Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Kasab

Setelah dua belas tahun, tiba-tiba saja karunia itu raib tanpa bekas. Biasanya, setiap ba’da Isya’, keluarga kecil nan papa (baca; miskin) itu mendapatkan “jatah” makanan langsung dari langit. Dzinnun, sang kepala keluarga, mengira  jatah makanan langsung dari langit itu adalah sebab ia telah berbanyak ibadah. Ternyata, ia baru sadar belakangan, dugaannya tersebut meleset. Makan malam gratis tersebut dikirimkan oleh Allah karena di dalam keluarga kecilnya itu terdapat salah seorang kekasih-Nya. Ya, anak perempuannya yang masih kecil dan yang beberapa saat lalu meninggal itu.

Anak perempuan itulah yang dua belas tahun lalu diajaknya pergi ke sungai. Berjam-jam melempar jala, Dzinnun dan anaknya tak juga berhasil menangkap ikan. Matahari telah meninggi ketika seekor ikan kecil tersaring oleh jala mereka. Dzinnun gembira tak alang kepalang. Ia lantas menyuruh anak perempuannya mengambil ikan yang tersangkut itu. Si anak menuruti perintah ayahnya. Tetapi aneh, setelah mengambil ikan kecil yang tertangkap, anak perempuan  tersebut tidak segera memasukkannya ke dalam wadah. Dipandanginya ikan yang, karena terangkat ke darat, mulutnya terbuka dan mengatup. Bukannya dimasukkan ke dalam wadah, oleh si anak perempuan ikan itu dilepaskan lagi ke dalam sungai. Dzinnun terkejut bukan main. Sudah setengah hari tak mendapat ikan, sekali menangkap ikan kecil, dilepas lagi.

“Kenapa kau lepaskan lagi, anakku?”, tanya Dzinnun.

Jawaban anak kecil itu sungguh mengejutkan, “Aku tak tega, wahai Ayah, memakan makhluk Allah yang sedang berdzikir. Mari kita pulang saja, semoga Allah menganugerahkan kita rezeki yang lain”.

Kali ini Dzinnun menurut. Zhuhur itu mereka pulang. Mereka kemudian hanya menunggu rezeki dikirim Allah ke rumah. Sampai Ashar, rezeki-Nya tak juga dikirim. Perut Dzinnun sudah keroncongan. Ba’da Ashar, yang ditunggu belum terlihat juga. Keluarga itu pun terus bersabar. Maghrib, belum ada tanda-tanda. Pasca maghrib, masih seperti sedia kala. Isya’, sama saja. Ba’da Isya, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu membawakan makanan. Keluarga itu pun akhirnya memperoleh rezekinya. Setelah kejadian inilah, selalu setiap ba’da isya’, mereka mendapatkan kiriman makanan dari Allah. Sampai anak perempuan itu meninggal dua belas tahun berselang.

  Demikianlah, Allah berfirman: “Man yattaqillaha yaj’al lahu makhraja wa yarzuqhu min haitsu la yahtasib”. Orang yang bertakwa kepada-Nya, akan diberi oleh-Nya jalan keluar, dan mengaruniakan kepadanya rezeki yang tiada terduga. Inilah yang terjadi pada keluarga Dzinnun Al-Mishri. Tetapi yang menjadi soal, apakah dengan menyebutkan kisah di atas, dan atau ayat di atas, kita kemudian berkesimpulan bahwa kita hanya harus menyibukkan diri beribadah, serta melupakan kerja, karena dengan begitu Allah dengan sendirinya akan mengirim rezeki? Sama sekali tidak. Seperti telah disebut, Dzinnun sendiri bahkan telah salah sangka. Rezeki itu ternyata bukan semata karena ibadahnya, tetapi lebih dari itu salah satu anggota keluarganya masuk dalam kelompok kekasih Allah.

Dalam hal rezeki, manusia sebetulnya terbagi menjadi dua tingkat; maqam kasab dan maqam tajrid. Kita yang berada pada maqam kasab, yang masih diharuskan berusaha, tidak bisa mengklaim diri sebagai telah ber-maqam tajrid (di mana seseorang justru hanya harus bertawakkal). Seorang ber-maqam kasab masih diharuskan untuk berkerja dan berusaha, sembari tawakkal di dalam hati. Sejarah menyebutkan, para waliyullah dalam soal rezeki masih berada di maqam kasab. Orang-orang macam Hatim al-‘Asham, Imam Abu Hanifah, dan lain-lain adalah –meskipun kekasih-Nya juga– tetap bekerja. Mereka tahu diri. Mereka tidak mengklaim diri sebagai kekasih-Nya dan karena itu merasa sudah tidak diharuskan untuk bekerja.

Karena itu sangat ironis, dengan alasan bahwa rezeki sudah ditanggung oleh-Nya, banyak orang kemudian memutuskan untuk hanya “mengabdi” kepada-Nya. Namun begitu, pada saat yang sama, ketika rezeki itu tak segera dikirim oleh-Nya, ia pun mengeluh, meminta-minta pada orang lain, dan seterusnya, dan sebagainya. Orang-orang inilah yang tidak sadar sedang berada di maqam kasab, sembari mengeklaim diri sebagai sudah melampaui maqam tajrid.

Wallahu a’lam bis shawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 20/04/2011 by in Editorial IM and tagged , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: