Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Karom

Setiap pagi, orang-orang pada bergerombol di depan rumahnya. Si empunya rumah memang memutuskan untuk membuka lebar-lebar pintunya bagi para tetamu. Ya, setiap pagi, si empunya rumah menyediakan masakan ala kadarnya buat orang yang berkunjung. Sarapan itu gratis, dan setiap pagi kediaman Nabiyullah Ibrahim yang murah hati itu terllihat meriah.

Hingga suatu pagi seseorang asing mendekat. Ia memang sudah sejak lama mendengar kabar tentang kebaikan sang Nabi. Namun sayang, selama ini ia enggan mendekat. Ada sesuatu yang mencegahnya. Keyakinan keagamaannya berbeda dengan yang diyakini oleh Ibrahim. Tetapi, pagi itu, oleh sebab satu dan lain hal, ia terdorong untuk turut berkunjung juga.

Ibrahim agak penasaran dengan “orang baru” itu. Karenanyalah Ibrahim menghampiri, lalu bertanya; “siapa engkau?”. Orang asing itu menjawab, “aku fulan”. Ibrahim bertanya lagi, “apa agamamu?”. Orang itu bergeming, tetapi terus membuka mulut, “agamaku anu (tidak disebut secara eksplisit pada tulisan ini”. Ibrahim agak terhenyak, dan lantas berkata, “kisanak, kalau engkau ingin sarapan di sini, engkau mesti berucap syahadat dulu”. Orang asing itu kaget. Ia menolak dan selanjutnya meninggalkan rumah Ibrahim. Ia tak jadi ikut menyantap sarapan.

Tak lama sesudah “insiden” itu, Allah Swt memanggil sang Khalil (julukan untuk Ibrahim). Allah menegur, “Hai Ibrahim, mengapakah engkau mesti membeda-bedakan orang yang hendak kau santuni? Apakah engkau tak pernah melihat-Ku? Berapa banyak orang yang telah Aku perintah untuk memercayai-Ku, tetapi mereka malah menolak-Ku mentah-mentah? Berapa orang telah Aku perintah untuk tunduk terhadap perintah-Ku, tetapi mereka senantiasa ingkar? Tidakkah engkau melihat-Ku, wahai Ibrahim? Orang-orang itu tetap Aku kasihi, Aku tetap memberikan kepada mereka apa-apa yang mereka perlukan (rizki). Beberapa banyak dari mereka malah Aku buat berlimpah-limpah harta. Tidakkah engkau menghayati af’al-Ku ini, hai bapak Ismail?”.

Ibrahim hanya sanggup bergeming. Kita pun, bila berada di posisi sang kholil, akan mengalami perasaan yang kurang lebih  serupa. Tetapi pada akhirnya kita tahu, betapa watak manusia dan betapa pula “watak” Tuhan. Dalam hal ini, kedermawanan dan atau sikap kasih sayang manusia jauh berada di bawah kedermawanan dan kasih sayang Allah. Dan betul saja, secara teologis (akidah), memang taka da yang bisa menyamai Tuhan, termasuk di sini, kedermawanan dan kasih sayangnya. Allah Maha Dermawan (karim) yang bersifat karam (derma), sementara kita hanya mampu ber-sakha’. Bahkan banyak dari kita malah tak punya kedermawanan sama sekali, serta puas dengan sikap bakhil (kikir).

Sakha’ adalah kedermawanan yang menunggu diminta, sementara karam adalah kedermawanan tanpa didahului oleh permintaan. Selain itu, sifat karam ini mengandaikan bahwa hal yang diberikan selalu lebih dari sekedar memuaskan, berbeda dari sifat jud yang sebetulnya memiliki makna mirip dengan karam.

Demikianlah, Allah (Al-Karim) memberi siapapun tanpa diminta. Sekali memberi, pemberian itu senantiasa lebih di atas memuaskan. Kita? Betulkah kita memiliki rasa cinta yang tidak didahului oleh prasangka? Betulkah kita akan ditegur oleh-Nya seperti Nabi Ibrahim, akibat tak peduli dengan contoh-contoh akhlak-Nya?

Wallahu a’lam bis shawab.

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 13/04/2011 by in Editorial IM and tagged , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: