Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Terdesak

Tersebutlah sebuah kisah. Pada suatu ketika, hiduplah seorang ahli shalah (orang yang rajin berbuat kebaikan, baik itu kepada sesama, juga baik kepada Tuhan –dalam arti ia termasuk golongan Ahli Ibadah). Ia menghidupi keluarganya dengan berburu. Suatu hari di dalam hutan, ia dikejutkan oleh seekor ular yang berlari terengah –barangkali orang ini memang memiliki karamah tertentu sehingga bisa memahami bahasa hewan, entahlah, kita ikuti saja ceritanya.

“Tolong aku,” kata si ular dengan tergopoh. “Aku dikejar-kejar orang jahat. Ia mau membunuhku”.

“Bagaimana aku bisa menolongmu?,” tanya orang tadi.

“Bukalah mulutmu, dan biarkan aku bersembunyi ke dalam perutmu”.

Orang shalih terkejut. Bagaimana jika ular tadi berbohong, dan lantas menyakiti dirinya? “Aku berjanji, demi Muhammad, Nabiku dan juga Nabimu, aku tidak akan menyakitimu,” sergah si ular meyakinkan. Mendengar nama Nabinya disebut, dan karena percaya dengan janji yang dibuat ular, orang tadi membuka mulut. Ular pun masuk ke dalam mulutnya.

Tak lama kemudian, seseorang membawa parang mendekat. “Kau lihat ular berjalan di sini?,” tanyanya. Orang shalih tidak mengiyakan. Tentu saja, saat itu, ketika ditanya itu, ia tidak sedang melihat ular. Ini bukan kebohongan, hanya hila, seperti yang juga pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim dulu pada peristiwa penghancuran berhala.

Dan pengejar ular pergi. Ular pun kemudian melongokkan kepalanya. Tetapi kali ini ia tidak benar-benar keluar, malah mengancam. “Pilihlah dua cara mati; kuremukkan jantungmmu atau liver (hati)mu?”. Orang shalih kaget. “Bagaimana dengan perjanjian kita?,” tanyanya kepada ular.

“Hahaha,” ular ketawa. “Bagaimana aku bisa melupakan permusuhan kaumku dengan bangsamu, wahai manusia? Masih ingatkah engkau dengan musuhku, bapakmu Adam? Sekarang pilih cara matimu, cari juga tempat terbaikmu untuk mati”.

Dalam keadaan terdesak itulah, orang shalih kemudian berdoa. Lirih, sangat menyayat. Mendadak seorang tua dengan wajah bersinar mendatanginya. Ia menyodorkan seutas dedaunan. Orang tua menyuruh orang shalih memakan itu.

Dan dimakannyalah. Ular di dalam perutnya pun hancur.

Belum habis keterkejutannya atas semua yang serba mendadak, ia bertanya asal usul orang tua yang menolongnya. Ia menjawab, “Namaku ma’ruf (kebaikan), tempatku di langit. Doamu yang menyayat itu telah mengguncang langit, dan aku dikirim untuk menyelamatkanmu”.

Demikian cerita tersebut selesai. Cerita yang mengisahkan tentang keajaiban doa. Dari sini kita tahu, kenapa suatu kali disebutkan bahwa salah satu doa mustajab adalah doa orang yang teraniaya. Karena dalam posisi terdesak seperti inilah kita terasa begitu dekat dengan Allah. Pada saat itu, kita merasa bahwa tak ada lagi yang sanggup menolong kecuali Allah. Dan kenapa doa ketika kita terdesak seperti ini kebanyakan mudah dikabulkan?

Sebab pada saat itulah kita benar-benar berada dalam posisi hamba, yang benar-benar memasrahkan segalanya kepada yang Maha Kuasa. Allah menyukai kita yang betul-betul menghayati status kehambaan ini. Dalam hikmahnya, Ibnu Athaillah menulis, “duduklah betul pada tikar hamba, jangan pernah menghasratkan kursi Raja”. Dalam keadaan terdesak, dan bukan pada saat normal, kebutuhan kita kepada Tuhan lebih nampak nyata.

Belajar pada keterdesakan, kenapa kita tidak belajar untuk menjadi hamba yang betul-betul hamba? Kenapa kita masih merasa bahwa semua yang kita peroleh ini adalah berkat usaha kita sendiri?

Wallahu a’lam bis shawab.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 02/03/2011 by in Editorial IM and tagged , , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 54,927 hits
%d blogger menyukai ini: