Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Malam Qadar

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.
(QS. Al-Qadar)

(Terbit dua kali, di Masjid Agung Palembang)
Kita menerjemahkannya dengan “Malam Kemuliaan”. Hal ini secara etimologis sangat sesuai, sebab menurut Az-Zuhry –sebagaimana dikutip Al-Qurthuby, al-qadar bermakna Syaraf wa Manzilah yang artinya kurang lebih Kemuliaan atau Kedudukan. Ketika, misalnya, disebutkan “Fulanun Qadarun” maka yang dimaksud di sini adalah “Si fulan yang mulia alias memiliki kedudukan tinggi”. Karenanya “Malam Kemuliaan” itu dijuluki Lailatul Qadar. “Suatu malam”, tutur Al-Qurthuby, “Ketika diturunkan kitab mulia (dza qadar), kepada Rasul yang mulia (dzi qadar), dan untuk kumpulan umat yang juga mulia (dzatu qadar)”.
Memang, Lailatul Qadar termasuk satu dari banyak keistimewaan yang diberikan kepada kita; Umat Muhammad Saw (Sebenarnya masih ada polemik apakah Lailatul Qadar khusus untuk umat Islam ataukah juga diberikan kepada umat-umat sebelumnya? Lebih detail lihat Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Qadar). Sebagai satu malam, ia bermakna seribu bulan. Inilah definisi lain sekaligus makna intrinsik yang dikandung oleh Lailatul Qadar, sebagaimana diajarkan langsung oleh Allah. Konon, seorang hamba dari umat terdahulu tidak bisa disebut hamba apabila ia belum mengabdi beribadah selama seribu bulan, atau 84 tahun 4 bulan. Seperti diungkapkan Ibnu Mas’ud, keterangan perihal Lailatul Qadar ini diturunkan Allah tepat pada saat Nabi bercerita tentang seorang Bani Israil yang tak pernah berhenti beribadah selama full seribu bulan. Tentu saja, kaum muslimin yang pada waktu itu hadir menjadi terhenyak. Bagaimana mungkin umur mereka bisa sampai seribu bulan? Turunnya penjelasan Lailatul Qadar sedikit meredakan mereka. Umat Muhammad tidak perlu harus berusia seribu bulan beribadah. Mereka sekarang hanya harus menekuni malam, sehingga barangkali mereka dipertemukan dengan satu malam yang tingkat kualitasnya serupa dengan seribu bulan.
Sebagian Ulama’ mendefinisikan kata al-qadar dalam rangkaian kata Lailatul Qadar tersebut sebagai Taqdir. Dengan demikian, Lailatul Qadar menurut mereka berarti malam di mana Allah menetapkan takdir kita semua untuk setahun ke depan. Pada malam itulah, lanjut mereka, catatan tentang kematian, rezeki, ajal dan lain sebagainya diserahkan Allah kepada empat malaikat pengatur; Israfil, Mikail, Izrail dan Jibril. Ibnu Abbas melansir; “Allah memutuskan ketentuan-ketentuan-Nya (Qadla’-Qadla’-Nya) pada malam Nishfu Sya’ban, dan kemudian menyerahkan kepada pengurus-pengurusnya –para malaikat– pada malam qadar”. Bahkan pada malam ini pula Allah menetapkan jumlah quota haji pada tahun selanjutnya, berikut siapa-siapa saja yang berangkat. “Daftar nama calon haji itu diberikan kepada Malaikat pada Lailatul Qadar”, ungkap Ikrimah. (Lihat Tafsir Al-Qurthuby Surat Al-Qadar)
Pada bagian lain dari Al-Qur’an, Lailatul Qadar juga disebut sebagai Al-Lailah Al-Mubarakah -Malam yang diberkati (Ad-Dukhan : 3). Pada malam mulia dan diberkati inilah Al-Qur’an diturunkan. Meskipun kenyataannya Al-Qur’an diturunkan secara gradual selama lebih kurang dua puluh tiga tahun kepada Nabi Muhammad Saw, mengutip penjelasan Ibnu Abbas, pada mulanya keseluruhan Al-Qur’an diturunkan dari Lauhul Mahfudz menuju langit dunia (sama’ud dunya) atau baitul ‘izzah pada suatu malam yang disebut Al-Qur’an sendiri dengan Lailatul Qadar dan/atau Al-Lailah Al-Mubarakah.
Secara umum, para Ulama’ meyakini bahwa Lailatul Qadar, malam di mana Al-Qur’an diturunkan itu, masuk dalam cakupan Bulan Ramadhan. Keyakinan ini berdasarkan kepada Al-Baqarah ayat 185; “Syahru ramadhanal ladzii unzila fiihil qur’an, hudal lin naasi wa bayyinaatin minal hudaa wal furqan”. Artinya, “bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. Bahkan, menurut Ibnu Katsir mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ahmad Ibnu Hanbal, keseluruhan kitab sebelum Al-Qur’an diturunkan kepada semua Nabi di bulan Ramadhan. Suhuf Ibrahim turun pada malam pertama Ramadhan, Taurat pada enam hari terakhir Ramadhan, zabur pada malam ke tiga belas dan injil pada malam tiga belas atau delapan belas. “Hanya saja”, terang Ibnu Murdawaih, “Jika kitab-kitab tersebut diturunkan secara utuh langsung kepada para Nabi, sementara Al-Qur’an diturunkan utuh di langit dunia dulu dan lantas secara bertahap disampaikan kepada Muhammad Saw”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 185)
Hanya sayang, kapan tepatnya Malam Mulia atau Malam Berkah tersebut terjadi, tidak pernah jelas –atau bahkan sengaja disembunyikan oleh Syari’ (Allah dan Rasul-Nya), seperti disinyalir oleh Dr. Wahbah Zuhaily. Menurut Dr. Wahbah –seperti hendak mengatakan bahwa lebih baik lailatul qadar dismbunyikan, hikmah dari disamarkannya Lailatul Qadar adalah agar kita bersungguh-sungguh dalam mencarinya, agar kita mau berkeras ibadah demi meraihnya (Lihat Al-Fiqh Al-Islamy, Dr. Wahbah Zuhaily, Vol 2 Hal 574). Namun begitu, para ulama’ bukan belum memprediksikannya sama sekali dan tentu saja hal ini berdasarkan kepada penjelasan dalil yang telah tersedia. Beberapa diantara prediksi tersebut bisa disebutkan di sini;
1. Malam Pertama Bulan Ramadhan
Pendapat ini dibawa oleh Abu Razin Al-‘Aqily, disebutkan dalam Al-Qurthuby tanpa keterangan lebih jauh.
2. Malam ke-Tujuh Belas Bulan Ramadhan
Pendapat ini digawangi oleh Al-Hasan, Ibnu Ishaq dan Ibnu Zubair berdasarkan pada Al-Anfal ayat 41, yang artinya; “jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, Yaitu di hari bertemunya dua pasukan. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Hari Furqaan sebagaimana diterangkan oleh ayat tersebut adalah pagi hari ketika meletus Perang Badar pada Jum’at tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hijriyah. Bagi para pendukungnya, ayat ini merupakan isyarat bahwa Lailatul Qadar, -sekali lagi- ketika Al-Qur’an turun, terjadi pada malam tanggal tersebut, walaupun ada pula yang berpendapat bahwa hari Furqan terjadi pada tanggal 19 Ramadhan (Lihat Tafsir Al-Qurthuby Surat Al-Qadar).
3. Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan
Pendapat yang diusung oleh Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Al-Auza’I, Abu Tsaur dan Ahmad bin Hanbal ini dianggap shohih (benar) dan mashur (terkenal) oleh Al-Qurthuby (Lihat Al-Qurthuby, Ibid). Bahkan Dr. Wahbah Zuhaily berani memastikan bahwa Lailatul Qadar terjadi di sini, berdasarkan pada hadits riwayat Bukhari dan Muslim, bahwa Nabi bersabda; “Carilah (Lailatul Qadar) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, pada setiap hari-hari ganjil”.
Tentu saja, sepuluh hari terakhir ini terlihat masih belum spisifik dan terkesan mengambang. Karena itulah beberapa ulama’ memilih kecenderugannya sendiri-sendiri, diantaranya;
• Malam ke-Dua Puluh Satu
Pendapat ini dipegangi oleh Imam Syafi’i berdasarkan pada sebuah hadits riwayat Abu Sa’id Al-Khudzry (Lihat Al-Qurthuby, Ibid)
• Malam ke-Dua Puluh Tiga
Berdasarkan kepada hadits yang diambil dari Ibnu Umar, bahwa Nabi Saw bersabda; “Jika kamu menghendaki sesuatu (Lailatul Qadar) pada bulan ini (Ramadhan), maka qiyam-lah (beribadah-lah) pada malam ke-dua puluh tiga”.
• Malam ke-Dua Puluh Lima
Didasarkan kepada hadits yang sama yang dipegangi oleh Imam As-Syafi’I, riwayat Abu Sa’id Al-Khudzry, Nabi Saw bersabda; “Carilah (Lailatul Qadar) pada sembilan hari yang tersisa, tujuh hari yang tersisa dan lima hari yang tersisa” (HR. Muslim). Menurut penjelasan Imam Malik, sembilan hari yang tersisa adalah malam ke-dua puluh satu, tujuh hari yang tersisa adalah malam ke-dua puluh tiga, dan lima hari yang tersisa adalah malam ke-dua puluh lima.
• Malam ke-Dua Puluh Tujuh
Menurut Dr. Wahbah Zuhaily, pendapat inilah yang paling Rajih (Unggul), sebab didasarkan kepada banyak hadits yang satu sama lain saling mendukung (Lihat Al-Fiqh Al-Islamy, Dr. Wahbah Zuhaily, Vol 2 Hal 573). Diantaranya adalah hadits Muawiyyah yang menyebutkan bahwa Nabi secara ekspilisit mengatakan bahwa “Lailatul Qadar adalah malam ke-dua puluh tujuh” (HR. Abu Daud)
• Malam ke-Dua Puluh Sembilan
Nabi Saw bersabda; “Lailatul Qadar adalah malam ke-dua puluh sembilan atau dua puluh tujuh” (Lihat Al-Qurthuby, Ibid)

Dikarenakan penentuan waktu lailatul qadar masih ambigu, sebagian Ulama menambahkan beberapa ciri dari malam istimewa tersebut. Diantaranya adalah bahwa malam qadar adalah malam dengan suhu yang sedang, tidak begitu panas dan tidak terlampau dingin. Juga pada siang harinya, matahari muncul dengan sangat cerah tanpa mendung (dikutip dari Al-Hasan oleh Al-Qurthuby, Ibid). Malam itu, bintang bertaburan sampai pagi, dan bulan –layaknya tersenyum- bersinar dengan amat terang (Lihat Al-Fiqh Al-Islamy, Dr. Wahbah Zuhaily, Vol 2 Hal 574).
‘Ala kulli hal, Malam Qadar adalah malam ketika Jibril dan Ruh (Sekelompok makhluk yang, menurut Al-Qusyairy dan Muqatil, termasuk dalam golongan malaikat. Hanya saja, Ruh adalah Malaikat yang lebih mulia dari malaikat pada umumnya dan lebih dekat kepada Allah) turun ke langit dunia menyapa siapa saja yang tegak beribadah, mengamini doa seluruh hamba. Suatu malam ketika kita sangat dianjurkan untuk membisikkan; Allahumma innaka ‘afuwun, tuhibbul ‘afwa fa’fu’annii”. Allah, Engkau Maha Pengampun dan suka mengampuni, maka ampunilah dosa hamba-Mu ini. Wallahu a’lam bis shawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 22/09/2010 by in Essey.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 54,927 hits
%d blogger menyukai ini: