Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Bencana

Jika siksa memang terkait lekat dengan dosa, bila hukuman berhubungan erat dengan kesalahan, maka sayidina Musa ‘alaihis salam pun bertanya kepada Allah. Mengapakah, ketika Dia murka, tidak cuma para cecunguk, para bajingan, para pelaku kejahatan, saja yang diazab-Nya? Kenapakah, justru banyak orang yang sebetulnya tidak bernista sesuatu apa turut terkena tulah menanggung derita? Mengapa, kenapa? Mengapa justru orang-orang yang tak bersalah? Kenapa justru manusia-manusia yang sebenarnya lebih patut untuk mendapatkan rahmah?

Allah “tersenyum” mendengar “protes” dari hambanya yang satu ini.

Maka, untuk menjawab pertanyaan tersebut tanpa melalui proses perdebatan, Allah memerintahkan Musa pergi ke kebun. Di bawah rindang pohonan, Musa diperintahkan untuk berhenti. Musa tak sadar, ia sedang berada di mana, di dunianya siapa, sehingga ia pun lantas meloncat-loncat kesakitan ketika beberapa ekor semut menggigit kakinya. Musa baru mengerti, ia sedang menginjak kerajaan mereka.

Musa menghindar. Ia yang kini merasa kesakitan, dan sudah terlupakan dari maksud utama kedatangannya ke kebun (mencari jawab pertanyaannya sendiri), mengambil setimba air. Sesampainya di tempat ia digigit semut, air itu ia siramkan ke dalam lubang kecil kerajaan para semut. Kontan semut-semut itu mati, bahkan hampir semuanya terendam air.

Tiba-tiba Allah menyeru. Musa jadi terkejut. Ia ingat kedatangannya ke kebun bukanlah untuk membantai para semut. Ia mencari jawab pertanyaan.

“Demikianlah, Musa,” Allah berfirman. “Tidak semua semut yang kemudian kau bantai habis itu, menggigit kakimu tadi. Paling-paling hanya dua, tiga, atau empat ekor semut. Tapi Musa, berkat kejengkelanmu, engkau kemudian membunuh semua semut yang ada di situ. Engkau tak berpikir dan berusaha mencari dulu, mana sebetulnya semut-semut yang menggigitmu. Engkau malah menyiram dan membunuh semuanya. Apakah ilustrasi ini bisa menjawab pertanyaanmu?”. Musa yang sedari awal tercenung, kini mulai mengangguk.

Begitulah, ilustrasi di atas juga bisa kita pakai untuk menjawab persoalan yang belakangan marak muncul di negeri kita. Banjir, tsunapi, letus gunung berapi, dan lain-lain, memakan korban yang tak sedikit. Banyak diantaranya mungkin kita duga sebagai tak bersalah. Kita misalnya, terkadang berpikir, kenapakah bencana itu tidak diarahkan ke gedung-gedung mewah di sana, tempat para koruptor bersarang? Mengapa Wasior, mengapa Mentawai, mengapa Yogya?

Dan kita lantas tahu, Allah tidak sedang berbuat tak adil. Sebagai yang Maha menguasai kita, Allah bertindak atas dasar iradah (kemauan). Keadilan Tuhan adalah justru ketika Dia mengerjakan apa yang Dia mau, bukan apa yang kita mau. Allah tidak terpaksa oleh kehendak kita. Maka mari kita berdoa, memohon kepada-Nya, sebab hanya Dia-lah yang mampu mengampuni kita semua, lebih-lebih mengampuni saudara-saudara kita yang telah menjadi korban bencana.

Wallahu a’lam bis shawab.

Jumat, 5 November 2010

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 02/03/2011 by in Editorial IM and tagged , , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: