Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Umar III

Tulisan ini berangkat dari sebuah syahdan, sebilah konon…

Hari itu  sudah ditunggu. Raja (atau Khalifah) Sulaiman mengumumkan pilihan. Beberapa saat sebelumnya, dua buah nama telah diajukan. Ya, setelah beberapa tahun memerintah, khalifah Sulaiman kini berniat melepas jabatan; dicarinyalah sosok pengganti yang tepat untuk melanjutkan tampuk kepemimpinan. Sulaiman, sang khalifah dimaksud, adalah putera dari Malik bin Marwan, yang memerintah kekhalifahan Bani Umayah dalam kurun yang cukup singkat, antara tahun 715-717 M. Usia yang renta, terbukti ia kemudian wafat pada tahun terakhir pemerintahannya tersebut, atau mungkin juga karena motif lain, “memaksanya” untuk memilih satu dari dua bakal khalifah yang diusulkan; Umar bin Abdul Aziz, sepupunya, atau Hisyam ibnu Malik, adiknya sendiri.

Pelbagai analisis pun tertepis, ketika Khalifah pada akhirnya memilih Umar bin Abdul Aziz. Banyak kalangan terkejut, sebab jika yang diikuti adalah penalaran lazim, juga terutama karena sistem pemerintahan yang berlaku pada saat itu adalah bentuk yang mengabsahkan hak prerogatif dan atau kebijakan seorang penguasa, tentunya Hisyam lebih berpeluang. Bagaimana tidak, dari kedua calon, Hisyamlah sebetulnya calon mahkota itu. Di tengah monarki ketat ala abad pertengahan, Umar hanya seorang sepupu, dan Hisyam justru adik kandung sang Khalifah. Pun, berbeda dari Umar, yang lebih kerap menjauh dari tetek bengek birokrasi kerajaan, Hisyam dianggap lebih berpengalaman dengan bertahun berkecimpung mengawal kekuasaan sang Khalifah.

Maka wajar bila banyak yang dibuat heran. Dan yang menarik, kedua calon bahkan sempat, hampir secara refleks, mengucapkan dua bacaan yang sama. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, ucapan yang dianjurkan dibaca ketika muncul musibah. Bedanya barangkali hanya darii segi motifasi. Umar mengucapkan bacaan tersebut karena menganggap bahwa jabatan Khalifah adalah amanah yang berat. Ia berpikir, bukankah lebih mudah menjadi rakyat biasa belaka, seperti selama ini ia jalani, dan dengan begitu ia pun lebih enteng dan lebih fokus menghambakan diri kepada Tuhan. Walau pada akhirnya Umar memang tak bisa egois, umat –apa boleh buat– ternyata juga lebih menyukainya.

Dan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un Hisyam memiliki pemaknaan lain. Hisyam, wallahu a’lam, setidaknya dalam fragmen kisah ini, lebih dicitrakan sebagai manusia yang amat gandrung kepada kekuasaan. Maka bagi Hisyam, spontanitas bacaan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, memang benar-benar berarti “musibah”; bahwa ia sudah sangat dekat dengan kekuasaan yang diidam, tetapi apa daya tangan tak segera bisa merengkuh keberuntungan (catatan; Hisyam baru berhasil naik tahta pada dua periode kemudian).

Nah, seperti telah dimasyhurkan oleh sejarah, Umar bin Abdul Aziz yang semula melihat kekuasaan sebagai “sumber malapetaka” itu, berhasil mencatatkan keberhasilan. Kesuksesan dalam wujudnya yang lebih prinsipil, yakni keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat yang ia pimpin, bukan sekedar penaklukan wilayah dan atau citra baik di mata internasional. Capaian inilah yang kemudian membuat Umar dijuluki sebagai Umar ke-II –merujuk pada popularitas Umar bin Khattab.

Berkah innalilalillahi wa inna ilaihi raji’un yang “salah tempat”? Mungkin saja. Tetapi yang lebih penting barangkali adalah mind set. Bayangkan umpamanya apabila setiap orang tidak lagi memiliki nafsu terhadap kekuasaan, dan sebaliknya, melihat hal itu tak lebih sebagai musibah? Andaikan semua orang lebih menyukai kehidupan ukhrawi, lebih besar daripada kecintaannya terhadap segala hal berbau duniawi? Klise, memang, sementara kita sendiri tahu, atau mungkin malah mengalaminya sendiri, semua orang lebih suka berebut kuasa; lebih senang ketika tercekat dalam sebuah jabatan.

Maka pertanyaannya, mungkinkah di jaman kita, akan muncul sesosok Umar ke-III? Manusia yang bukan hanya berkutat pada target kesuksesan, tetapi di atas segalanya, amat takut terhadap wa’id(ancaman) Tuhan (yang terakhir inilah sebetulnya yang mengantarkan kesuksesan Umar bin Abdul Aziz)? Dan, akhirnya, salahkah bila kita optimistis?

wallahu a’lam bis shawab.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 02/03/2011 by in Editorial IM and tagged , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: