Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Glamor

Nampaknya tamu itu memang menggerutu. Betapa tidak, anaknya disekolahkan di sini, di tempat ini, lembaga pendidikan yang mengharuskan murid-muridnya rajin untuk belajar “hidup susah”. Semua diwajibkan serba sederhana, bahkan dalam urusan makan. Setiap murid hanya berhak memakan sesisir roti tawar setiap harinya. Roti tanpa bumbu, Anda bisa membayangkannya. Tetapi si tamu gelisah, sebab berkebalikan dari kebijakan yang diterapkan di sana, sang guru malah mempertontonkan menu makannya yang mewah. Sebutlah, ayam panggang. Betapa kontras; roti tawar vis a vis ayam panggang (?).

“Syeikh, mengapa anakku engkau perintah hidup sederhana, makanannya sebatas roti tawar, sementara engkau sendiri malah mengudap ayam panggang? Ini terang tidak fair!!!,” protes tamu itu.

“Oh itu toh yang kau gelisahkan sejak tadi,” Syeikh merespon kalem. “Begini, kalau anakmu sudah bisa seperti ini (menunjuk pada tulang sisa makanan, dan mendadak belulang itu “bangkit” menjadi ayam yang hidup lagi serta berkokok “kukuruyuk, asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rasululullah, wa syeikh abdul qadir waliyullah), maka anakmu boleh mendapatkan menu sepertiku”.

Tamu itu terperangah. Setelah terdiam cukup lama, si tamu menghampiri sang guru. Sesenggukan ia meminta maaf.

Tamu itu seorang wali santri (atau wali murid). Guru itu adalah ia yang sering kita sebut dalam tawasul, Sulthanul Auliya’ Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani. Dan cerita ini termaktub dalam manaqib yang mengisahkan sirah kehidupan beliau.

Disebutkan bahwa Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, tidak seperti pandangan umum mengenai kaum sufi yang diasumsikan hidup amat sederhana, bahkan cenderung kumuh, hidup dengan buai-buai kemewahan. Konon, kereta kuda yang dinaiki sang Syeikh terbikin dari emas.

Bukan cuma Syeikh Abdul Qadir, Sulthanul Auliya’ As-Syeikh Abu Hasan As-Syadzili juga mempunyai pola hidup yang serupa. Bahkan jika Anda merasa familiar dengan nama Abu Hanifah, pendiri madzhab fiqh hanafiyah itu, maka Anda juga harus tahu betapa ulama ini tergolong sosok manusia yang juga pedagang sukses.

Apa yang dapat kita petik? Apakah ini berarti, dengan alasan mengambil ibrah kepada ulama-ulama agung itu, kita kemudian berkesimpulan bahwa kita musti hidup mewah? Kita boleh mengejar dunia sampai, sebutlah, kaya raya, asal jangan melupakan akhirat?

Pertanyaannya, sanggupkah kita begitu? Adakah jaminan bahwa setelah Anda selesai berburu dunia, Anda bakal kembali kepada-Nya? Bagaimana jika hati Anda terlanjur jatuh cinta kepada dunia yang Anda pikirkan siang dan malam itu?

Syeikh Abdul Qadir, Syeikh Abu Hasan, Imam Abu Hanifah, bisa jadi memang sosok-sosok glamour menurut kaca mata kita. Tetapi berbeda dari kita, kemewahan yang melingkungi mereka, tidaklah berarti apapun buat mereka. Hati mereka telah tidak bergantung kepada makhluk. Sejumput pun, tak pernah terbersit aghyar (sesuatu selain Allah) di dalam hati para beliau itu.

Maka jika si tamu dalam cerita di atas menganggap ayam panggang sebagai simbol dari kemewahan, sang Syeikh tidak berpikiran serupa. Tidak berpengaruh bagi dirinya, sifat-sifat kaya-miskin, tampan-cantik, mewah-kere, dan seterusnya. Semua sama. Di mata para kekasih Allah, segala sesuatu selain-Nya adalah rendah.

Menarik, mengingat sebuah hadits qudsi, Allah berfirman kepada dunia; “Hai Dunia, khadimii man khadamani, wastakhdimi man khadamaki”. Layanilah orang-orang yang menghamba kepada-Ku, tetapi perbudaklah orang-orang yang mengejarmu.

Al-hasil, kita melayani Allah. Hasilnya, dunia akan melayani kita. Hanya bedanya, pada saat itu kita memang sudah tidak sama sekali memikirkan dunia lagi. Berdasar pengertian seperti ini, banyak orang tertipu menghamba Allah dengan tujuan agar diberi dunia oleh-Nya. Ah, Allah maha tahu bagaimana sebetulnya apa yang ada di hati kita. Berhati-hatilah.

Wallahu a’lam bis shawab.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 02/03/2011 by in Editorial IM and tagged , , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: