Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Teori Tabir Asap

Pada logika (ilmu logika), kita berkenalan dengan non causa pro causa atau post hoc ergo propter hoc. Satu dari sekian bentuk Logical Fallacy alias Sesat Pikir. Kita tidak bisa begitu saja memperkaitkan dua hal yang seakan-akan memiliki hubungan oleh sebab kedekatan waktu. Dua peristiwa yang datang secara berurutan tidak serta merta memiliki kaitan logis. Paling jauh kaitan yang terjadi cuma hubungan semu, dan bukan sama sekali menunjukkan makna sebab akibat. Ya, dua hal (atau peristiwa) yang muncul dalam tempo berdekatan tidak selalu mempunyai kaitan sebab akibat sebelum betul-betul dibuktikan bahwa pola hubungannya memang seperti itu (sebab-akibat).

Saya, umpamanya, bertamu ke sebuah rumah. Memang saya tak pernah pergi ke tempat (rumah) itu sebelumnya. Tiba-tiba saja, setelah saya meninggalkannya, rumah itu terbakar hebat, atau taruhlah mendadak salah satu anggota keluarga di rumah tersebut sakit. Apakah kebakaran itu terjadi akibat kedatangan saya? Apakah anggota keluarga rumah itu menjadi sakit sebab saya bertamu ke sana?

Kita barangkali memang boleh curiga. Tetapi, sekali lagi, dalam term logika, kesimpulan yang didasarkan kepada pola pikir yang demikian tidak bisa dibenarkan. Bahkan salah.

Tetapi polisi tak mungkin bekerja tanpa kehadiran saksi dan bukti. Tetapi polisi tidak mungkin menangkap pelaku tindak kejahatan tanpa setidak-tidaknya kecurigaan. Tetapi polisi memang harus curiga terlebih dulu, sebelum kemudian menyimpulkan. Dengan hanya curiga, bukan kesimpulan yang sepihak, menghubungkan dua peristiwa yang memiliki kedekatan waktu, tidak sekaligus membuat seseorang terjerumus kepada  Logical Fallacy.

Dus, dengan demikian, meski sebetulnya sedikit keliru, pola pikir utak atik matuk semacam itu terkadang diperlukan, pun sudah dipraktekkan, meski kita tak menolak bahaya yang mungkin ditimbulkannya.

Dan…

Ada bom meledak di Utan Kayu. Bom lain, yang dikirim dengan pola mirip, yakni dengan menyusupkannya ke dalam sebuah paket buku, juga dikirim ke BNN (tujuan Goris Mere) dan markas Pemuda Patriot (Japto Soerjosoemarno).

Amat sulit melacak motif pelaku (apalagi pelakunya). Sebab apabila sebelumnya bom Utan Kayu dihubung-hubungkan dengan “kebencian” sebagian kalangan terhadap keberadaan JIL (Jaringan Islam Liberal), maka belakangan diketahui betapa bom itu bukan cuma soal, setidaknya untuk sementara bisa disimpulkan, perkara ideologis yang melibatkan pertarungan antara kelompok muslim fundamentalis vis a vis liberalis.

Ya, ada ambiguasi di sini. Kenapa BNN (Badan Narkotika Nasional)? Kenapa Japto (pemimpin Pemuda Patriot)?

Lepas dari pertanyaan terkait siapa pelaku dan apa motifnya, beberapa orang mengajukan sudut pandang lain -yang sebetulnya sudah lumrah juga.

Teori Tabir Asap (Smoke Screen Theory).

Bahwa, suatu peristiwa dengan sengaja dimunculkan untuk menutup atau mengaburkan, seperti asap, persoalan yang lebih besar. Semakin besar soal yang hendak ditupi, semakin agung pula pola peristiwa yang dijadikan sebagai obyek rekayasa.

Dalam hal ini, teror bom memang suatu ancaman yang amat serius. Ia digunakan oleh beberapa orang terselubung (invisible man) untuk menyelubungi persolan yang juga sangat serius (atau bahkan lebih serius).

Kronologinya sebagai berikut…

Sebelum teror bom terjadi, nama Yudhoyono dikait-kaitkan dengan perilaku tercela. Ia dituduh menyalahgunakan kekuasaan (Abused a power) oleh dua koran ternama Australia. Kedua koran itu mengutip bocoran kawat yang dipunyai situs Wikileaks.

Nah, ada dua peristiwa yang berdekatan. Bocorang tentang perilaku kerajaan Yudhoyono dan kemudian teror bom. Masalahnya, betulkah kedua hal tersebut tidak saling berkaitan?

Semoga betul-betul tak ada asap…

 

 

 

Iklan

2 comments on “Teori Tabir Asap

  1. ucil
    22/11/2011

    Pas aku moco tulisan iki eh kok dadak duwetku entek!
    jangan2. . . .

    • Elha Husnan
      22/11/2011

      Hahaha… Duitmu entek gara-gara moco tulisan iki. Logical Fallacy lagi dong…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 02/04/2011 by in Journey and tagged , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: