Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Dosa

Laku dosa, apakah akan dengan segera menemukan balasannya? Sesaat sesudah kita mengerjakannya, misalnya? Untuk membincangkan itu secara lebih mendalam, barangkali kita memerlukan pisau teologis, sesuatu yang acapkali membutuhkan konsentrasi dan keseriusan tinggi. Pun untuk tujuan itu, kita perlu meninjaunya lebih jauh ke dalam teks-teks keagamaan, padahal tidak semua kita memiliki kesempatan istimewa seperti itu.

Tetapi jika memang betul begitu, bahwa dosa-dosa memiliki akibatnya yang langsung di kehidupan dunia ini, seharusnya kita musti bersyukur (juga bukan tak mungkin, kita malah meratap). Bayangkan umpamanya, pada suatu saat, di tengah jalanan, ketika mata kita dibuka untuk –sengaja atau tidak– melihat aurat tersingkap, sekonyong-konyong muncul sesuatu yang entah apa menghantam mata maksiat kita. Dan rasa kesakitan pun menghunjam.

Atau contoh lain, suatu waktu, di kantor atau entah di mana, kita dihadapkan kepada tumpukan uang sebuah proyek tertentu. Sementara itu, karena kita merasa memiliki wewenang untuk mengelolanya, kita berfikir apa salahnya kalau setumpuk uang tersebut kita tilap beberapa lembar, toh saat itu tak ada orang yang tahu. Kita pun bisa saja memanipulasi catatan yang kita bikin. Tapi mendadak, setelah lembar uang masuk ke kantong, tiba-tiba tangan kita menjadi kelu, kaku tak bergerak.

Pertanyaannya, pernahkah kejadian serupa ini terjadi pada kita? Jika memang ya, senang atau susahkah kita menerima pola takdir yang sedemikian?

Barangkali, jika memang soal-soal seperti kesakitan dan kesusahan selalu dipahami sebagai terkait dengan atau menjadi akibat dari laku kita sebelumnya, kita seharusnya bersyukur karena kita dengan mudah bisa mengerti, bahwa ternyata Allah sedang mengingatkan kita. Celakanya, tidak semua kejadian bisa bermakna begitu. Ada orang yang sepanjang hidupnya didera oleh kesusahan, apakah dengan begitu bisa disimpulkan bahwa dirinya adalah seorang pendosa. Sebaliknya, seorang pendosa yang sebenarnya malah hampir-hampir tak pernah sama sekali ditimpa kesukaran. Kita ingat Fir’aun, bukan? Meski pada akhirnya ia mati ditelan lautan, sepanjang hidup ia tak pernah dilanda sakit.

Nah, pada akhirnya kita tahu, tak semua kesusahan, keresahan, musibah, bencana, berhubungan dan atau memiliki hubungan kausalitas dengan tindak tanduk kita. Hanya saja, apa salahnya kita selalu beristighfar? Dengan atau tanpa didahului “peringatan” dari-Nya? Kenapakah kita selalu menunggu dihunjam “adzab”-Nya?

Kita juga harus senantiasa memuji-Nya, sebab –seperti dalam ibnu Athaillah As-Sakandary, kita dibuat tampak mulia oleh Allah dengan cara menutup dosa-dosa kita dari pandangan orang lain. Maka janganlah merasa bangga dengan apa yang kita miliki sekarang, sebab tanpa satir yang menutup aib kita, kita tak mungkin berarti apa-apa di dunia ini. Tetapi ingatlah, bahwa pada saatnya nanti, semua kedok yang menyelubungi kita semasa hidup di dunia ini akan disingkap. Ya, dosa-dosa kita akan dibeber.

Wallahu a’lam bis shawab.

 

Iklan

2 comments on “Dosa

  1. renungan
    02/03/2011

    semoga kita senantiasa terhindar dari dosa

  2. Elha Husnan
    02/03/2011

    Amin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 02/03/2011 by in Editorial IM and tagged , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: