Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Ahwal

Kita diperintahkan untuk berbuat baik. Ya, kita diseru untuk beramal shalih. Bagaimanakah sesungguhnya bentuk amal shalih? Pertanyaan seperti ini sebetulnya tidak cukup relevan.  Kenapa, sebab kita bahkan sudah sangat mengerti, amal-amal shalih tersebut wujudnya seperti apa. Shalat? Tentu saja perbuatan baik. Zakat? Bersedekah? Menolong sesama? Tidak ada yang berkata bahwa semua itu perbuatan buruk.

Tetapi tahukah kita betapa amal-amal tersebut, sebagus dan secemerlang apapun bentuknya, bisa saja berubah menjadi “buruk”? Tentu saja, kita jarang membahas perkara ini. Bahwa ternyata kita acapkali lupa pada apa yang disebut dengan perbuatan hati. Ya, kita diseru untuk berbuat baik. Dan perbuatan sebenarnya ada dua jenis. Pertama, perbuatan lahir, yang lazim kita sebut amal. Kedua, perbuatan batin, atau dikenal dengan istilah ahwal.

Mari kita tengok sebuah hadits yang dinukil dari Abdullah ibnu Mubarak, diriwayatkan oleh Mu’adz ibnu Jabal:

Konon, sebelum Allah menciptakan tujuh lapis bumi, dan tujuh lapis langit, Dia terlebih dahulu menciptakan tujuh malaikat. Ketujuh malaikat tersebut kini ditugaskan menjaga ketujuh langit, dengan maksud menyortir amal-amal hamba, sebelum dihadapkan kepada Allah. Setiap malaikat memiliki kata kuncinya sendiri-sendiri. Keyword tersebut berkaitan dengan, secara umum, ahwal dari hamba yang amalnya diperhadapkan.

Malaikat hafazhah, ia yang ditugaskan menjaga dan menghadapkan amal kepada Allah, suatu saat membawa amal yang menurutnya hebat. Entah amal apa saja. Haji, shalat, tahajud, dan seterusnya. Di mata sang hafazhah, amal tersebut semata berkilau. Sesampai di langit pertama, malaikat penjaga mencegah malaikat hafazhah masuk. “Kembalikan amal ini kepada pemiliknya,” kata malaikat penjaga. “Kenapa,” tanya Hafazhah, “bukankah amal hamba ini bagus?”. “Aku ditugaskan untuk menyortir amal hamba di langit pertama,” jawabnya. “Kembalikan amal tersebut pada pemiliknya, sebab orang itu sukaghibah (membicarakan keburukan orang lain)”.

Demikianlah malaikat penjaga langit pertama ditugaskan untuk menyortir ghibah.

Selanjutnya, hafazhah naik membawa amal lain, yang lebih bersinar dari pada yang lalu. Amal apa saja itu? Barangkali shalat, sedekah, membaca Al-Qur’an, dan lain-lain. Langit pertama, lolos. Giliran langit kedua. Lagi-lagi amal tersebut ditolak. Hafazhah diseru untuk menamparkan amal tersebut kepada pemiliknya karena ternyata tujuan si empunya dalam beramal adalah tujuan duniawi. Belajar untuk tujuan kerja, mengajar untuk mendapatkan gaji, misalnya.

Hafazhah berhasil meloloskan amal sampai tingkat kedua. Menginjak langit ketiga, lagi-lagi amal tersebut ditolak. Begitulah seterusnya, interogasi berlanjut. Standar setiap langit berbeda-beda. Berikut adalah standar masing-masing malaikat dari langit ketiga sampai ketujuh secara berturut. Kesemuanya berkaitan dengan ahwal kita. Takabur, Ujub, Hasud, Tidak punya belas kasih, dan beramal bukan karena Allah.

Semua amal shalih yang diiringi oleh kesemua hal di atas, tidak mungkin bisa diterima. Amal dan perbuatan bagus tidak pernah berdiri sendiri. Amal shalih haruslah berjalan berbarengan dengan ahwalyang bagus. Beramal dan tatalah ahwal !!!

Wallahu a’lam bis shawab.


 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 02/03/2011 by in Editorial IM and tagged , , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: