Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Sudut Pandang

Barangkali tepat apabila disebutkan bahwa tidak semua soal mungkin dan bisa terselesaikan dengan satu jawab. Tetapi juga sepertinya sesuai dengan kenyataan ketika dikatakan bahwa betapa banyak kita yang menginginkan adanya pemecahan masalah yang sederhana, tidak berbelit, tetapi mengena.

Satu perkara dinilai dengan banyak bahasa, banyak pikiran, banyak sudut pandang. Sebab itulah jagad pertelivisian kita riuh rendah oleh pelbagai-bagai ‘diskusi’. Satu kasus menjadi (dibikin dan diputar-putar sedemikian rupa?) kabur oleh debat-debat tak menentu, sehingga sangat wajar apabila kita yang di bawah, yang lebih menyukai kesederhanaan dalam pelbagai hal, merasa jemu dan kemudian menginginkan mono-jawaban. Barangkali kita juga menjadi semakin apatis.

Walaupun memang kita punya keinginan yang sederhana, kehendak yang sesuai dengan inti dan esensi dari masalah yang melanda, semestinya kita tidak bisa dan tidak boleh menjadi simplistis. Soal tertentu haruslah dicari jawab dengan berbagai sudut pandang. Asumsinya, keputusan yang akan diperoleh dari akumulasi berbagai sudut pandang akan terasa lebih menyeluruh. Karenanyalah diperlukan diskusi, musyawarah, bahtsul masail, dan atau rapat. Tanpa itu, dunia kita akan semakin menunjukkan watak totaliter –satu hal yang sulit dibayangkan dalam dunia yang beragam.

Bahkan dalam soal-soal fiqhiyah, kita menjumpai keberagaman itu. Bukan lagi perbedaan pendapat antar madzhab satu dengan yang lain (lintas madzhab), tetapi dalam satu madzhab pun perbedaan pendapat bisa saja terjadi. Pada mazhab Syafi’I umpamanya, kita lazim mengenal banyak pendapat yang berbeda di antara dua imam bernama Ar-Rafi’I dan An-Nawawi.

Belakangan, persoalan yang kita hadapi semakin kompleks. Satu soal tidak mungkin diselesaikan dengan hanya satu jawab yang hitam dan putih. Dalam hal menanggapi bencana misalnya, kita boleh saja memakai sudut pandang keagamaan, tetapi kita tahu, itu bukan satu-satunya jawab (meski kita sebetulnya boleh juga mengatakan demikian).

Dalam rangka mengafirmasi banyak sudut pandang inilah, beberapa banyak ulama kontemporer mulai melirik salah satu metode pencarian solusi menyeluruh, dengan melibatkan banyak sudut pandang. Ia diistilahkan dengan ijtihad jama’i. Intinya, pelbagai sudut pandang dikumpulkan menjadi satu, dan lantas ditata ke dalam rumusan yang mencakup keseluruhan. Sudah pasti, tidak semua masalah bisa dijawab secara penuh dan atau dirumuskan dengan sederhana (banyak di antaranya malah terjawab tafshil –banyak perincian). Tetapi satu hal yang kita peroleh, bahwa dengan begitu, kita diajak untuk senantiasa menyelesaikan masalah secara dingin serta mampu mempertimbangkan pendapat yang lain. Tidak menyelesaikan soal secara simplistis dan sepihak. Di sini kita diharapkan bisa menjadi umat yang lebih bijak dan arif.

Wallahu a’lam bis shawab.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 02/03/2011 by in Editorial IM and tagged , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: