Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Merasa Baik

Hari pertama, saat seperti biasa, ketika berkumpul bersama sahabat, Nabi Saw bersabda –kurang lebih; “Di sini (sambil menunjuk ke suatu tempat), akan lewat seorang lelaki penghuni surga”. Maka tidak lama, dari jalan yang ditunjuk oleh Nabi tadi muncul seorang pria. Sambil memegangi alas kaki (sandal), ia mengibas-ngibaskan jenggotnya yang tampak basah (karena wudhu). Para sahabat tercengang. Orang itu?

Esoknya hal yang sama terulang kembali. Nabi mengemukakan sabda yang sama sekali persis. Dan muncul lagi di jalan yang sama; orang yang memegang sandal serta mengibas-ngibaskan jenggot yang basah.

Ketiga kalinya, Nabi menyabdakan hal yang serupa. Dan, lagi-lagi, orang itu; orang aneh yang tidak terlihat sama sekali tanda-tanda sebagai ahli surga. Karenanya, oleh sebab penasaran, Abdullah ibnu ‘Amr ibn ‘Ash menguntitnya. Ia hendak menyelidiki apa gerangan amal ibadah yang dikerjakan oleh lelaki itu.

Singkat cerita, Abdullah berhasil memperoleh izin menginap di rumah lelaki itu selama tiga hari. Dalam pada itu, setiap gerak-gerik “lelaki penghuni surga” itu ia amati. Sayangnya, setelah beberapa lama, sepertinya Abdullah kecewa. Bagaimana tidak, ternyata ibadah lelaki ini tergolong biasa-biasa saja. Ia bahkan tidak pernah sama sekali shalat malam.

Maka selanjutnya Abdullah memberanikan diri bertanya, setelah membeber segala motifasi terselubung yang membuatnya menginap, termasuk tentang sabda Nabi yang diulang sampai tiga kali, kepada lelaki itu. “Oh itu, anak muda. Seperti engkau tahu, beginilah aku. Corak ibadahku persis sama seperti apa yang engkau lihat selama tiga hari ini”. Masih agak kecewa dan sedikit bertanya-tanya, Abdullah pun ngeloyor pergi. Tetapi belum cukup jauh, lelaki itu memanggilnya. “Hai anak muda, barangkali ini karena hatiku tidak pernah sama sekali  bersu’u dzon kepada orang lain, bebas dari tamak, sum’ah, dan sombong, dll. Jadi mungkin karena aku menjaga hatiku”.

Abdullah merasa mendapatkan jawaban. Pantas saja, pikirnya, kenapa orang ini amat ramah terhadap orang lain dan keluarganya terlihat sangat harmonis.

Lelaki itu bernama Sa’ad ibn Luhai’ah. Dan hadits di atas diriwayatkan oleh Sahabat Anas ibn Malik.

Kisah di atas menunjukkan betapa penting mengendalikan urusan batin. Ya, cerita tersebut tidak bermaksud  menyeru kita untuk tidak berbanyak ibadah, melainkan senantiasa terus menjaga hati. Perkara hati ini memang tidak bersangkutan dengan aktifitas lahir (meski terkadang muncul dalam wujud sikap). Orang yang berbanyak amal, umpamanya, bisa saja tidak terpengaruh hatinya, dan lantas tidak menjadi sum’ah serta takabbur. Sebaliknya, bisa jadi orang yang amalnya sedikit, perasaan bangganya tidak ketulungan.

Betapa pentingnya ibadah batin ini sampai-sampai konon dosa yang diakibatkan oleh perkara batin selalu lebih besar madharat dan bahayanya daripada dosa lahir. Bayangkan seorang pelacur, berapa besar dosanya? Sekali berzinah saja mesti dihukum rajam! Nah, suatu kali ketika pelacur itu lewat di depan kita, dan lantas hati kita menggumam “ah, dasar pelacur!!!” hingga kita merasa lebih baik dari padanya, dosa yang kita peroleh (berkat merasa lebih baik itu) lebih besar daripada dosa-dosa pelacur itu sendiri. Astaghfirullah. Madharat yang terlahir darinya apalagi.

Al-hasil, barangkali kita berkesempatan menjadi orang baik. Maka jangan pernah sekali-kali “merasa sebagai orang baik”. Mari bersama belajar membersihkan hati. Allahumma nawwir qulubana bi nuri hidayatika kama nawwartal ardha bi nuri syamsika.

Wallahu a’lam bis shawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 18/05/2011 by in Editorial IM and tagged , , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: