Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Tanpa Mazhab

Agama adalah, bagi kita, sekurang-kurangnya cara kita memandang fenomena kehidupan dan bagaimana, berdasarkan sikap pandang tersebut, kita memperbuat sesuatu. Agama adalah standar laku –juga parameter moral, dan Islam memberikan arahan bagi kita supaya berlaku sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh wahyu; apa yang difirmankan oleh Allah dan yang disampaikan kepada kita melalui lisan Nabi-Nya: Muhammad Saw.

Dalam pada itu, agama juga adalah bagaimana “memperlakukan” naskah-naskah keagamaan. Dalam konteks kita yang muslim, naskah keagamaan tersebut mewujud dalam Al-Quran dan Al-Hadits atau As-Sunnah. Dua hal, yang dihadapan kita telah terbentuk menjadi “teks” itu, adalah medan pembacaan, serta yang menjadi acuan utama dalam menentukan corak perilaku keagamaan yang akan kita pegang. Prakteknya, Al-Qur’an dan Al-Hadits menjadi sumber utama pembentukan hukum Islam atau biasa disebut fiqh.

Tetapi hukum islam bukan dibangun dengan semata-mata kedua hal tersebut. Para Ulama, Jumhur al-ulama’, sepakat bahwa hukum Islam disepuh dari empat hal ini; Al-Qur’an, Al-Hadits/As-Sunnah, Ijma’ (kesepakatan ulama berdasarkan pada acuan Al-Qur’an dan Al-Hadits), dan Qiyas (penyamaan hukum fenomena yang baru, yang tidak ditemukan nash-nya, dengan hukum fenomena yang terdapat nash-nya, karena terdapat kemiripan). Selain keempat hal yang telah disepakati tersebut, beberapa ulama juga mengajukan sumber-sumber hukum yang lain. Seperti istihsan pada hanafi, maslahah mursalah pada maliki, syad ad-dzari’ah pada maliki dan beberapa kelompok hanbali, dan lain-lain. Kesemua Ulama hukum (fiqh), memerinci dan menuliskan kitab-kitab standar laku (fiqh), berdasar pada sumber-sumber di atas.

Dari sini sebetulnya, pertanyaan-pertanyaan seperti “Mengapa harus ada mazhab segala, bukankah hal itu tak pernah ditemukan pada masa Nabi?”, sudah terjawab. Mazhab, atau keberadaan para Imam Allahu yarhamuhum, menjadi penting karena merekalah yang lebih dekat, dan tentunya lebih mengerti, ashalah (otentitas) ajaran Islam. Akan halnya penolakan dari beberapa kalangan yang mengaku berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits, tanpa memerhatikan pendapat para Ulama, dan dengan begitu merasa lebih ashalah (otentik), maka yang perlu kita tekankan adalah bagaimanapun apa yang kita klaim sebagai ucapan Al-Qur’an dan sabda Nabi itu sebetulnya pembacaan kita atas Al-Qur’an dan Al-Hadits, bukan hal itu an sich. seberapa tinggikah penalaran kita sendiri daripada perenungan para Ulama’ klasik? Para beliau itu memakai standardisasi yang, kalau kita mau mendalaminya –seperti dalam pembahasan ushl al-fiqh misalnya, amat hati-hati itu. Kita menyebut hal ini sebagai ikhtiyath. Nah, pertanyaannya, punyakah kita kualifikasi semacam itu?

Tetapi, juga atas dasar ikhtiyath, kita (termasuk yang sudah mengakui eksistensi mazhab) musti berhati-hati dalam melangkah. Barangkali kita memang telah menolak kelompok-kelompok yang menolak para Imam Mazhab, dan dengan mengklaim Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai “satu-satu”-nya landasan keagamaan mereka, tetapi ternyata kita masih saja memakai cara-cara seperti ini. Ambil misal, kita suka asal comot dalil-dalil Qur’ani atau Haditsi, tanpa merasa harus perlu memahami konteks soalnya, dan bagaimana penjelasan dari para ulama (tafsir, hadits, fiqh) atasnya. Hanya berdasarkan makna, yang seringkali kita dapatkan cuma dengan teks terjemahan, bukan kitab-kitab tafsir atau syarah hadits dan kitab-kitab fiqh, kita berani menjustifikasi hukum (atau beberapa perilaku yang non-hukmi) berdasarkan pada comotan dalil tersebut. Lalu, apa gunanya konsep  taklid (mengikuti pendapat ulama salaf)? Kita boleh jadi memang mendukung konsep tersebut, tetapi ternyata kita jugalah yang melanggarnya. Kita boleh jadi membela mazhab, tetapi kita jugalah yang acapkali bertindak tak ubahnya kaum tanpa mazhab.

Wallahu a’lam bis shawab.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 02/03/2011 by in Editorial IM and tagged , , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: