Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Presiden Republik Kecoa

Bisa dibilang posting berikut ini adalah versi baru, atau update terkini, terkait “Perjalanan Si kecoa Warimin”. Ya, Warimin memulai perjalanannya dari awal lagi. Anda menyebutnya renaissance? Boleh juga. Maka silahkan,

Satu-satunya yang berhasil mencapai moksa adalah orang itu; sosok manusia berkulit cokelat kelegam-legaman berjuluk Warimin.

Untuk mendapatkan hal yang sama, sesuatu semacam pencerahan spiritual, Sidharta dan Adham musti menjalani “laku” yang cukup berliku. Ditinggalkannya Istana, tempat sebelumnya mereka beroleh kebahagiaan duniawi yang nyaris sempurna. Lantas ditempuhnya jalur zuhud; sebuah lampah menepis syahwat dunia. Barulah kemudian mereka memperoleh budha; mencapai ma’rifat.

Tapi Warimin memang tak lazim, bahkan jika kedua orang yang telah disebut di atas juga dinilai aneh pada masanya. Untuk mencapai moksa, Warimin tidak memerlukan langkah-langkah ruwet seperti yang dilakoni Sidharta. Lagipula ia bukan pangeran, tak seperti Adham. Warimin lahir pada sebuah keluarga yang biasa-biasa belaka. Ia tak sempat memiliki kehidupan serba mewah ala istana. Warimin juga sebetulnya tak benar-benar menginginkan moksa, sebab itu ia masih melulu memperturutkan nafsu, bahkan dalam moksa-nya kelak. Hingga pada suatu ketika…

Pada hari dan tanggal yang antaberantah, sesosok renta menghampirinya. Berjubah putih, bersungut putih, bertongkat putih, tanpa ikat kepala yang juga putih. Mendadak saja sosok itu memukulkan tongkatnya ke ubun Warimin. Warimin bersijingkat. Dan belum hilang keterhenyakannya, Warimin bertambah kaget. Sebab kini ia telah sama sekali berubah wujud.

Di dunia kecoa, dunia asal Warimin, dan dunia binatang pada umumnya, moksa berarti berubah wujud menjadi manusia. Tak sembarang kecoa mampu mendapatkan keistimewaan itu. Di dunia ini paling-paling hanya ada beberapa. Salah satu yang sempat menjadi legenda adalah cacing bernama asli Sanali. Dialah yang dalam sejarah manusia kemudian dikenal dengan sebutan Sidi Djenar.

Sejak awal Sanali memang berhasrat untuk mencapai moksa. Maka diendusnya terus ke mana pergi  Sunan Bonang. Pada suatu saat, ketika Sang Sunan menurunkan ngelmu-nya kepada Kalijaga, cacing Sanali turut mencuri dengar. Al-hasil, lahirlah manusia bernama Djenar, dan karena nafsu moksa-nya makin tak terbendung, ia pun memaklumkan jejak Sidharta dan Adham. Di dunia manusia, moksa berarti mencapai Tuhan (“menjadi Tuhan”?).

Warimin tak menghasratkan moksa. Bilapun kemudian ia berubah wujud menjadi manusia, ia sendiri tak pernah merasa berhasil. Baginya, tanpa berbanting tulang mustahil bisa diraih keberhasilan; tak ada perjuangan berarti tak ada kesuksesan. Capaian yang bermula dari pemberian orang lain, bukanlah sebuah kemenangan yang patut dirayakan. Warimin memang tak berniat moksa –lagi, sehingga tak seperti Djenar, ia pun tak perlu menampa pancung di penghakiman para wali, meski di alam kecoa ia senantiasa dielukan.

Dan betul, oleh rakyat kecoa, Warimin dinobatkan sebagai Presiden. Tanpa proses birokrasi yang berbelit-belit, Warimin diterima dengan sukarela sebagai pemimpin bangsa Kecoa. Di dunia kecoa, demokrasi memang tak membutuhkan Pemilu, meski harus ada satu syarat penting; hadirnya orang kuat. Warimin, satu-satunya kecoa yang dianggap berhasil mencapai moksa, yang mampu merubah dirinya menjadi manusia, adalah representasi sosok orang kuat seperti dimaksud di dalam perundang-undangan bangsa Kecoa. Tanpa atau dengan mencalonkan diri, tanpa atau melalui kampanye citra yang bertubi-tubi, Warimin akan tetap menjadi Presiden.

Sebagai Presiden Republik kecoa, Warimin tidak menuntut macam-macam. Ia misalnya, cukup puas dengan jalan kaki, atau sesekali kalau didapatinya ongkos di saku ia naik angkutan umum. Warimin tidak meminta Alphard, ia pun tak menyukai kawalan ketat. Tetapi dalam moksa-nya, Warimin dibekali kemampuan untuk mengubah diri menjadi kecoa. Dengan kemampuan uniknya itulah Warimin memiliki kesempatan untuk berkeliaran kemana-mana, melihat dan kemudian dengan potensi kemanusiaannya yang serba kerdil acap berusaha merenungkan, mengkritik, mencemooh, menertawakan segala yang memasuki benaknya. Wajar saja, sebagai seekor Presiden Warimin merasa berhak untuk memantau dan memberikan komentar terhadap dunianya.

Untuk menjalankan takdir  itu, Warimin tidak sendiri. Rekan-rekan kecoanya, yang pada saat tertentu juga berubah menjadi kawanan intelnya, biasa menawarkan waktu untuk berdiskusi.

Kini, dalam wujudnya sebagai manusia, Presiden Republik Kecoa itu dapat Anda temukan di mana saja. Terkadang ia tiba-tiba muncul di kolong jembatan, bercengkerama dengan kumpulan gelandangan. Juga tak perlu heran ketika mendadak Anda menemukannya dalam raut kumal mengambil wudhu untuk sembahyang, walau terkadang Anda juga bersua dengannya di gang-gang mesum nan penuh kedegilan.

Dan ditabuhlah genderang petualangan Warimin melintasi segala tempat, seluruh waktu, semua wacana. Sang presiden republik kecoa; si gelandangan wangsa manusia.

 

Palembang, 14 Desember 2010

Garasi Al-Lathifiyah

–>

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 27/02/2011 by in Monolog and tagged , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: