Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Kabul

Musa As terlibat pembicaraan unik dengan Tuhannya (Allah Swt). Ketika itu ia “protes”, mengapakah Tuhan (Allah Swt), menciptakan manusia, jika kemudian memasukkan mereka ke neraka? Bukankah hal itu tak cukup fair? Manusia tak pernah menghendaki lahir di dunia ini, semua kemauan (Iradah) Allah. Tetapi sekali mereka wujud, dan lalu berbuat sesuatu yang dinilai menyalahi aturan-Nya, ia lantas dijebloskan ke dalam neraka? “Tuhan, betulkah Engkau menciptakan manusia hanya untuk memasukkannya ke neraka?,” desak Musa.

Allah bergeming. Barangkali juga tersenyum melihat laku hamba-Nya yang satu ini. Tidak ada jawaban dari-Nya, dan Allah hanya memberi Musa beberapa biji tanaman. Allah memerintahkan Musa untuk menanamnya dan juga, apabila tumbuh, merawatnya. Setelah besar nanti, Musa juga diperbolehkan memetik buahnya.

Hari berlalu tanpa jawab dari-Nya. Tanaman Musa semakin meninggi.

Tiba saat panen, Musa –sesuai arahan dari Allah– bersiap memanennya. Pasca panen inilah Allah “muncul” lagi di hadapan Musa.

“Bagaimana tanamanmu, Musa?” Allah bertanya.

“Segala puji bagi-Mu, cukup lumayan,” jawab Musa.

“Apakah semua buah kau masukkan ke dalam karungmu, wahai Musa?”

“Tentu tidak,” seloroh Musa, “ada beberapa banyak buah yang busuk, yang berulat, aku pisahkan dari buah-buah yang bagus. Buah-buah busuk itu telah kubuang”.

“Nah, Musa, demikianlah jawaban dari apa yang kau tanyakan tempo hari”.

Musa “terbengong-bengong”. Beberapa saat kemudian ia tersadar.

Seperti kita menanam sesuatu dengan kehendak kita sendiri, begitulah Allah menciptakan manusia. Dan seumpama kita memilah-milah hasil panen dari pohon yang kita tanam, demikianlah pula Allah kemudian memasukkan beberapa manusia busuk ke dalam sampah neraka.

Yang menjadi soal benar buat kita adalah kita acapkali menuntut Allah untuk melakukan apa yang kita kehendaki. Kita tak pernah menimbang segala sesuatu dari sudut pandang Allah. Padahal kita cuma makhluk, sementara justru Allah-lah yang Khalik. Kita hanya hamba, tetapi kita lebih kerap belagak seperti bos, bahkan di hadapan Allah. Kita berdoa, dan doa kita tak segera dikabulkan oleh-Nya. Kita kemudian bertanya, sembari protes, kepada-Nya; “Katanya Engkau Maha Pengasih? Lalu kenapa doaku tak Engkau kabulkan?”. Dus, kita menuntut-Nya. Pada titik yang hampir bersamaan, kita juga mulai terjebak dalam prasangka buruk kepada-Nya. Sesuatu yang amat dilarang.

Pertanyaannya, manakah yang kita ambil, pilihan kita sendiri atau pilihan Allah? Allah pernah berjanji, ud’uni astajib lakum, berdoalah kepada-Ku dan Aku akan mengabulkan untuk-Mu. Dari titik ini, meski secara lahir apa yang kita pinta di dalam doa tidak atau belum terwujud, Allah sebetulnya sudah memberi kita sesuatu yang malah lebih baik daripada yang kita pinta. Jikapun belum terkabul maka Allah akan mengabulkannya pada saat yang lain yang lebih tepat. Barangkali saja alasan Allah tidak mengabulkan doa kita adalah karena Allah betul-betul amat mengerti kondisi kita (hamba-Nya yang amat dia sayangi). Barangkali saja, kita yang meminta keberlimpahan rejeki, tak segera memerolehnya karena Allah tahu jika kita diberi rejeki yang seperti itu, kita lantas melupakan-Nya?

Beberapa hal penting yang musti kita pegang; kita hanya hamba, bukan juragan di hadapan Allah. Yakinlah bahwa tidak satu doapun dari hamba-Nya yang tak terkabulkan.

Wallahu a’lam bis shawab.

Iklan

2 comments on “Kabul

  1. guru rusydi
    27/03/2011

    sumber tulisan di atas ada gak? analogi yang bagus, tapi jangan sampai salah diartikan saja. saluuut.

    • Elha Husnan
      30/03/2011

      Terima kasih. Sayang sekali, bahkan saya sendiri belum sempat menemukan sumber tertulis. Kisah tentang Musa, kalau tidak salah, saya peroleh dari pengajian-pengajian di pesantren dulu. Jadi, hampir seluruhnya berdasarkan ingatan, yang kemudian saya rekonstruksi. Belakangan saya sangsi, apakah betul cerita-cerita itu saya dengar dari Kyai, ataukah saya dapat dari membaca entah di mana? Maaf!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 23/03/2011 by in Editorial IM and tagged , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: