Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Melawan "Ingatan"

G 30 S. Nama yang sumir. Sebuah operasi yang bergerak pada dini hari tanggal 1 Oktober, kenapa bisa menyebut dirinya sebagai Gerakan 30 September? Tentu saja, tak mungkin mungkir, banyak terjadi intrik di sana -sesuatu yang tak satu setan pun tahu, apalagi para ahli sejarah. Tetapi yang lebih hebat adalah jejak-jejaknya. Pemerintahan Orde Baru, dengan menjustifikasi G 30 S sebagai kudeta, berhasil menancapkan kekuasaannya selama lebih 30 tahun. Dan berikutnya, nama PKI beserta unsur-unsur yang berafiliasi dengannya, “ditransedensi” sedemikian rupa menjadi semacam mitos kelam. Siapa saja yang menentang Pemerintah, akan mendapat kehormatan stigma komunis. Sementara itu, di sisi lain, rezim terus menerus mereproduksi ingatan kelabu tentang G 30 S dan tentang PKI -sesuatu yang pada gilirannya menjadi alat kontrol kekuasaan.
Esai berikut tumbang setelah masuk menjadi 25 besar pada ajang “Kompetisi Menulis Esai: Menyembuhkan Luka Sejarah“, kerja bareng Goethe Institute, Friedrich Ebert Stiftung, Tempo Institute, Majalah Historia, Majalah Tempo dan Koran Tempo. Sekedar catatan kecil kepada kawan-kawan yang berada di arus kiri persimpangan jalan.


Menuju rekonsiliasi justru dengan cara melawan “ingatan”. Prasangka-prasangka tak lengkap, cerita-cerita bias, lansir sejarah yang berat sebelah, tentang peristiwa G30S adalah sesuatu yang lumrah, yang bahkan menjadi santapan kita sehari-hari. Bukan hanya di bangku sekolah, ingatan tidak lengkap yang kemudian beralih menjadi kecurigaan itu menyusup. Kita acap menjumpainya di majelis pengajian, ruang diskusi, atau bahkan dalam obrolan di warung kopi. Mencegah penularan ingatan semacam ini sebetulnya lebih penting ketimbang meluruskan sejarah itu sendiri.
***

Rumah itu tidak suwung, sehingga kami tak perlu menyebutnya sebagai sarang hantu. Gedung kekar dengan ciri arsitektur klasik membuat kami ngeri bukan saja karena kekunoan. Penghuni rumah berhalaman luas dengan rerindang pohon mangga tersebut, kami memanggilnya Pak Koes, adalah bekas anggota Partai Komunis Indonesia (PKI), satu-satunya yang masih tersisa di kampung kami. Syahdan, ia berhasil selamat dari “pembersihan kaum merah”, dengan cara menyembunyikan tubuh di kolong ranjang. Berbeda dari rekan-rekannya yang lain, yang potongan-potongan tubuh mereka kami bayangkan hanyut ditelan alir Kali Brantas, Pak Koes kembali lagi ke tengah-tengah masyarakat dengan membawa sejumlah beban. Saya tidak tahu, sebab kami yang masih kanak tak pernah mau mengerti, apa yang dipikirkan Pak Koes ketika anak-anak seperti kami menatapnya dengan mata curiga. Setiap 31 September pukul Sembilan malam, tepat ketika layar televisi memutar adegan tembak menembak yang diikuti babak sayat menyayat, ingatan kami tertancap pada Pak Koes, pada rumahnya yang anyir darah.
Pak Koes memang telah tiada –semoga Allah mengampuni dosa-dosanya. Tetapi bayang-bayang kanak saya selalu hadir ketika nama sebuah partai politik yang terakhir dipimpin DN. Aidit disebut; Pak Koes dan rumahnya yang amis darah. Sebagai generasi yang terlahir pada pertengahan delapan puluhan, kami mengenal PKI sebagai cerita kelam dalam buku-buku sejarah, yang berkelindan dengan dongeng para guru ngaji kami di surau. Wak Rokit, yang mengajar tajwid setiap ba’da maghrib, kerap menyelipkan dengan bangga kisah heroistiknya memberantas kafir-kafir komunis. Ia dan Pak Kholil, ketua takmir pada surau kami, bersama dengan ratusan pemuda lain di desa Randuwatang (Jombang) dalam tahun 1965-1966, bergerak menangkap, mengejar, dan membantai setiap orang yang memiliki afiliasi dengan PKI. Pak Kholil sendiri bertugas mencincang. Dan laiknya bangkai anjing, jenazah PKI tidak dikubur, mereka dibiarkan hanyut di Kali Brantas. Maka tidak begitu mengherankan apabila kemudian kami menandai keberadaan Pak Koes sebagai semacam campuran dari raksasa –kendati tubuhnya mungil– yang haus darah, manusia kafir yang atheis, dan anjing yang najis. Presumsi seperti itulah yang masih melekat, meski kita sama tahu bahwa Pak Koes hampir tak pernah absen shalat berjama’ah; ia telah bertaubat (bayangkan, kami menyebutnya tobat; insyaf dari dosa ke-PKI-an).
PKI adalah dosa, walau banyak dari kami tidak mengalami luka sejarah yang barangkali memang pernah mereka torehkan. Selama lebih dari 32 tahun dan sepanjang yang terbaca dari literatur-literatur kesejarahan lazim (resmi), PKI selalu dilukiskan dengan citraan negatif. Umumnya, citra negatif tersebut berhubungan dengan cita radikalitas dan separatisme; pemberontakan tahun 1926, pemberontakan tahun 1948, dan terakhir pemberontakan plus pembantaian pada tahun 1965. Dan sejak TAP MPRS No.XXV/MPRS/1966, perbincangan tentang PKI harus dikemukakan dengan berbisik.
Di kalangan bawah, terutama pada lingkungan pedesaan yang cukup agamis –seperti di kampung saya, para pengikut PKI diingat sebagai orang-orang tak bertuhan, dan karenanya tak tahu aturan; beringas tak ubahnya hewan buas (“malang syara”, kata mereka). Saya sendiri, sebelum memperoleh akses bacaan yang lebih luas, termasuk salah satu yang terlibat aktif dalam prasangka semacam ini. Hemat saya, justru pada aras inilah, pada sebuah dunia yang belum banyak disentuh oleh informasi serta penerangan yang berimbang, ingatan tentang citra buruk PKI akan terus diproduksi. Di sinilah, tanpa atau dengan TAP MPRS No.XXV/MPRS/1966, hal-hal yang berkaitan dengan PKI akan terus diperangi. Saya ingat pada tahun 2008, beberapa tahun setelah TAP tersebut dicabut, ketika Jawa Timur menggelar Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA), tiba-tiba muncul kampanye gelap yang berisi larangan mencontreng salah satu calon yang diduga adalah anak seorang PKI.
Di kepala orang ramai, PKI masih diingat sebagai perwujudan ideologi tertentu (Komunisme, Marxisme, Leninisme) yang setara atau berlawanan dengan agama. Karena itulah, beberapa oknum masih memanfaatkan sentimen keagamaan ini untuk meluluskan kepentingan praktis politik kelompoknya sendiri. PKI tidak diingat sebagai sewajarnya partai politik, seperti Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, dan lain-lain, yang baru muncul belakangan. Apapun manuver yang dikeluarkan oleh sebuah organisasi politik, meski hal itu terkadang bersinggungan dengan unsur-unsur keagamaan tertentu, semestinya tidak diartikan sebagai agama itu sendiri. Politik adalah politik, dan agama berada di simpang jalan yang lain. Bahkan jikapun kemudian ditemukan partai politik yang mengasaskan diri pada agama, kita akan tetap menamakannya dengan partai politik, yang memiliki logikanya sendiri; berbeda dari agama.
Dalam hal ini, organisasi PKI masih dianggap sebagai gabungan antara “agama” dan partai politik, atau partai politik yang betul-betul dibangun di atas undang-undang “agama”. Logika yang dipakai untuk menjelaskan “perilaku buruk” kaum komunis, yang senantiasa kami dengar dulu sangatlah sederhana; “PKI tidak beragama, sebab itu tak punya aturan”. Kabar tentang pemberontakan, pembantaian, sabotase tanah warga, dan sebagainya, yang juga masih sumir kebenarannya itu, diputuskan dalam satu kata menyederhanakan: atheis. Kebetulan pula, pandangan tanpa tuhan ini bertolak belakang dengan pandangan dasar negara dan bangsa Indonesia yang berketuhanan. Itulah sebabnya PKI terus menerus ditolak (baca: dicitrakan negatif).
Alhasil, ingatan tentang organisasi PKI yang masih bertengger di kepala kebanyakan orang adalah ingatan yang reduksionistis –hal yang sama yang kadang juga diterapkan kepada para aktor sejarah yang lain seperti Soekarno dan Soeharto. Bahkan pada generasi yang lahir jauh sesudah peristiwa G30S, ingatan semacam ini masih terus muncul. Sebabnya barangkali hanya satu; bahwa ingatan seperti itu masih terus diperanakkan dari generasi ke generasi, lebih-lebih secara oral (secara kultural). Ingatan seperti ini muncul di Banyuwangi, ketika pada paruh terakhir bulan keenam tahun 2010, sekolompok massa menyerbu pertemuan anggota DPR dengan para eks-PKI.
Untuk memutus mata rantai yang dimungkinkan menghambat upaya rekonsiliasi nasional diantara para korban G30S (bagi saya semua orang adalah korban G30S ketika peristiwa ini dipakai sebagai justifikasi untuk saling bermusuhan), tidak bisa tidak harus dengan meluruskan ingatan reduksionistis sebagaimana dimaksud di atas. Rekonsiliasi tak mungkin lahir dari pola pandang yang sempit, yang mengesampingkan sudut pandang dan temuan-temuan baru dalam melihat sejarah. Kongkretnya, suguhkan versi sejarah yang komprehensif, yang melihat G30S dari semua sisi, kemudian pupuskan segala upaya yang menyederhanakan laku sejarah. Pelajaran sejarah janganlah petuah normatif yang bias kepentingan. Kunci yang lain, yang menyangkut spektrum soal lebih luas; lupakan fanatisme!
Perjuangan menuju rekonsiliasi memang sudah diupayakan sejak lama (hampir satu dekade), tetapi perjuangan melawan ingatan reduksionistis masih membutuhkan waktu yang panjang. Generasi muda masa kini berperan penting mewujudkan cita-cita tersebut. Menjadi lebih berwawasan, menjadi lebih terbuka, menjadi lebih melek sejarah, adalah kemestian. Jika melawan kekuasaan, mengutip Milan Kundera, adalah perjuangan melawan lupa, maka perjuangan menuju rekonsiliasi adalah justru perjuangan melawan ingatan (reduksionistis). Dalam proses rekonsiliasi, beberapa hal justru harus kita buang (kita lupakan sejenak), sementara ingatan yang lebih lengkap harus senantiasa dipupuk. Masalahnya bukanlah bagaimana agar kita jangan melupakan sejarah, tetapi bagaimana kita bisa mengarifinya.
Membincang PKI, bayang-bayang kanak saya tentang Pak Koes dan rumahnya yang angker masih terus mendesak, meski saya berusaha untuk terus menerus menunda kehadiran ingatan semacam itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 22/01/2011 by in Essey and tagged , , , , , , .

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: