaksiatan? Pasti tidak.

Kesesuaian ide seperti ini masih banyak kita temukan di level akar rumput. FPI mendapat simpati, konon karena ialah satu-satunya organisasi sosial keagamaan yang berani dengan tegas mengutuk kemaksiatan. Afirmasi terhadap ide gerakan inilah yang lantas membuat banyak orang bimbang menentukan sikap terhadap FPI.

Di lain sisi, banyak orang –termasuk juga kalangan muslim– dibuat jengah oleh cara-cara dakwah nahi munkar yang ditempuh FPI. Justru karena FPI memilih “jalan pedang”, ia kemudian semakin identik dengan watak anarkis. Sebab itulah wajar jika kemudian banyak pihak mencibir FPI sebagai preman yang menyaru juru dakwah.

Tuntutan pembubaran FPI kemudian menjadi kontroversi. Sepertinya, pro dan kontra akan senantiasa muncul. Masalahnya, jika kontroversi ini tidak segera dituntaskan, persoalan yang sama dikhawatirkan terulang kembali. Pembubaran FPI, mengutip KH. Hasyim Muzadi, barangkali tidak efektif. Sebab bisa saja elan destruktif di dalam tubuh FPI ini bermetamorfosa ke dalam bentuk lain.

Satu-satunya yang kita perlukan sekarang adalah keseriusan dan ketegasan kita semua menolak kekerasan. Pemerintah harus segera mengambil inisiatif yang paling tepat untuk menyelesaikan pro dan kontra ini, seperti dengan menciptakan dan memperketat aturan terkait organisasi-organisasi anarkis. Jika tidak, jangan salah kalau kelak muncul lagi orang-orang yang mengeluh akibat tertulah pentungan gerombolan macam FPI.

Dapat juga dibaca di Okezone.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 25/02/2012 by in Journey and tagged , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: