Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Muhazharah

Kita mungkin sulit menjadi yang seperti ini; mempunyai isteri, beranak banyak, dan pada saat yang bersamaan, tidak memiliki pekerjaan. Sudah begitu, krisis ekonomi melanda antero negeri. Dus, klop sudah nasib buruk itu menimpa. Tetapi inilah yang terjadi pada Ibnu ar-Rumi, keturunan Rum (Romawi), yang tumbuh dan besar di Baghdad itu.

Suatu hari, ketika seluruh anggota keluarganya “puasa” tiga hari penuh, sang isteri menyeru Ibnu ar-Rumi untuk bekerja. Caranya? Ibnu ar-Rumi diminta pergi ke suq al-banain, pangkalan (pasar) kuli bangunan, kalau-kalau saja ada yang berminat mempekerjakannya. Dan Ibnu a-Rumi pun beranjaklah ke sana.

Tetapi di tengah perjalanan, tiba-tiba saja Ibnu ar-Rumi dipertemukan dengan sebuah masjid yang reot dan konon sudah tidak difungsikan lagi. Di situlah kemudian Ibnu ar-Rumi berbelok arah, tidak lagi menuju pangkalan. Ia berkata; “Ya Allah, saya tidak akan bekerja kecuali kepada-Mu”. Ia pun beribadah; shalat dhuha, munajat, kemudian dzuhur, dilanjutkan munajat lagi, sampai ashar, dan munajat lagi, hingga kemudian ia teringat anak isterinya. Ia sangsi, kalau saja dirinya kembali saat ini juga, senja hari itu, bagaimanakah reaksi isteri dan anak-anaknya ketika melihat sang suami (bapak) pulang dengan tanpa hampa? Maka Ibnu ar-Rumi melanjutkan shalat maghrib sembari berjanji kepada dirinya sendiri untuk kembali nanti, ba’da isya ketika mungkin anak isterinya sudah terlelap.

Sesampai di dekat rumah, Ibnu ar-Rumi terkejut demi mendengar anak isterinya bercanda riang. Bagaimana mungkin mereka bisa bercanda di tengah kelaparan ini? Pikirnya. Jangan-jangan, anak isterinya meminta-minta? Ah tidak!!!

Memasuki rumah, Ibnu ar-Rumi disambut oleh sang isteri seperti biasa. Ia (isteri) menjelaskan, bahwa beberapa saat yang lalu mereka kedatangan tamu. Tamu itu memakai pakaian serba hijau, dan berkata sembari memberi dua buntalan; “Katakan kepada suamimu, Ibnu ar-Rumi, ini gaji dari tuannya selama sehari kerja. Tuannya berpesan agar ia lebih giat lagi bekerja, biar gajinya ditambah”. Tak diduga, setelah dibuka, buntalan pertama berisi 1000 dinar (sekira 160 juta ukuran sekarang), buntalan kedua berupa makanan.

Seluruh anggota keluarga kini bisa makan, kecuali Ibnu ar-Rumi sendiri. Hanya ketika kemudian isterinya menawari makan, ia menolak. Masih ada tanggungan shalat, katanya. Ibnu ar-Rumi pun shalat lagi. Lantas munajat, dan kemudian tertidur. Dalam tidurnya, ia mimpi bertemu Allah. Berbincang-bincang.

“Ibnu ar-Rumi, apakah ‘gaji’ yang kuberikan sudah cukup?,” tanya Allah

“Sudah sangat cukup, Paduka!” jawabnya

“Ya sudah, untuk itu sekarang Aku menghapus 10.000 dosamu, dan kutambah 10.000 kebaikan. Bagaimana, cukup?” tanya Allah. “Sangat cukup, gusti” jawabnya lagi. “Mintalah lagi !!!,” seru Allah. “Tidak, gusti”, Ibnu ar-Rumi menolak. “Mintalah, nanti kuberi”, seru Allah lagi. “Kalau memang harus begitu,” jawab Ibnu ar-Rumi, “saya ingin meninggal”. “Kenapa begitu?,” tanya Allah. “Supaya saya segera bertemu dengan-Mu,” jawabnya. Allah berfirman, “kematian ada di tangan-Ku. Ia sudah tersurat. Tetapi Kuberitahu, engkau akan meninggal 9 hari lagi”.

Demikian Ibnu ar-Rumi. Kisah yang barangkali tidak mudah kita tiru. Tidak pada kondisi kehidupannya, tidak pula pada kapasitas spiritualnya. Bahwa Ibnu ar-Rumi dibukakan hal ghaib, masa kematian, adalah salah satu bentuk mukasyafah.

Menurut al-Imam Suhrawardi, Allah mengaruniakan tiga ahwal kepada manusia (manusia-manusia khas tentunya). Muhazharah (selalu ingat Allah), mukasyafah (terbukanya pintu gaib), dan musyahadah (melihat Allah dengan mata hati).

Memang betul, untuk mencapai dua tahap yang terakhir, sesuatu yang dialami oleh Ibnu ar-Rumi, adalah perkara sulit. Tetapi setidak-tidaknya kita mungkin mengupayakan yang pertama, muhazharah. Bahwa dengan senantiasa mengingat Allah, dengan sungguh-sungguh (dalam arti betul-betul masuk ke dalam relung hati, suwaida’ al-qalb, seperti kata Imam Ghazali), kita akan terbebas dari laku-laku tercela. Kita tidak lagi mencaci orang lain, karena ingat bahwa kita sedang diperhatikan oleh Allah. Kita tidak lagi korupsi, karena malu diawasi oleh-Nya. Dan seterusnya.

Wallahu a’lam bis shawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 08/06/2011 by in Editorial IM and tagged , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: