Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Renungan Muharram

Sebagai Firman yang transendental, Al-Qur’an akan senantiasa suci, bahkan terlalu suci untuk sekedar dilumuri oleh cemooh dan pelecehan kotor ala manusia. Kemurniannya terjamin, kebersihannya tak ternodai oleh apapun. Sebab itulah umat Muslim, para pengemban Al-Qur’an itu, tak perlu terlalu sibuk termakan dan atau terpancing oleh wacana-wacana penodaan Al-Qur’an. Jangan setiap kali isu semacam itu lahir ke tengah publik, yang tentu saja tidak bakal berhenti sampai kapanpun –sebab kita tahu betapa umat lain tak pernah rela dengan keberadaan Islam (QS. 2 : 120), kita lantas berang. Barangkali juga, segera saja, pelbagai demontrasi reaktif bercokol di mana-mana. Kenapakah kita tak lebih memusingkan perkara yang lebih esensial; memberdayakan dan mencerdaskan masyarakat umpamanya?

Pertanyaan tersebut, sindiran, satir, kritik, atau apapun itu, membahana hampir di seluruh koridor Masjid Agung Palembang. Salah satu poin ceramahnya, taushiyyah keagamaan yang disampaikan oleh Prof. Dr. KH. M. Ali Aziz, MA, pada malam Semarak Muharram 1432 H yang juga  dimeriahkan oleh “suara lantang nan mendayu” milik Syaikh Mahmood Syahhat Al-Layaly dari Mesir itu, adalah sorotan terhadap kondisi keterbelakangan kita sebagai bangsa; sebagai satu dari banyak jenis umat manusia –yang beberapa di antaranya digolongkan sebagai berperadaban maju.

Berapa jumlah kita yang gandrung membaca? Berapa banyak? Pertanyaan macam ini juga sempat muncul. Pertanyaan yang sepertinya sepele, memang, tetapi sebetulnya menghunus energi yang dahsyat. Ya, pertanyaan yang menggelitik kita untuk merenungkan kembali, di manakah sesungguhnya letak dari keagungan Islam? Bagaimanakah cara kita memaknai maqalahal-islam ya’lu wa la yu’la ‘alaih, Islam itu agung dan tak teratasi keagungannya –oleh (agama) manapun? Apakah keagungan Islam ditunjukkan dengan sikap-sikap pemeluknya yang reaktif membabiti “musuh-musuh”-nya? Ataukah keagungan Islam merupakan wujud dari internalisasi etis dan ajaran, yang kemudian menghasilkan masyarakat muslim berkepribadian kukuh, berwawasan luas, berakhlak mulia? yang acap dikutip di mana-mana;

Perdebatan –jika boleh disebut demikian– tak segera akan berakhir. Bersikap tegas terhadap perilaku-perilaku yang dinilai melecehkan harkat umat Islam, apabila direnungkan lebih jauh, juga amat penting. Bukankah, seperti dalam ajaran Jihad dan atau qital fi sabilillah, pembelaan diri bukan tidak dianjurkan. Di sisi lain, membenahi kondisi internal kaum muslimin yang seperti sudah tercabik-cabik ini terasa sangat urgens. Mereparasi kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, tidak bisa diabaikan. Di sinilah barangkali, isu-isu seperti kristenisasi, pemurtadan, dan lain-lain, dapat didekati dengan dua sudut pandang; melancarkan gerakan anti pemurtadan dan sekaligus membenahi ketimpangan sosial. Yang menjadi masalah mungkin saja, menurut hemat penulis, pada titik manakah kita bakal menumpukan prioritas?

Penulis tidak berpretensi untuk menjawabnya, karena di sinilah sejatinya yang lebih penting. Bahwa dengan peringatan pergantian tahun, sebagaimana telah digelar di banyak tempat beberapa hari yang lalu, kita diajak untuk meluangkan waktu merenungkan, mempertanyakan, dan atau mempertegas kembali keberadaan kita di dunia ini. Tanggung jawab selanjutnya diletakkan di pundak kita sendiri-sendiri. Para ulama telah menjalankan tugasnya; membimbing, menasihati dan mengarahkan kita. Tinggal kita sendirilah yang memutuskan. Sebab siapakah sebetulnya umat Islam itu? Tentu saja kita!!!

Wallahu A’lam bis Shawab.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 02/03/2011 by in Editorial IM and tagged , , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 54,927 hits
%d blogger menyukai ini: