Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Sihir Kemajuan

Seperti ada yang janggal ketika benak penulis membersitkan lafazh “kemajuan”. Apalagi jika kata yang cukup menampakkan sihir itu ditambah lagi dengan jargon semacam “akselerasi”, “percepatan”, dan lain-lain, dan sebagainya. Ia lantas bertanya, mengapakah segupil kerikil itu tetap tak segera berkenan pergi? Ia merenung, ia tak menemukan kawan diskusi.

***

 

Saya tak akrab betul dengan nama panjangnya. Sesekali bersua, ia hanya menyapa dengan teriak “cak”, dengan langgam jawa yang lumayan kental. Ia barangkali juga tak menghapal nama saya. Tetapi, hidup di sebuah negeri yang bukan tanah moyang, kesepahaman bahasa, kesamaan asal usul, kemiripan nasib, membuat interaksi yang kami bangun bisa terjalin dengan lancar. Meski bukan satu susuan, kami lantas mengangkat diri masing-masing, tanpa perlu mempertimbangkan persetujuan dari kedua belah pihak, sebagai dua sosok saudara. Saya terkadang bertanya, perlukah membikin jalinan komunikasi dan atau forum silaturrahmi di antara para perantau; orang-orang jawa yang mengais makan di Palembang ini?

Cak No, saya panggil begitu sebab yang terakhir teringat begitu kami berkenalan adalah satu suku kata terujung dari namanya. Apakah Sutiyono ataukah Wiyatno atawa Karno, saya tidak ingin menyoalnya lagi. Ia bermain dengan api, dengan wajan penggorengan, dengan minyak curah, dengan tepung, dengan pisang, dengan tauge. Terkadang saja saya menangkapnya sedang mendorong gerobak. Lebih sering, setiap sore saya pulang dari kuliah atau kembali dari kerja, kami saling berteguran ketika ia ditemani isteri dan dua bangku panjang, mangkal di sebidang tanah cukup lebar yang mengantarai Jalan Basuki Rahmat (sebuah jalanan besar; jalan raya) dan sepetak kampus perguruan tinggi swasta. Sesekali saya mampir melahap gorengan buah karyanya, sembari mengobrol tentang pelbagai hal melalui kode-kode bahasa yang tentu saja sangat aneh buat kumpulan mahasiswa jurusan IT di sebelah.

Beberapa hari yang lalu, saya menghampiri “warung dorong”-nya lagi. Orang yang sudahistiqamah bersenda ria di tempat itu akan segera mafhum, bahwa ada yang kurang, ada yang hilang. “Kemarin,” ujar Cak No menjawab pertanyaan saya, “sebelum aku sempat ke sini, rombongan Satpol PP merampasnya (bangku-bangku itu)”. Sebelum siang terik itu, waktu saat Cak No menggelar tadah rizki, petugas Satuan Polisi Pamong Praja mendadak melakukan razia. Tetapi alhamdulillah, gumam saya. Bagaimana jadinya jika pada saat yang sama gerobak beserta alat-alat kerja Cak No yang lain juga berada di sana? Engkau pasti bisa mengandaikan apa yang bakal terjadi, meski aku tak bisa membayangkan betapa orang sesabar Cak No bisa marah-marah.

***

 

Saya bayangkan bangku-bangku itu, beserta beberapa banyak “barang jarahan” yang lain, dibakar di halaman belakang kantor yang terletak di pinggiran Sungai Musi. Sebuah -dan dalam kasus Cak No ada dua buah- bangku, menyimpan dua pemaknaan yang berlawanan; sudut pandang yang tak saling akur. Tangan-tangan besar itu menjeratnya sebagai sampah, yang demi gemerlap kota, membakarnya begitu saja tanpa mengitung berapa jumlah jemari kecil yang turut patah. Sementara saya yakin, Cak No sedikit banyak mengidap nelangsa. Anaknya yang dua orang, satu kelas 5 dan yang lain kelas 2 Sekolah Dasar, hanya mungkin membeli pensil gambar melalui pembakaran dari asap penggorengan yang melekat di gerobak miliknya. Dan bangku-bangku itu, tidak begitu signifikan memang, bagi kita. Tetapi bagaimana kita mengerti kalau mereka bukan hal penting buat Cak No sekeluarga? Meminjam Karl Marx, bukankah hal ini berarti seperti memisahkan para buruh dari alat produksinya?

Cak No hendak memajukan anak-anaknya. Pemerintah mau memajukan keindahan kotanya. Cak No tidak mungkin memiliki keinginan melihat anaknya terlunta seperti bapaknya di masa depan. Mereka harus minimal tidak sebodoh orang taunya yang cuma sanggup berjual gorengan secara kaki lima. Pemerintah, mirip tetapi tak sama, berkemauan menata kota dengan tepat sehingga layak untuk meningkatkan iklim investasi -juga untuk meraih penghargaan pemerintah pusat (?). Palembang lima tahun terakhir mengalami percepatan dan peningkatan pembangunan yang cukup drastis. Ia segera saja menjadi salah satu kota besar di Sumatera, tentu juga di Indonesia. Mall mulai tegak berdiri, jalanan dipenuhi lampu berkapasitas ribuan watt, beton perkantoran meraja di mana-mana. Momentum yang bagus ini, rating yang tinggi di hadapan investor ini, tidak mungkin dilewatkan begitu saja untuk kemajuan kota masa depan. Maka, yang menjadi masalahnya, siapakah sebetulnya dari kedua belah pihak yang layak kita tuduh sebagai penghambat kemajuan? Sementara sebagai kota, Palembang dipuja-puja, betulkah Cak No ikut menikmatinya? Ataukah saya harus percaya, bahwa demi kepentingan “orang ramai” dan apa yang kita sebut dengan istilah “mayoritas”, kita dihalalkan menumpas darah satu atau beberapa orang?

Kemajuankah ini?

***

 

Penulis pikir, sebelum kita semua membicarakan kemajuan dan perjalanan menuju ke arah sana, kita tuntaskan dulu, kita sepakati dulu, apa dan bagaimana sebetulnya hakikat dari kemajuan itu sendiri. Sebelum semua itu tuntas, hemat penulis, kemajuan yang kita idam-idamkan tersebut akan senantiasa berjalan lamban. Selalu akan lahir debat kusir. Satu hal penulis catat, konsep yang tak tuntas di meja birokrasi, tidak akan lebih baik daripada pemikiran naïf para pedagang kaki lima.

 

Iklan

2 comments on “Sihir Kemajuan

  1. wahahaha…mantappp

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 28/02/2011 by in Essey and tagged , , , , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: