Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Pasrah

Dulu sekali, orang bernama Tariq mendapatkan gelar As-Shadiq. Jejuluk yang diperolehnya oleh sebab dia betul-betul teguh memegang komitmen. As-shadiq artinya sungguh-sungguh. Seperti Hatim mendapat sebutan Al-Asham karena pernah berpura tuli, Tariq dijuluki oleh orang-orang sesudahnya dengan As-shadiq  karena ia bersiteguh untuk memegang janjinya sendiri. Ya, ia menekan dirinya sendiri agar selalu memasrahkan diri kepada Allah. Ia tak mau meminta, kepada siapapun, ia hanya tawakkal. Bahkan, ia tak hendak berdoa kepada-Nya, sebab Tariq tahu betapa Dia Maha Mengetahui apa yang ia kehendaki.

Suatu hari di padang pasir, Tariq berjalan. Tiba-tiba saja ia terperosok ke dalam lubang cukup dalam. Sesak dan gelap. Uniknya, Tariq tak berniat meminta tolong kepada siapapun. Ia juga tak berdoa.

Serombongan kafilah menemukan lubang itu. Karena lubang tersebut cukup pekat, mereka tak sempat melihat di dalamnya sedang ada orang. Tariq sendiri, tak mau berteriak kepada orang-orang itu. Singkat cerita, rombongan kafilah menutup lubang tersebut dengan batu. Mereka menilai, kalau lubang tersebut dibiarkan, bisa membahayakan orang lain.

Tariq terjebak di dalam lubang tertutup. Ia masih tak bergeming. Mendadak muncul sesuatu serupa dua bola lampu mendekat kepadanya. Dalam kegelapan, “dua bola lampu” tersebut Nampak amat terang. Baru Tariq sadar, kalau kedua lampu tersebut ternyata sepasang mata dari seekor ular besar, ketika lidah ular tersebut menjulur di mukanya. Tariq masih tak berteriak. Ia juga masih tak berdoa. Ia hanya pasrah.

Tak diduga, ular tersebut kini merayap menjauhi Tariq. Ia bergerak ke atas. Sesampai di mulut lubang, ular itu mengungkit batu yang menyumbatnya. Lubang itu kini terbuka. Tariq masih diam ketika ekor ular yang memang masih tertinggal di bawah, membelit tubuhnya. Ya, ular itu mengangkat Tariq keluar dari lubang. Subhanallah.  Tariq terselamatkan.

Dari sinilah Tariq kemudian mendapat julukan As-Shadiq. Ia teguh dan bersungguh dalam komitmen tawakkalnya.

Kita barangkali belum berada di maqam yang sama dengan kedudukan Tariq. Umumnya, kita memang masih bertengger di wilayah tajrid (usaha). Di level kita ini, tawakkal tidak seekstrim perilaku yang ditunjukkan oleh Tariq. Bagi kita, tawakkal adalah fi’lus sabab wa tafwidhu hushulil musabbab ilallah. Menjalankan apa-apa yang menjadi sebab, seperti kenyang dengan sebab makan, rezeki dengan sebab kerja, dan menggantungkan hasilnya kepada Allah.

Di sinilah sebetulnya yang penting. Banyak dari kita justru, dengan argumentasi bahwa kita masih di tingkat manusia “biasa”, kita kemudian melupakan tafwidhu hushulil musabbab ilallah, memasrahkan hasil kepada Allah. Kita acap terjebak pada kepercayaan bahwa apa yang kita peroleh, apa yang kita dapatkan, apa yang kita lakukan, adalah semata-mata berkat dari usaha kita sendiri. Al-hasil, lahirlah‘ujub, dan selanjutnya muncul riya’takabbur, dan sebagainya.

Maka, seperti wejangan dari As-Sakandari, marilah kita mencoba untuk memahami bahwa; “Tidak ada kesulitan untuk memeroleh keberhasilan, selagi keberhasilan itu kita serahkan kepada Allah. Sebaliknya, tidak ada kemudahan dalam meraih keberhasilan, apabila engkau menyerahkannya kepada dirimu sendiri”.

Wallahu a’lam bis shawab.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 02/03/2011 by in Editorial IM and tagged , , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 54,927 hits
%d blogger menyukai ini: