Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Fulan

Ketika masuk ke dalam masjid, sejak semula si Fulan memang tidak berniat untuk beribadah. Profesinya pencuri dan karena itu ia tak memiliki maksud selain menjarah apa saja yang ditemuinya di sana.  Usai mengikuti  shalat jama’ah, tiba-tiba saja ada sesuatu yang mendorongnya untuk turut ke dalam forum pengajian yang diasuh oleh Nabi Saw. Tidak semua petuah beliau dipahaminya, memang, tetapi poin utama yang terngiang di telinganya adalah sabda beliau; “man tarakal haram, nalal halal”, sesiapa meninggalkan yang haram, ia akan beroleh yang halal. Karena sabda inilah pula Fulan kemudian mengurungkan niatnya untuk mencuri di masjid.

Maka ia pun pulang. Termotifasi oleh sabda Nabi tadi, Fulan bertekad menghentikan kebiasaannya mencuri. Selanjutnya ia akan berdiam saja di rumah. Ia percaya, dengan meninggalkan kebiasaan mencuri (haram), ia akan memperoleh yang halal.

Tiga hari berlalu, yang ia tunggu tak jua datang. Kemanakah sesuatu yang halal itu? Fulan mulai putus asa. Maka malam harinya, Fulan kembali mengulang kebiasaan lama. Kali ini ia menyatroni sebuah rumah mewah. Konon rumah itu kepunyaan seorang janda muda yang baru saja ditinggal mati sang suami.

Fulan masuk lewat pintu belakang. Pertama-tama, ia bertemu dengan makanan. Perut yang tidak makan tiga hari membuatnya segera mengemasi makanan lezat itu. Setelah siap diangkat, mendadak terngiang di kepalanya, “man tarakal haram, nalal halal”. Fulan meletakkan kembali makanan itu.

Berlanjut ke ruang tengah, Fulan membuka almari. Uang dan perhiasan terjajar di sana. Lagi-lagi ia kemasi harta itu, dan “man tarakal haram, nalal halal” itu muncul kembali. Fulan meletakkan bungkusan hartanya.

Pada saat ia berjalan mendekat ke sebuah kamar, tak dinyana Fulan melihat sosok janda yang tertidur pulas. Kecantikan janda itu tak pelak membuatnya tergoda. Fulan pun mendekatinya. Dan, lagi-lagi, “man tarakal haram, nalal halal”. Ah, kali ini persetan, batinnya. Fulan semakin mendekat. ia hendak mengecup janda itu, dan “man tarakal haram, nalal halal”. Ia hendak memegang-megang janda itu, dan “man tarakal haram, nalal halal”. Fulan ketakutan teringat sabda Nabi itu, maka ia pun kemudian memutuskan untuk memegang-megang kaki si janda saja, bukan yang lain.

Tentu saja, janda itu pun terbangun. Tetapi ia tak berani berteriak. Ia khawatir orang yang sedang memegang-megang kakinya itu justru berbalik mencekiknya. Ia juga riskan, jangan-jangan kehormatannya direnggut orang itu. Janda itu hanya diam, sambil ancang-ancang teriak kalau saja orang itu bertindak lebih jauh.

Tidak, adzan subuh pun tiba. Fulan bergegas keluar dari rumah si janda. Niat untuk, maaf, menyetubuhi si janda diurungkannya. “man tarakal haram, nalal halal”. Ia kembali dengan tangan hampa. Dalam kondisi demikian, Fulan pun masuk masjid Nabi dan mengikuti jama’ah shalat subuh.

Ba’da subuh, Fulan tidak segera pulang. Ia ingin berlama-lama di Masjid untuk bermunajat kepada Allah. Pada saat yang sama, sang janda yang rumahnya habis disatroni pencuri, melapor kepada Nabi. Detil cerita disampaikannya kepada Nabi. Dan Nabi pun bertanya, “Engkau ingat bagaimana orang itu?”. Sang janda mengangguk. “Apakah orang itu sama dengan orang yang sedang beri’tikaf di masjid itu?”. Sang janda menyelidik. “Iya, betul,” katanya.

Fulan dipanggil oleh Nabi, dan ia pun kemudian menceritakan “perjalanan”-nya dari awal hingga akhir. Nabi tersenyum, dan kepada si janda, beliau bersabda; “Hai janda, tidak perlu khawatir. Dia orang baik. Jika engkau berkenan, bagaimana jika kau ambil dia sebagai suamimu?”. Si janda yang sejak tadi ikut mendengar cerita Fulan, mengangguk. Fulan dan janda pun menikah.

Demikianlah, Fulan meninggalkan yang haram, dan selanjutnya memperoleh yang halal. Ia kini bisa makan enak, punya banyak harta, dan juga isteri yang cantik (padahal yang terakhir ini tak pernah ia harapkan sebelumnya). Selamat mengambil ibrah !

Wallahu a’lam bis shawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 11/05/2011 by in Editorial IM and tagged , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: