Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Ingat

Walau agak telat, dua hari, tidak salah bila kalimat itu ditulis lagi –kalimat yang serupa; selamat‘id, selamat merayakan Adha. Semoga momen ini mampu menyegarkan kembali ingatan kita kepada Ibrahim sang Nabi, pada Ismail yang juga Rasul, atas keteguhan keyakinan mereka dalam menyambut perintah Tuhan. Soal apakah dengan penyegaran ingatan saja sudah cukup atau belum, tergantung bagaimana kita menyikapi ‘id ini, bukan? Sebab kita sama tahu, betapapun seremoni keagamaan serupa dihelat tiap tahun, ingatan demi ingatan dibangkitkan setiap saat, kemungkinan besar besoknya kita lupa; apa sebetulnya yang telah terjadi kemarin.

Tetapi semua ini bukan soal, karena sebagaimana pembicaraan soal dzikir, seperti dinukil dari KH. Musthofa Bisri, pelafalannya secara lisan memiliki arti tersendiri yang, walaupun bukan tidak berkaitan, berbeda dari penghayatannya di dalam hati. Atau bisa diucapkan; apa yang secara lahir kita kerjakan, bukan semata-mata percuma hanya karena hati kita alpa. Memang, banyak kritik dialamatkan kepada aktifitas-aktifitas lahiriyah yang kerap tak terhayati oleh hati. Ucapan seperti, “buat apa berdzikir (lisan), kalau ternyata hatinya lupa, buat apa shalat kalau tidak khusyu’, buat apa beramal kalau tidak ikhlas, buat apa ‘Id kalau cuma mencari  daging, buat apa…”.

Idealnya memang, aktifitas-aktifitas amal lahiry itu berada secara berbarengan dengan penghayatan batin. Tetapi kritik yang terlalu berlebihan, dorongan yang kerap kali memaksakan, juga tidak baik. Sebab alhasil, seperti dikeluhkan Gus Mus, aktifitas-aktifitas lahir itu pun pada akhirnya sama sekali dilupakan. Alasannya, konon karena tidak ada penghayatan batin, dan orang-orang terlanjur bersikap apatis terhadap aktifitas lahiry, maka ia pun akhirnya dibiarkan hilang dan pergi.

Begitupun  pada ‘id, ketika kita semua mengingat kembali jejak-jejak sejarah yang pernah dilakoni oleh Nabiyuna Ibrahim. Kisah yang sama, yang barangkali sudah sedari kecil kita dengar bersama. Tetapi ia terus dibaca bukan tanpa hikmat apa-apa. Sebab meskipun beberapa kita terlihat jenuh mendengarnya, atau membacanya, mungkin saja pada saat yang sama Allah menurunkan hidayah-nya kepada salah satu dari ribuan orang yang berkerumun di Masjid (atau semua orang? Mungkin dan semoga). Ingatan, dengan demikian, adalah perlu, adalah penting. Meski barangkali bisa saja kita besok melalaikannya, menjenuhinya, kita juga bisa saja tergerak dan kemudian menuai kebijaksanaan. Tulisan ini pun, saya kira, memiliki nasib yang sama; Anda boleh saja menilainya sebagai bukan apa-apa.

Wallahu a’lam bis shawab.


 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 02/03/2011 by in Editorial IM and tagged , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: