Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Zilzal

Tentu saja kita masih akan terus tidak melupakan Umar ibn al-Khatthab. Khalifah kedua dari deretan khulafa’ur rasyidun (pimpinan yang tercerahkan), yang masuk juga dalam sepuluh nama penghuni surga, itu terkenal dengan perangainya yang tegas dan terutama pemerintahannya yang adil. Syahdan, sebab saking tegas dan adilnya Umar, ia jadi tidak cuma disegani di kalangan sesamanya belaka, di tengah-tengah manusia. Lebih dari itu, nama Umar juga tersohor hingga ke alam makhluk ghaib (jin, setan, dan lain-lain).

Maka tidak mengherankan ketika terdengar sebuah riwayat; pada suatu saat, di masa pemerintahannya, Umar  menemukan tanah di kotanya berguncang (Al-Qur’an menengarai kondisi alam yang  demikian ini dengan redaksi zilzal dalam idza zulzilatil ardhu zilzalaha). Kita boleh menyebutnya gempa. Melihat hal ini, serta merta Umar keluar dari rumahnya dengan membawa cemeti (cambuk). Maka dicambuklah bumi yang sedang gempa laiknya Umar menghukum cambuk para pelaku zina, atau seperti seorang bapak mendidik anaknya yang nakal.

Sambil mencambuk, Umar menyeru kepada bumi (jika banyak orang tidak memercayai adanya karamah dengan dalih bahwa pada masa para sahabat tidak pernah ditemukan peristiwa-peristiwa khariqul ‘adat semacam itu, maka Umar yang mampu berkomunikasi dengan bumi adalah bukti bahwa karamah  semacam itu juga ada pada masa sahabat). Demikian katanya, “Ya ardh, a lam a’dil ‘alaika, wahai bumi apakah aku tidak berbuat adil (selama) berada di atasmu? Tiba-tiba saja, barangkali ia memang mendengar suara keras dari Umar, bumi pun menyurutkan guncangannya.

Memberi penjelasan atas kisah Sayidina Umar di atas, as-Syaikh Mahfuzh al-Turmusi (salah seorang ulama ahli hadits Nusantara yang berkesempatan menjadi Imam sekaligus mufti di Masjidil Haram), memahami adanya keterkaitan yang lekat antara kondisi geologis suatu daerah dengan keadilan orang-orang di atasnya. Zilzal, guncangan bumi alias gempa, menurutnya ada dua. Pertama, guncangan besar yang menandai qiyamat sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Zalzalah. Dan, kedua, gempa biasa seperti apa yang sering kita alami belakang hari.

Syeikh Mahfuzh menulis, “Zilzal akan muncul setiap kali ada wulaat (jama’ dari wali, dengan maksud waliyul amri atau pemimpin) yang menyeleweng dan atau tidak bertindak adil”. Mafhum-nya, apabila terjadi zilzal di suatu tempat, hal itu menandakan bahwa seorang penguasa sedang tidak menjalankan tugas-tugasnya dengan baik. Ada pemimpin yang sedang tidak adil. Dan sebaliknya, apabila pada suatu daerah terdapat pemimpin yang lalim, maka apa yang selanjutnya terjadi?  Tentu kita sudah tahu jawabnya. Ya, kita tinggal menunggu saatnya.

Ala kulli hal, yang disebut di atas adalah analisa dan atau pandangan seorang ulama. Sebagaimana lazimnya di dunia fiqh, sebuah fatwa dari seorang ulama bisa saja digugurkan oleh fatwa ulama yang lain. Al-hasil, semoga Allah menjauhkan kita dari kedua-duanya sekaligus; pemimpin yang lalim dan zilzal-nya bumi.

Wallahu a’lam bis shawab.

Iklan

3 comments on “Zilzal

  1. ja'far shiddiq
    15/09/2011

    mbah men gW barusan login bWat Langganan essai2 terbaru sampeyan kok sampai saat ini,..

  2. akiadnani
    29/01/2013

    Sejak zaman baheula mytos dan kultus selalu menggiring kehidupan manusia. di berbagai belahan dunia mytos dan kultus merajalela. Setelah Alquran turun di negeri Jahilah, maka mytos dan kultus itu dilarang. Mytos adalah keyakinan yang tidak bersumber hukum yg mutlak, mytos sebatas dugaan-dugaan yng sesuai dg hayalan semata (a.l : lihat surah An Najm ayat 19-23). Kisah Sayyidina ‘Umar bin Khattab seperti di atas adalah salah satu mytos dan kultus. Termasuk kisah-kisah Syekh Abdul Qadir Jaelani yg bisa begitu, bisa begini. Rasulullah saja, tidak mampu berbuat seperti itu. Demikianla Alquran menjelaskan. Silahkanpilih ikuti Alquran sebagai acuan kaum muslimin atau cerita-cerita yang irrasional dan berlawanan dengan ayat Allah.

    • Elha Husnan
      14/03/2013

      Mohon maaf, barangkali hanya Anda yang bilang bahwa kisah-kisah seperti ini adalah mitos dan kultus. Apa yang membuat Anda yakin bahwa kisah-kisah seperti ini betul-betul tidak pernah terjadi dalam sejarah? Anda pernah mempelajari tata periwayatan hadits bukan? Kapankah sebuah kisah -atau sebuah khabar atau sebuah hadits- bisa ditolak dan bisa diterima? Dari sudut mana Anda bisa membuktikan bahwa kisah-kisah seperti ini hanya khayalan (zhan) semata, dan karena itu menurut Anda bertentangan dengan al-Quran? Dan sebetulnya di mana letak pertentangannya?

      Dus, cerita -betapapun irasional, jika benar hal itu pernah terjadi di dalam sejarah, mengapakah kita harus berkeras hati untuk menolaknya? Mengapa kepala kita jadi sekeras batu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 25/05/2011 by in Editorial IM and tagged , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: