Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Efek Bidadari

Barangkali seperti ini rasanya; punya lebih dari satu isteri. Belum selesai Anda “membikin puas” isteri tua, yang muda sudah merajuk (diksi belakangan saya jiplak dari “madu tiga” yang di-recycling Ahmad Dhani). Dan Anda semua, kecuali mungkin sedikit lelaki, akan dipusingkan dengan keterbelahan waktu serta pikiran. Dus, jika boleh menawarkan pilihan, maka hanya ada tiga pertimbangan buat Anda; tak sama sekali beristeri, beristeri tunggal (monogami), atau beristeri jamak (poligami). Jika Anda percaya pada prinsip-prinsip manajemen resiko, maka sedari sekarang mulailah berhitung.

Saya? Saya memilih yang kedua. Satu “isteri”.

Beberapa saat yang lalu, saya mengaktifkan akun di “kompasiana“. Kelompok blog yang populer, memang. Tetapi setelah kemudian saya bertemu dengan WordPress, saya merasa jatuh cinta. Saya mendaftar, dan bahkan saya tinggalkan akun blog lama saya di “blogger”.

Nah, menurut saya, saat ini adalah waktu yang sangat tepat untuk menceraikan “Kompasiana”. Barangkali saya memang termasuk kategori orang yang, bukan karena tak kepingin, merasa dibikin repot oleh lebih dari  satu isteri. Postingan di “blogger” sudah saya impor semuanya kemari. Berikut ini adalah buah dari “perkawinan” saya dengan “kompasiana”. Ah, saya terpaksa menerima keputusan pengadilan terkait hak asuh anak yang dibebankan pada saya.

Efek Bidadari

Note: adalah rangkai tulis ulang dari dongeng inspiratif dari pengajian-pengajian guru besar saya, KH. M. Djamaluddin Ahmad. Dalam pengajian rutin Al-Hikam tiap malam selasa itu, beliau kerap membubuhi penjelasannya atas Kitab Al-Hikam Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary dengan cerita-cerita yang beliau kutip dari kitab-kitab klasik. Konon, kisah-kisah tersebut telah dibukukan. Tentunya denga redaksi bahasa yang lain dari bentuk tulisan yang saya pakai. Monggo.

Suatu malam, Syeikh Makinuddin yang sedang sibuk dengan wiridnya, didekati seorang perempuan. Ia amat jelita. Tubuhnya membaurkan wangi. Bau mulutnya semerbak bunga. Tiba-tiba si perempuan meminta agar sang Syeikh berkenan memangku dirinya. Ya, perempuan itu meminta duduk di pangkuan kaki kiri sang Syeikh.

“Siapa engkau, wahai perempuan?,” tanya Syeikh.

“Aku Hawra’ (bidadari),” jawabnya lembut.

“Dari mana asalmu? Di mana engkau tinggal?,” Syeikh bertanya lagi.

“Aku tinggal di surga,” masih lembut Hawra’ menjawab.

“Apakah aku boleh memperistrimu (melamarmu)?,” kali ini pertanyaan Syeikh lebih menusuk.

“Boleh,” tegasnya.

“Apa mas kawinnya?,” tanya Syeikh lagi.

Bidadari dari surga itu pun menjawab, “Shalat malam, shalatul lail“.

“Oh, begitu. Ya, sudah, sekarang kembalilah engkau ke tempatmu,” rupanya sang Syeikh tidak betul-betul tertarik. Syeikh tahu, bidadari tersebut adalah sebuah cobaan bagi dirinya. Syeikh Makinuddin, ketika itu memang hendak diangkat derajatnya menuju maqam mahabbah. Jika saja ia sampai terpesona oleh aghyar, segala selain Allah, termasuk bidadari hawra’ tadi, sang Syeikh gagal memeroleh kedudukannya yang tinggi tersebut di sisi Allah.

Tetapi menarik, setelah peristiwa malam itu, tepatnya pagi hari setelah pertemuan dengan Hawra’, Syeikh Makinuddin kembali ke “dunia”-nya sehari-hari. Pertama-tama ia bertemu dengan isterinya, dan apa yang terjadi? Syeikh Makinuddin merasa mual dan lantas muntah-muntah. Syeikh tak tahan dengan bau isterinya. Betapa tidak, semalam ia membaui aroma bidadari. Betawa wangi. Dan sekarang?

Ah, selama kurang lebih dua bulan, Syeikh Makinuddin masih muntah-muntah saat berdekatan dengan isterinya. Benar-benar “Efek Bidadari”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 28/02/2011 by in Essey and tagged , , , , , , , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: