Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Halal bi Kosong

Sebutan yang aneh sekaligus unik, halal bi halal. Secara harfiyah ia barangkali bisa diterjemahkan dengan, karena frasa halal sendiri telah diserap dan terdaftar sebagai kosakata resmi bahasa Indonesia, “sesuatu yang halal diganti atau dibalas dengan sesuatu yang halal”, mirip dengan ungkapan ‘ainun bi ‘ainin, mata dibalas mata, atau nafsun bi nafsin, nyawa diganti dengan nyawa.
Konon, halal bi halal dilahirkan oleh seorang ulama besar abad ke-20 yang merintis sekaligus mendirikan dan menggerakkan jam’iyyah Nahdlatul Ulama, bernama Abdul Wahab Hasbullah.
Sebutan yang aneh sekaligus unik, halal bi halal. Secara harfiyah ia barangkali bisa diterjemahkan dengan, karena frasa halal sendiri telah diserap dan terdaftar sebagai kosakata resmi bahasa Indonesia, “sesuatu yang halal diganti atau dibalas dengan sesuatu yang halal”, mirip dengan ungkapan ‘ainun bi ‘ainin, mata dibalas mata, atau nafsun bi nafsin, nyawa diganti dengan nyawa.
Konon, halal bi halal dilahirkan oleh seorang ulama besar abad ke-20 yang merintis sekaligus mendirikan dan menggerakkan jam’iyyah Nahdlatul Ulama, bernama Abdul Wahab Hasbullah. Menurut pendapat lain, ungkapan halal bi halal adalah cetusan dari presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, yang memang gemar menciptakan istilah. Kemungkinan besar idiom halal bi halal memang diciptakan oleh mbah Wahab –sapaan akrab KH. Abdul Wahab Hasbullah, yang pakai secara lokal belaka, dan yang lantas diteruskan serta dipopulerkan oleh orator agung Bung Karno –sapaan akrab Ir. Soekarno, yang istilah dan akronim hasil ciptaan atau bawaannya sampai sekarang masih terngiang di seantero nusantara, seperti idiom-idiom “ganyang”, “nasakom”, dan lain-lain. Tidak mengherankan apabila halal bi halal kini menjadi terma yang lumrah, yang dipakai untuk menandai seremoni khusus pada bulan Syawal, laiknya upacara peringatan Isra’ Mi’raj pada bulan Sya’ban. Mbah Wahab mengucapkan halal bi halal untuk menandai tradisi saling bermaafan ketika lebaran, Bung Karno mempopulerkan dan melembagakannya sebagai semacam “ritus” bersalam-salaman di bulan Syawal khas Indonesia. (Terdapat kemungkinan bahwa halal bi halal adalah pengaraban dari idiom “kosong-kosong”, yang kerap diucapkan masyarakat jawa pada saat berlebaran. “Kosong kosong ya..”, kata mereka kepada sesamanya, sembari bersalaman. Maksudnya adalah saling memaafkan di antara mereka. “kesalahanmu kumaafkan, khilafku kau maafkan, dan kita sekarang sama-sama kosong dari dosa antar sesama”. Wallahu a’lam, sementara belum diketahui, dari kedua ungkapan tersebut yang manakah yang lebih dahulu dipakai dalam percakapan.)
Tetapi popularitas istilah halal bi halal ini tidak segera bisa diterima oleh beberapa orang, terutama mereka yang melihat adanya kesalahan gramatikal dalam istilah tersebut. KH. Bisri Syansuri –mbah Bisri– umpamanya, sejawat sekaligus besan mbah Wahab yang cenderung fiqh oriented, mengusulkan untuk mengubah istilah halal bi halal dengan istihna’ul ‘id alias penghormatan kepada hari raya. Usulan yang dikemukakan kepada mbah Wahab tersebut ditolak, dengan alasan telah terlanjur mengakar dalam daftar peristilahan masyarakat Indonesia. Seperti Juliet dalam drama Shakespeare, mbah Wahab berujar kurang lebih, “apalah arti sebuah nama”. What is in a name? Belakangan, di beberapa tempat, seperti di salah satu desa di Bojonegoro menurut beberapa keterangan yang terdengar oleh penulis, sebutan halal bi halal digantikan dengan istihlal (meminta halal).
Lepas dari ketepatan istilah yang digunakan, dan keluar dari kemungkinan bahwa halal bi halal tak lain adalah pengaraban (mu’arrab) dari ungkapan “kosong-kosong” yang lazim dipakai sebagian masyarakat, halal bi halal digali dari sebuah hadits Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim (Muttafaqun ‘Alaih) dengan bunyi; “man kanat ‘indahu madzlamatun li akhihi min ‘irdhihi aw min syai’in (wa fi nuskhatin min malin) falyatahallal minhul yauma qabla an la yakuna dinarun wa la dirhamun, in kana lahu ‘amalun shalihun ukhidza minhu bi qadri madzlamatihi wa man lam yakun lahu hasanatun ukhidza lahu min sayyiati shahibihi fa humila ‘alaihi”.
Dari potongan lafazh “falyatahallal” dalam hadits di atas itulah, seturut keterangan para ulama’, ungkapan halal bi halal dimunculkan.
***
Hadits Nabi di atas kurang lebih dapat diterjemahkan begini, “Sesiapa yang di sisinya terdapat kesalahan terhadap sesama atau saudaranya seiman berupa harga diri atau sesuatu materi, maka bersegeralah meminta halal hari ini, sebelum tidak ada lagi dinar dan dirham. Apabila (tidak segera berminta halal saat ini juga), maka jika ia memiliki amal baik, diambillah darinya sebatas kesalahan yang ada, dan jika ia sama sekali tidak memiliki amal baik, diambillah dari kejelekan sahabat yang dilukainya itu, dan kemudian ditimpakanlah keburukan tersebut kepadanya”.
Tentu saja, perbuatan saling memaafkan tidak secara khusus ditempatkan pada hanya bulan syawal. Apabila masih ada saja orang yang berpandangan demikian, yang menyangka bahwa berminta maaf hanya mungkin di bulan pasca ramadhan ini, sembari merasa aneh ketika melihat saudaranya memohon maaf dan memintanya bersalaman di luar bulan syawal, dipastikan ia telah terjangkit keliru (secara berkelakar kita boleh saja mengusulkan kepada Jaya Suprana untuk menginventarisir kekeliruan ini ke dalam ensiklopedi kelirumologi-nya untuk cetakan berikut). Meminta maaf atas segala kesalahan, dengan kata lain memohon halal, seperti digariskan dalam hadits di muka, haruslah sesegera mungkin. Sebelum masa ketika dinar, dirham, rupiah, dolar, tidak berlaku lagi; sebelum hari qiyamat dan sebelum kita di-mahsyar-kan serta dimintai pertanggungjawaban.
Kebersegeraan ini sangat penting sebab pintu maaf tidak mungkin diwakilkan kepada siapapun. Anda umpamanya, pernah berbuat salah kepada si A. Agar kita bebas dari dosa terhadap sesama lepas dari diri, Anda musti meminta maaf secara langsung kepada yang bersangkutan. Pintu maaf tidak bisa diwariskan, meski kemudian Anda berikhtiar untuk meminta halal kepada keluarga si A ketika Anda tahu ia telah meninggal dunia. Ya, hak memaafkan adalah mutlak hak prerogatif yang bersangkutan, orang yang kita sakiti itu, dan bukan ahli warisnya.
Dari sini kita tahu betapa berat akibat yang harus dipanggul ketika kita mencederai sesama kita sendiri. Bedakan hal ini dengan dosa kita terhadap Allah Swt, yang relatif lebih mudah cara menghapusnya. Cukup dengan taubat, yang nashuhah tentu saja, Allah sudah pasti akan mengampuni dosa-dosa kita. Sedangkan dosa terhadap sesama, sekali lagi, tidak akan raib selagi yang bersangkutan belum menghalalkan; belum memberi halal, belum menunjukkan ridha. Ah, acapkali karena harga diri yang berlebihan, kita terhalang untuk merendahkan diri meminta maaf kepada orang lain.
Dosa dan kesalahan terhadap sesama, berdasarkan hadits Nabi di atas, terdiri dari dua kelompok, yakni penistaan terhadap harga diri seseorang (‘irdh), dan pencederaan atas harta bendanya (mal). Contoh kesalahan dalam kelompok yang pertama antara lain penghinaan, pencelaan, ghibah (membicarakan keburukan seseorang ketika ia absen dari sana), mengatai, dan lain-lain dosa yang terkait dengan harga diri seseorang. Termasuk dosa dalam kelompok kedua adalah pencurian, perampokan, penyopetan, ghasab, hutang yang belum dibayar, dan lain-lain. Seperti telah disebutkan, kedua kelompok dosa terhadap sesama ini tidak mungkin selesai kecuali dengan penghalalan dari yang berhak. Lantas, bagaimana jika orang yang pernah kita cederai tersebut telah meninggalkan dunia ini (mati)?
Di sinilah kesulitan terberatnya, dan karenanyalah Nabi dalam hadits di atas menyeru agar kita bersegera meminta halal apabila merasa memiliki kesalahan terhadap orang lain. Al-yauma, desak Nabi. Sekarang! Hari ini juga. Maka apabila pada suatu sore yang semilir, pada waktu yang tepat untuk bercengkerama bersama sanak saudara, kita terlibat pembicaraan yang menjelek-jelekkan orang lain (ghibah), cepat-cepatlah pada malamnya kita meminta maaf kepada orang yang kita rasani tersebut. Siapa yang tahu, besok orang itu meninggalkan kita semua, dan kita belum sempat meminta halal, sehingga kita pun menderita penyesalan yang berkepanjangan? Siapa tahu, justru besok kita yang wafat? Siapa yang tahu.
Karena maaf adalah hak orang yang bersangkutan, maka dalam konteks ketika kita tidak mungkin lagi meminta maaf kepada orang yang kita cederai, seperti ketika ia telah meninggal dunia, apa boleh buat; tidak lagi ada jalan lain. Akan tetapi, dalam kondisi itu, kita dianjurkan untuk memperbanyak amal shalih. Asumsinya, dengan berbanyak amal shalih seperti ini, di akhirat nanti amal kita tidak segera musnah hanya karena dimintai pertanggungjawaban oleh orang-orang yang semasa hidupnya acapkali kita dzalimi. Nabi suatu saat bertanya kepada sahabat, man huwa muflisun, siapakah orang yang bangkrut itu? Man laisa lahu fulusun, orang yang sama sekali tak memiliki uang, jawab sahabat. Bukan, kata Nabi, muflis adalah dia yang menghadap Allah dengan membawa amal yang berupa-rupa banyak. Hanya saja, sebelum ia sampai di hadhirat-Nya, amal-amal baik itu telah habis di tengah jalan, diminta oleh orang-orang yang pernah ia cederai.
Masalahnya adalah kita tidak pernah tahu, dengan cara bagaimanakah kita menimbang dan membandingkan berat amal shalih dan dosa yang telah kita perbuat? Apakah satu kali olok-olok setara dengan puasa sehari? Bagaimana jika penghinaan yang sekali itu membutuhkan biaya pengganti sebulan atau dua bulan puasa? Bagaimana jika lebih dari itu? Kita ingat hikayat Nabi Isa As, suatu ketika beliau melintasi pekuburan. Didengarnyalah satu makam berisi teriakan kesakitan. Sang Nabi mendekat, dan kemudian dibangunkanlah orang mati itu dari tempatnya terbaring. Siksa kubur yang didapatkannya, kata “mayat hidup” tersebut setelah ditanya Nabi Isa, adalah hanya akibat ia pernah mengambil kayu seukuran tusuk gigi tanpa izin. Saat hidupnya, orang itu memang berprofesi sebagai kuli angkut –kayu. Nah, hanya karena setusuk kayu, seseorang dihukum kubur. Apakah hal itu berarti amal baik kita seumur hidup ini hanya setara dengan sebuah tusuk gigi?
Kita juga ingat pemuda Kirkirah. Ialah yang pada masa Nabi Saw ditugaskan sebagai penjaga gudang yang berisi barang-barang jarahan. Ghanimah dimasukkan ke sana sebelum dibagi-bagikan. Suatu hari, terdengar kabar Kirkirah meninggal. Nabi Saw, yang kemudian diberi tahu oleh Sahabat mengenai ihwal Kirkirah, anak angkat beliau sendiri, tidak berkenan mengucapkan istirja’. Nabi tidak menggumamkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Nabi Saw malah bersabda, “Kirkirah fin nar”, ia masuk neraka. Belakangan diketahui bahwa dosa Kirkirah yang menyebabkannya masuk neraka adalah semata karena ia pernah mengambil sepotong –hanya sepotong– kain selimut, tidak lebih dari itu. Kisah tentang Kirkirah, yang justru anak nabi Saw sendiri, dan yang terkenal amanah, menunjukkan kepada kita bahwa ternyata amal baik kita sepanjang hayat itu hanya setara dengan harga sepotong selimut. Lantas siapa bisa menjamin kalau amal kita tidak akan segera habis diminta oleh orang yang pernah sekali saja kita cemooh?
Anjuran kedua yang sebaiknya kita lakukan ketika orang yang kita cederai telah meninggal dunia adalah bersering memohonkan maaf bagi orang bersangkutan. Untuk itulah, setiap kali setelah selesai salam shalat fardhu, kita dianjurkan beristighfar. Sebaiknya pada saat itu kita ingat pula orang-orang yang pernah kita lalimi. Astaghfirullahal ‘azhim, lii wa li waalidayya, wa li jami’i ashhabil huquqil wajinati ‘alayya, wa li jami’il muslimina wal muslimat al-ahya’I minhum wal amwat. Kumohonkan maaf kepada Allah yang agung, bagi diriku sendiri, untuk kedua orang tuaku, untuk orang-orang yang kepada mereka aku masih menanggung kewajiban belum terbayar, dan untuk seluruh kaum muslimin muslimat dan mu’minin mu’minat, baik yang masih hidup maupun sudah wafat.
Dus, maaf adalah semata hak dari orang yang pernah dicederai, bukan yang lain. Tetapi dalam hal dosa terhadap sesama pada kelompok kedua, yakni pencederaan terhadap harta benda (mal), mengembalikan apa yang pernah kita ambil merupakan sesuatu yang mesti. Di sini, seorang pencuri yang bertaubat bisa mengembalikan barang curiannya kepada ahli waris, meski pada saat yang sama ia tidak berhak mendapatkan maaf –sebab orang yang dicederai telah berpulang. Seumpama keluaga tercedera juga tidak ada, maka seseorang dipersilahkan mencari hakim atau ‘alim yang bisa dipercaya, dan yang bersiteguh di bidang agama, supaya mereka menasharrufkannya di jalan Allah. Dan kalau hakim/alim itu tidak pula ditemukan, harta tersebut ia serahkan dan/atau nafkahkan untuk kepentingan umum.
Inilah kenapa halal bi halal menjadi relevan. Di tengah ambiguitas pola mu’asyarah (hubungan dan/atau komunikasi) kita di dalam masyarakat, yang seringkali bersendikan ewuh pakewuh, ketika kita malu mengakui kesalahan dan enggan saling bermaafan, sekurang-kurangnya setahun sekali kita berkumpul lagi, meredakan egoisme untuk kemudian dipersatukan dalam ridha kepada yang lain. Syawal, di mana ia hampir selalu berarti bulan saling bermaafan antar saudara dan sesama, melengkapi bulan sebelumnya (Ramadhan), ketika dosa kita kepada-Nya dibersihkan. Pada momentum syawal, kita kembali fitri, meski untuk meminta maaf dan bermaaf-maafan kita tidak perlu selalu menunggu bulan ini.
***

Nabi Saw dalam shahih riwayat Abu Daud, “Ma min muslimaini yaltaqiyani fa yatashafahani illa ghufira lahuma qabla an yatafarraqaa”. Tidaklah dua orang muslim bersua, kemudian keduanya saling bersalaman (saling bermaafan), kecuali diampuni sebelum keduanya berpisah.
Halal bi halal identik dengan lampah saling bersalaman. Bersalaman, seperti dalam hadits di atas, bermakna kedua orang yang melakukannya saling bermaafan. Dalam hal ini, yang perlu kita garis bawahi adalah tata krama dalam bersalam-salaman. Kenapa musti tata krama? Sebab seringkali tanpa tata krama, ibadah dan amal baik kita tidak berbuah apa-apa; ditolak oleh-Nya.
Terdapat tiga kaifiyah bersalaman, yang kesemuanya didasarkan kepada kriteria pembedaan antara yang dihormati dan yang menghormati, yang lebih tinggi derajatnya dan yang lebih rendah; sesuatu yang lumrah saja dalam setiap pola lapisan sosial masyarakat, lebih-lebih masyarakat Indonesia yang cenderung santun. Pola pelapisan sosial yang sedemikian rupa banyak dikritik oleh khalayak modern sebagai warisan feodalisme jawa. Mereka tidak tahu bahwa tradisi tersebut memiliki legitimasi teologisnya dalam agama Islam. Nabi Saw bersabda, “Bukan golonganku, orang yang tidak memuliakan yang tua, dan menyayangi yang muda”. Lagi pula, kita juga bisa melacak hadirnya hirarki sosial yang bertingkat tersebut dalam bahasa arab sendiri. Dalam hal “memberi” umpamanya, jika pemberian itu dari orang yang tingkatannya lebih tinggi kepada yang lebih rendah, disebut shadaqah. Dan jika sebaliknya disebut dengan hadiah. Kita yang awam mengirim sesuatu kepada seorang ulama, maka itu tidak patut disebut dengan istilah shadaqah, melainkan lebih tepat jika dinamakan dengan hadiah. Selebihnya, kita bisa disebut tidak memiliki tatakrama ketika kepada Allah kita meng-Amar, bukan ber-doa, padahal keduanya dalam bahasa yang netral sebetulnya memiliki terjemah yang serupa, yakni “perintah” atau “memerintah”.
Demikian pula dalam bersalam-salaman, di sini juga terdapat tata krama. Wujud bersalaman yang pertama adalah bersalam-salaman sebagaimana biasa, tanpa mencium tangan. Ini dilakukan apabila dua orang setara kedudukannya, seperti teman dengan sesama teman.
Kedua, bersalaman dengan mencium tangan. Ini dilakukan oleh orang yang derajatnya di bawah kepada yang lebih tinggi (minal a’la ilal adna), seperti ketika kita bersalaman dengan bapak atau ibu atau guru. Hal ini dicontohkan oleh Ibnu ‘Abbas dalam sebuah hadits yang panjang, bahwa beliau mendatangi Nabi Saw dan kemudian menyalaminya dengan cara mencium tangan. Fa danahu, wa qabbalna yadahu.
Ketiga, orang yang derajatnya lebih tinggi kepada yang lebih rendah (minal a’la ilal adna) “bersalaman” dengan mengecup kening (antara dua alis). Seperti dikisahkan Sayidah Aisyah, Zaid ibnu Haritsah bertamu ke rumah Nabi. Ia mengecup tangan Nabi Saw, dan kemudian mereka berdua saling berpelukan, sementara Nabi Saw mengecup kening Zaid. Sejauh ini, penulis –berkaca pada pengajiannya yang pendek, belum (bukan tidak) menemukan dasar dari pola bersalaman yang disertai dengan saling berpelukan dan kemudian ditambah dengan saling bertemu pipi (cium pipi kanan dan kiri, alias cipika cipiki dalam bahasa sekarang).
Demikianlah beberapa poin terkait “ritual” halal bi halal yang sanggup penulis catat. Tentu saja di sana sini masih belepot kekurangan.
Wallahu a’lam bis shawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 22/09/2010 by in Essey.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 59,233 hits
%d blogger menyukai ini: