Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Maulid

Laulaka, laulaka. Demikian Allah berfirman kepada Nabi terkasih-Nya Muhammad Saw. Ma khalaqtul aflak. Jika saja tidak karena engkau, bila saja bukan sebab dirimu, wahai Muhammad, aku tidak akan pernah menciptakan galaksi. Langit dan seluruh isi.

Dari situ kita kemudian tahu, betapa bahkan Allah sendiri sangat mencintai Nabi yang diciptakan-Nya itu. Bagaimana dengan kita? Pada momentum bulan kelahiran Nabi ini, pada Rabiul Awal ini, masihkah kita mengingat beliau? Mengingat kasihnya, kelembutannya, keistimewaannya, kecintaannya terhadap sesama? Konon, suatu kali Nabi ditanya kenapa beliau hampir selalu berpuasa pada hari senin. Rasul menjawab, fihi wulidtu wa fihi bu’itstu. Pada hari inilah aku dilahirkan, dan pada hari inilah aku (pertama kali) diutus. Nah, bahkan Nabi sendiri menghormati dan memeringati hari kelahirannya –juga hari keterutusan dirinya.

Suatu kali, seorang ulama berjuluk Ad-Dimasyqi mencatat dalam sebuah syair. Bahwa Abu Lahab, yang kita tahu sangat membenci Nabi itu, yang permusuhannya kepada Nabi tercatat dalam surat Al-Lahab –di mana ia dikutuk dan dipastikan masuk neraka, siksaannya dihentikan setiap hari senin. Ya, hari senin, neraka diliburkan buat Abu Lahab. Kenapa? Sebab ia pernah sekali saja merasa bahagia dengan kelahiran Nabi. Kita tahu, Abu Lahab termasuk salah satu paman dari Nabi. Pada fajar hari senin 12 Rabiul Awal itu, ketika ia diberi kabar perihal kelahiran putera saudaranya (Abdullah), sebagai seorang paman ia tentu turut senang. Nah, hanya karena kebahagiaan pada detik-detik kelahiran Nabi inilah, yang barangkali cuma sebentar belaka, siksa Abu Lahab ditangguhkan pada setiap hari senin. Abu Lahab, seorang yang lebih dari sekedar kafir. Lantas bagaimana dengan kita? umatnya?

Kita dianjurkan untuk mengadakan perayaan maulid. Memeringati kelahiran Nabi Saw, dan dengan begitu kita dimungkinkan untuk flash back, menghayati kembali jejak-jejak Nabi. Mencintai, menyayangi, dan menngenang Nabi merupakan hal yang terpuji, bahkan jika sebagian kalangan menilai perayaan maulid Nabi Saw sebagai bid’ah. Sayidina Ali karramallahu wajhah, suatu saat berucap; “orang-orang yang mengagungkan hari kelahiran Nabi Saw, atau ia yang menjadi sebab (panitia) pelaksana peringatan tersebut, tidak akan keluar dari dunia kecuali dalam keadaan beriman, dan akan dimasukkan ke dalam surga dengan tanpa hisab”.

Wallahu a’lam bis shawab.


 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 02/03/2011 by in Editorial IM and tagged , , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: