Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Iram

Ibrahim diperintah menaiki sebuah gunung. Ada apa? Konon, hari itu sang khalilullah akan memeroleh pelajaran penting. Di puncak gunung, Ibrahim menemukan sebuah rumah asing. Di dalam, ia menemukan sebuah tempat tidur tertata rapi. Kaki-kaki tempat tidur itu terbikin dari emas. Pada bagian atas, taburan mutiara menjadi penghias. Tempat tidur itu dialasi dengan sutera. Lebih menakjubkan, di atasnya terbaring sesosok lelaki dengan balutan 70 jenis perhiasan. Mulai dari mahkota emas, giwang berlian, kalung permata, dan lain sebagainya. Pastilah, sosok yang sudah tak bernapas ini dulunya adalah seorang raja.

Betul, lelaki itu memang mantan penguasa. Di atas tempat tidur itu terpacak sebuah batu pualam bertulis, “aku Syadad bin Ad. Aku hidup 1000 tahun, memenangi 1000 pertempuran, menikahi 1000 gadis, memiliki 1000 anak lelaki, membangun kota Iram. Allah menjadikanku peringatan buat orang-orang setelahku”.

Syadad termasuk satu dari empat orang yang pernah menguasai seluruh wilayah di bumi. Syahdan, bumi ini pernah berada dalam satu bendera, berada di bawah satu komando penguasa. Empat orang yang pernah memiliki kesempatan tersebut, dua orang kafir dan dua orang muslim, antara lain; Namrud bin Kanan, Syadad bin Ad, Sulaiman bin Daud, dan Iskandar Dzulqarnain.

Syadad adalah dia, yang karena pernah mendengar sebuah cerita tentang surga dari kitab samawi, berencana membangunnya di muka bumi. Maka diperintahkannya 10.000 orang arsitek untuk mensurvey, dan kemudian merealisasikan obsesinya. Tetapi celaka, Syadad membiayai mimpi gilanya itu dengan cara yang tak elok. Ia meminta, bahkan merampas, semua harta yang dipunyai oleh rakyatnya. Emas dan perak ditarik dari peredaran. Suatu saat, harta warisan seorang anak yatim pun disikat.

200 tahun, dan bangunan “surga” pun berdiri. Kota megah itu dinamai iram, yang dalam surat Al-Fajr ayat 7 disebut sebagai dzatul ‘imad (berbangunan tinggi), di shan’ah Yaman sekarang. Tepat pada saat peresmian, ketika para pejabat sama berkumpul untuk menikmati kemolekan “surga”, jibril “menyentil” mereka dan praktis kota tersebut ambruk. Semua orang mati. Mayat Syadad sendiri kemudian diangkat ke sebuah gunung, dipakai sebagai simbol kepongahan.

Satu hal penting kita dapat. Bahwa, ternyata dunia bukanlah segala-segalanya. Bukan ia yang mengukuhkan kita, bukan ia yang membuat kita sejahtera. Kita acap mendengar cerita, orang-orang yang kita sebut sukses berhasil mengumpulkan banyak kekayaan. Tetapi, sekonyong-konyong, ia tak bisa menikmatinya. Ia boleh banyak jadi duit, tapi harta itu ternyata tak bisa ia nikmati. Ia dilarang makan ini itu karena penyakit yang didera. Dilarang begini begitu sebab dokter mencegahnya. Belum lagi jika ia mati, akankah pabrik-pabrik itu akan turut dikuburkan juga?

Seperti kota Iram, pada dasarnya kenikmatan duniawi mudah ambruk. Ia amat rentan, atau setidak-tidaknya gampang oleng. Memang mencari kelezatan duniawi bukan soal yang diharamkan, tetapi selalu bersandar kepadanya? (ah, kita masih saja merasa tenang apabila ada sejumput uang sebelum pergi tidur, tanpanya kita seperti diserang insomnia). Sebagai tempat bergantung, ia rentan ambruk. Bahkan, bercermin kepada Syadad, kecintaan terhadap dunia inilah yang lantas mendorongnya berbuat tak patut. Hanya satu hal yang tak mungkin roboh, dialah Allah. La hawla wa la quwwata illa billah.

Karena itu, sangat indah sebuah syair dalam bahr basyith,

Li kulli syai’in idza farraqtahu ‘iwadhun, wa laisa lillahi in farraqta min ‘iwadhin.

Segala sesuatu, jika kita berpisah darinya, pastilah ada ganti

Tetapi Allah, ketika kita berpisah dari-Nya, adakah ganti yang patut?

Demikian pelajaran dari Ibrahim ‘alaihis salam.

Wallahu a’lam bis shawab.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 16/03/2011 by in Editorial IM and tagged , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: