Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Kenapa Banyak Lonthe di Barat ?

Saya memanggilnya “Ayuk”. Setiap wanita yang lebih tua, atau ia yang dianggap lebih tinggi kedudukannya, diseru dengan istilah tersebut. Anda bisa menyebut kebiasaan seperti ini sebagai adat timur. Seperti ketika saya memanggil Anda dengan sebutan “Anda”, bukan “Kau”.

Orang bilang, struktur bahasa Indonesia sudah terlampau jauh dipengaruhi oleh bahasa jawa, yang memang memakai pola bertingkat tiga; Ngoko-Kromo-Kromo Inggil, itu. Orang juga bilang, biang keladinya adalah Soeharto. Dialah penguasa yang pertama-tama memasukkan banyak unsur jawa ke dalam bahasa pemerintahan, dan kemudian juga kultur bahasa masyarakat Indonesia. Barangkali karena Soeharto memang Jawa, yang betul-betul amat peka terhadap kehalusan, sehingga rezim menciptakan ragam penghalusan ke dalam bahasa Indonesia.

Ya, Eufimisme. Bui tak boleh dilafalkan, dan sebagai gantinya dipakai LP (Lembaga Pemasyarakatan). Bini diganti Isteri. Lonthe diubah Perempuan Tuna Susila. Ah, Lonthe, bahasa Indonesiakah kata itu?

Orang juga membandingkan Soeharto dengan penguasa sebelumnya. Yang belakangan ini acapkali lebih, anggaplah, dalam bahasa jawa grusa-grusu.  Orang lain menyebutnya tegas. Meski ia juga orang jawa (lihat namanya yang berawalan “Su”, yang adalah tipikal jawa), Sukarno tidak lebih patuh pada identitas kejawaan ketimbang Soeharto. Diduga karena ibu Sukarno bukan orang jawa. Menurut para pengamat, sikap Sukarno itu merupakan akibat ia memilih untuk menjadi Indonesia, bukan jawa. Sementara Soeharto lebih cenderung mengasaskan diri pada sisi kejawaan, dan bahkan Indonesia pun ia jawakan.

(Sukarno pernah suatu saat menolak untuk membacakan pledoinya di Pengadilan dalam bahasa kromo. Ia memilih memakai jawa ngoko. Padahal waktu itu, bahasa kromo termasuk bahasa resmi pemerintahan, alias bahasa yang dipakai di hadapan para pejabat yang konon disebut kaum priyayi.)

Alhasil, bahasa Indonesia juga ditelusupi beban norma “kesopanan”, yang konon ditengarai sebagai sejenis feodalisme. Awalnya, dipilih bahasa melayu sebagai lema dasar bahasa Indonesia karena selain ia sudah menjadi semacam bahasa penyatu, yang umum dipakai di kalangan pedagang dari pelbagai daerah dan pelbagai strata sosial (Lingua Franca), ia juga dianggap tidak memiliki tendensi feodalistis dalam wujud bahasa yang bertingkat-tingkat.

Maka lihatlah ke sini, di Palembang, ketika penduduk memakai sebagaian besar bahasa yang diserap dari bahasa melayu (bedakan antara bahasa melayu dan bahasa Indonesia, meski dasar pembentukan bahasa Indonesia sendiri adalah bahasa melayu). Nah, Anda juga menemukan pola bertingkat juga. Maka saya yakin, sembari sedikit bermain dengan generalisasi, semua penjuru nusantara mengenal pembedaan struktur bahasa seperti ini.

Bagi saya, ini merupakan ciri khas bahasa-bahasa di Timur, atau sekurang-kurangnya di Indonesia yang memang mengaku berkebudayaan Timur. Ciri khas utamanya adalah keberadaan norma kesopanan di sana. Bandingkan umpamanya dengan bahasa-bahasa dari kebudayaan Barat. Bahasa inggris tak mengenal kata “Anda”, semua di-gebyak uyah dengan “You”. Prakteknya, bahasa inggris juga tak punya kata “Adik” atau “Kakak”. Adanya cuma “Brother” atau “Sister”, yang tak menunjukkan penghargaan pada tinggi rendahnya strata seseorang.

Uniknya bahasa-bahasa “Barat” suka memperbedakan gender. Bahasa inggris mengenal “He” sebagai lawan dari “She”, atau arab memiliki “Huwa” untuk antonim dari “Hiya”. Sementara kita? Kita hanya punya “Dia” atau “Ia”. Tidak ada pretensi perkelaminan sama sekali. Tetapi adakah dalam bahasa Inggris maupun bahasa Arab kata “Beliau”? (Apakah karena hal inilah maka di Barat marak ideologi Feminisme? Pun karena inilah, di Timur yang terkenal justru Feodalisme? Entahlah)

Akhirnya, ijinkan saya bertanya.  Kenapakah di Barat bertebaran lonthe? Kenapa Free Sex selalu diasosiasikan dengan Barat? Kenapa pertanyaan-pertanyaan ini berkaitan dengan pembahasan sebelumnya? Thuink-thuink

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 28/02/2011 by in Essey and tagged , , , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: