Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Musuh Allah

Tiap pagi ia menyapu jalanan pasar. Usianya yang sudah cukup lanjut tidak menyurutkan niatnya untuk “mengabdi” kepada orang banyak dengan caranya sendiri; dengan menjadi juru bersih pasar. Tidak jarang para pedagang di sana meminta tolong kepada sang kakek untuk keperluan bisnisnya. Kakek ini seorang tukang sapu dan sekaligus tukang disuruh-suruh.

Suatu malam, pedagang A meminta bantuan si kakek untuk mengantar barang-barangnya ke suatu tempat. Pedagang A memberi tempo, barang itu mesti sudah sampai sebelum subuh. Sang kakek tak menolak. Di tempat lain, pedagang B meminta tolong hal yang sama. Ia juga memberi batas waktu, subuh hari barang itu harus sudah sampai di tempat. Si kakek mengiyakan. Dan celaka, ketika bertemu dengan pedagang C, kakek itu diminta lagi untuk mengerjakan perintah yang serupa. Juga ada deadline; subuh. Uniknya, lagi-lagi kakek itu menyanggupi.

Bagaimana bisa, pada saat yang bersamaan, barang-barang berbeda harus diantar ke tempat yang saling berjauhan?

Pagi hari, semua barang sudah terkirim ke tujuan. Entah bagaimana mulanya, ketiga pedagang A, B dan C terlibat dalam obrolan. Sampailah ketiganya pada pembicaraan tentang pengiriman barang subuh tadi. Tiba-tiba mereka terhenyak, sebab ketiganya sama-sama meminta bantuan kepada orang yang satu. Bagaimana bisa, barang-barang mereka terkirim pada saat yang bersamaan oleh orang yang sama; si kakek tukang sapu?

Sejak pagi itulah, “pergunjingan” perihal karamah kakek tukang sapu merebak. Manusia yang rendah hati itu tentu bukan orang biasa. Dia tentu kekasih (wali)-nya Allah.

Esoknya, setelah sepanjang hari kemarin para pedagang di pasar sibuk membicarakan karamahnya, si kakek malah tidak muncul. Usut punya usut, ia dikabarkan meninggal dunia. Konon, setelah semua orang tahu akan rahasianya, si kakek bermunajat kepada Allah. Ia berucap, kira-kira, “Ya Allah, karena rahasia-Mu ini sudah tersibak, maka kembalikanlah aku ke sisi-Mu”. Dan permintaannya dikabulkan.

Fragmen cerita di atas mengingatkan kita pada pendapat Sayidina Umar ibn al-Khattab. Menurut beliau, keberadaan para kekasih Allah (waliyullah), akan senantiasa disamarkan (mastur) oleh-Nya. Kita tidak pernah tahu, siapa-siapa saja yang diangkat menjadi kekasih oleh-Nya, seperti kakek tadi, atau malah justru para pengemis, atau orang yang kita nilai gila di jalanan, atau bahkan orang terdekat kita sendiri, atau justru orang yang sedang berada di hadapan Anda sekarang ini (ketika membaca tulisan ini). Allahu a’lam. Pendapat ini diamini oleh banyak ulama, meski beberapa yang lain tidak menyepakatinya (sebab beberapa banyak wali ada yang justru amat jelas terlihat).

Dalam kaitan dengan kekasih-kekasih-Nya yang mastur itu, pelajaran yang kita petik adalah supaya kita tidak gegabah dalam menilai orang, apalagi sembrono menista dan atau mencemooh orang lain. jangan-jangan, orang yang kita nista itu adalah justru kekasih-Nya?

Yang menjadi soal adalah suatu saat Allah berfirman, sebagai Hadits Qudsi; “Barang siapa melukai kekasih-Ku, maka Aku akan balik memusuhinya”. Diceritakan bahwa dulu, ketika Syaikh Abdul Qadir Jailani masih hidup, orang yang menyebut nama beliau tanpa berwudhu, langsung terputus kepalanya. Ini karena, seperti Firman Allah kepada beliau, “Abdul Qadir, engkau mengagungkan Asma-Ku, maka aku pun memuliakan namamu”. Al-hasil, apakah kita memang berniat menjadi musuh-Nya?

Wallahu a’lam bis shawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 11/05/2011 by in Editorial IM and tagged , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: