Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Karkhi

Ma’ruf hidup dalam suasana yang serba bersahaja. Kondisi orang yang kemudian juga dikenal dengan sebutan Al-Karkhi itu bahkan bisa dibilang miskin. Banyak sahabat yang prihatin dengan keadaannya. Tetapi celaka, sudah tahu tak punya apa-apa, ia betul-betul ngotot tak mau menerima –apalagi– meminta bantuan dari orang lain (lebih-lebih kepada pemerintah). Betapapun hal itu sebetulnya amat mudah buatnya.

Ma’ruf adalah, meskipun masuk dalam golongan “rendahan”, salah satu orang yang disegani oleh Khalifah. Ilmunya, kesalehannya, keindahan akhlaknya, membikin siapapun “tunduk”.

Maka, tersebutlah suatu saat ketika Ma’ruf diserang penyakit ganas. Sedemikian rupa tanpa biaya sepeser pun untuk berobat, semakin membuat para sahabatnya tak tega. Mereka sudah berusaha untuk membujuk Ma’ruf untuk meminta bantuan kepada khalifah. Sayang sekali, Al-Karkhi menolaknya.

Konon suatu hari, ketika sakit Ma’ruf semakin mengeras, dan karenanya membuat para sahabat serta muridnya bertambah duka, beberapa orang diantara mereka mengambil inisiatif untuk menghadap Khalifah. Di istana, mereka menghaturkan hajat meminta bantuan terkait penyakit sang guru sufi. Khalifah pun akhirnya memberi bantuan sebesar 2000 dirham.

Hanya naas, Ma’ruf mengetahui ulah para sahabatnya itu. Maka sebelum bantuan diserahkan ke tangannya, Ma’ruf menyempatkan diri untuk bermunajat; “Ya Allah, jangan Engkau karuniakan rizki yang tidak berasal dari-Mu”. Mendadak tidak lama setelah ia berdoa, Ma’ruf pun meninggal dunia.

Bantuan khalifah sebesar 2000 dirham itu pun urung ia pegang, sebagaimana ia sendiri memang menghendaki hal itu. Akhirnya, oleh para sahabat, duit itu dibagi-bagikan kepada khalayak faqir dan miskin atas nama Ma’ruf Al-Karkhi.

Barangkali bagi kita, sikap yang dengan konsekwen dipegang oleh Ma’ruf Al-Karkhi ini terdengar amat naif. Mengapakah, misalnya, untuk kepentingan yang kita klaim sebagai kebutuhan orang banyak, kita tidak mencoba untuk memohon bantuan kepada pihak-pihak yang berpunya, diantara dan terutamanya pemerintah? Kita tak tahu persis alasan apa yang mendorong Ma’ruf Al-Karkhi berbuat demikian. Yang sementara ini bisa kita tahu adalah sikap Ma’ruf yang seperti inilah yang kelak ditiru oleh para ulama salaf. Barangkali bukan karena apa-apa, seperti mungkin ada motifasi-motifasi politik tertentu. Ulama-ulama ini, sekali lagi barangkali, hanya hendak mengambil jarak dari kemungkinan lahirnya ambisi dan atau kepentingan pribadi (sekalipun ulama, mereka tetap saja manusia yang kerap digoda oleh hawa nafsu).

Syahdan, nun jauh di sana, seorang ulama sepuh membangun pesantren secara swadaya bersama masyarakat dan orang tua santri. Seperti Al-Karkhi, ia menolak dengan halus bantuan-bantuan pemerintah yang dimaksudkan untuk pembangunan pesantren. Akan tetapi di sisi lain, ia tak menolak bantuan tersebut jika itu ditujukan untuk panti asuhan yang juga dia dirikan. Mengapa? Sebab, menurutnya, anak-anak yatim itu adalah sebetulnya tanggung jawab pemerintah. Dus, ada pesantren dan ada panti asuhan. Keduanya dikelola dengan manajemen yang berbeda. Mengapa mesti dibedakan? Sebab ada ayat yang artinya, Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara lalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Ala kulli hal, sang kyai sendiri hidup dengan amat bersahaja.

Wallahu a’lam bis shawab.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 30/03/2011 by in Editorial IM and tagged , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: