Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Cuci Otak

Lupakan gosip tentang cuci otak, yang konon digulirkan sebagai metode rekruitmen anggota NII (Negara Islam Indonesia). Sebab tanpa atau dengan isu NII, di sekitar kita sebetulnya telah berseliweran pelbagai gerakan yang memiliki pola kurang lebih mirip –untuk tidak menyebutnya sama sekali serupa.

Sebuah organisasi atau gerakan tertentu, misalnya, jika ia memerlukan dukungan dari banyak orang, hampir bisa dipastikan akan melakukan perkara yang sama; “cuci otak”. Dalam diksi politik (praktis) jaman baheula, ini disebut dengan agitasi. Barangkali sekarang kita mengenalnya sebagai kampanye. Sekali lagi, setiap orang, semua kelompok, apabila mereka menghendaki militansi sokongan dari orang atau kelompok lain, apa yang mereka lakukan sudah bisa ditebak; “indoktrinasi”, hal yang kurang lebih senada dengan “cuci otak”.

Perumpamaan sederhana. Anda yakin bahwa, dalam soal tertentu pendapat Anda adalah benar. Tidak cukup puas, Anda lantas berusaha untuk memasukkan orang lain ke dalam track opini Anda.  Anda berdiskusi, Anda berargumentasi, Anda berusaha agar lawan bicara Anda itu tunduk terhadap penjelasan-penjelasan yang Anda kemukakan. Selanjutnya, karena Anda sekarang sudah memiliki satu “orang kalah”, Anda pun berusaha menjejalkan pikiran-pikiran Anda pada variabel-variabel yang lain.

Dus, program cuci otak bukan semata-mata monopoli gerakan NII. Pada kadar tertentu, praktek pendidikan, tak terkecuali pendidikan pesantren, adalah juga upaya pencuciotakan. Siswa –atau santri? – diajak (redaksi yang lebih halus daripada dicuci otaknya) untuk melakukan A, berpikir B, berkata C. Sadar atau tidak, setiap orang sebetulnya telah dicuci otaknya. Ini sangat klop dengan teori tabula rasa-nya John Locke, yang juga disebut dalam lirik lagu Padi berjudul “Harmoni” (hahaha, kebetulan saya kerap mendengar lantunan suara Piyu itu);

Kita terlahir bagai selembar kertas putih

Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai

Dan terwujud harmoni

Alhasil, meskipun belakangan menjadi semacam momok bagi masyarakat –sebagian besar karena ketakutan yang dihembuskan oleh media massa, modus cuci otak sebetulnya perkara yang lumrah. Siapapun pernah dan akan mengalaminya, mau tidak mau, sadar ataupun tidak. Beberapa banyak kita malah menikmatinya, tentu saja. Berkat keberhasilan upaya “cuci otak” di pesantren, umpamanya –yang amat kita nikmati itu, kita pada akhirnya memiliki loyalitas yang kuat untuk tidak melepaskan jubah kesantrian. Kita bangga menjadi santri. Kita ikhlas menjadi Indonesia. Kita bangga serta bersedia untuk mati demi menjadi A, B, C dan D. Pernahkah kita mempertanyakan ulang kenapa perasaan-perasaan semacam ini seperti tak bisa kita lupakan? Pernahkah kita sekali-kali bertanya, bukankah semua ini berkat “cuci otak”?

Maka hemat saya, bukan soal prosedur cuci otak itu, selagi ia bukan bermakna pemaksaan sarkastis, yang perlu dipersoalkan. Yang perlu diperhatikan adalah materi, doktrin, dan atau isi yang menjadi source “cuci otak”. Di sinilah sebetulnya kita berhak untuk kritis dan berdebat. Karenanya kita memerlukan parameter nilai yang bisa dijadikan sebagai tolok ukur bersama, apapun dan betapapun bentuknya.

Masalahnya, sebagai bangsa, parameter semacam ini senantiasa kabur. Hingga ketika gosip cuci otak ala NII itu mengemuka, kita semua baru membicarakan soal Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang konon tidak mengenal konsep “Negara di dalam Negara”.

Dan lebih celaka, kita kemudian terlalu sibuk dengan NII, serta melupakan gerakan-gerakan lain yang memiliki kemiripan source ideologis. Bagaimana dengan gerakan-gerakan yang mencita-citakan khilafah islamiyah, misalnya? Atau gerakan-gerakan yang acapkali bertindak anarkistis, dengan membawa pentungan di jalanan, dengan mengebomi tempat-tempat tertentu, contohnya? Bukankah mereka ini juga kerap beragitasi (dalam batas-batas tertentu juga memprovokasi dan atau menggembosi republik)?

Saya tidak berpendapat bahwa gerakan-gerakan seperti ini, NII sekalipun, adalah salah atau benar (pendekatan hitam putih semacam ini terbukti kerap menimbulkan masalah). Semua tergantung pendekatan (approach) yang kita pakai. Saya hanya hendak bertanya sejauh mana keadilan kita dalam berpikir dan atau bersikap. Prosais komunis –silahkan Anda tidak bersepakat dengannya, bernama Pramoedya Ananta Toer, suatu saat berpesan; “kaum terpelajar harusnya sudah adil sejak dalam pikiran”.

Palembang, 20.5.2011

Lukman Hakim Husnan

Eks Pimred IP 2006-2007

Source ; pamphlet independent

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 29/05/2011 by in Journey and tagged , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: