Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Adil

Bukankah Allah tidak adil? Nyatanya, Dia menghukum orang-orang yang tidak tepat. Jika beberapa gelintir orang saja yang melakukan kerja maksiat, maka kenapa Dia tega membabat orang-orang yang jelas tidak sedikit pun memiliki salah. Bahkan, justru mereka inilah yang seringkali menjadi pihak yang terzhalimi oleh para pendosa itu. Kenapa, misalnya, banjir tidak khusus menggenangi tempat-tempat maksiat saja, dan kenapa masjid juga perlu dihantam gempa?

Wallahu’alam. Yang jelas, menurut tata akidah ahlus sunnah wal jama’ah yang tentu saja lain dari kaum Mu’tadzilah, Tuhan tidaklah harus berbuat adil. Bahwa benar Tuhan adalah Maha Adil, namun konsep keadilan yang dimaksud di sini bukanlah keadilan sebagaimana yang ada di dalambathok kemanusiaan kit, adil berarti berbuat sesuai dengan jatah yang pasm porsi yang selaras. Logika kita-yang matematis itu, berkata Baik harusnya mendapatkan balasan baik, dan sebaliknya buruk menghasilkan ganjaran yang buruk juga. Benar pastilah mendapatkan reward (pahala), salah musti mengangguk punishment (hukuman).

Tetapi benarkah demikian konsep keadilan bagi Tuhan? Betulkan memang begini penjelasan atas keMaha-Adilan Allah?

Sesungguhnya, keadilan bagi Tuhan ialah justru ketika dia berbuat “sekehendak hati” Nya, sesuai dengan apa yang menjadi iradah-Nya. Jika tidak begitu, maka ini menandakan bahwa diri-Nya terpaksa (ikrah), sementara Allah mustahil memiliki sifat tersebut, dan padahal Allah sendiri wajib qudrah (kuasa). Bahkan, Allah disebut tidak adil ketika Dia berbuat tidak sesuai dengan kehendak-Nya sendiri.

Ya, kita tidak bisa dan tidak boleh memaksakan konsep keadilan kita sendiri terhadap Allah. Allah adalah pemilik kita, dan karena itu teramat sangat berhak untuk memperlakukan kita sesuai dengan apapun kehendak-Nya. Mau dijungkir, mau dihantam, dicabik, dst, terserah kehendak-Nya. Kita hanya harus ridha, menerima apa saja yang menjadi ketetapan-Nya. Dalam hadits qudsy Dia berfirman, “Barang siapa tidak bersyukur atas nikmat-nikmat-Ku, tidak bersabar atas ujian-Ku, tidak ridha atas ketetapanKu, maka pergilah dari bumi-Ku dan carilah Tuhan selain Aku”. Allahu akbar………

Karena itu, sebaiknya kita perlu mengarifi lagi jawaban Allah kepada Malaikat dalam Al-baqarah 30, ketika “Makhluk tanpa nafsu” itu memprotes keputusan-Nya menjadikan khalifah baru di bumi; “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 02/03/2011 by in Editorial IM and tagged , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: