Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Sang Pemimpi

Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita…
Baliho ekstra-large itu didominasi warna ungu, membentang di pusat kota Palembang, pada sebuah dinding toko yang telah beralih fungsi menjadi lapangan advertise di seputaran Masjid Agung. Tiga tubuh remaja dengan raut tersenyum lebar, digambarkan sedang berlari. Di atasnya tertulis label “Sang Pemimpi”; Sekuel kedua film Box Office Laskar Pelangi. Iklan itu terpampang lebih dari sebulan yang lalu, beberapa minggu sebelum filmnya diputar, mengesankan hasrat pembuatnya untuk meraup jutaan penonton, menandingi kesuksesan sekuel sebelumnya. Dari update informasi hari senin (4/1), beberapa pekan setelah pemutaran perdana film itu, penonton telah mencapai hitungan 1,5 juta, selangkah sebelum target 2 juta penonton terpenuhi (target yang oleh produsernya disebut sebagai pemenuhan upaya “balik modal”. Di luar itu Sang Pemimpi diharapkan mampu meraup 7 juta penonton, melampaui Laskar Pelangi yang boom dengan jumlah 4,6 juta). Besoknya (5/1), saya –penulis– coba-coba melongok bioskop. Dan, wah, tribun bioskop yang dikenal sebagai “kandang opera yang tidak murah” di salah satu mall di Palembang itu masih sesak pengunjung. Hem, “Sang Pemimpi”, seberapa cantikkah dirimu hingga jutaan pemirsa kemudian tertarik?

***
Seperti pada sekuel sebelumnya, Laskar Pelangi, film Sang Pemimpi dimukaddimahi dengan gambar Ikal Dewasa yang sedang “mudik” ke kampung halaman. Pemuda ini telah berhasil menggenggam mimpi belajar ke Paris, dan sekarang pulang untuk menapaktilasi sejarahnya sendiri, tentu saja bukan karena narsisme melainkan agar kita para pemirsa dapat menghikmati jengkal demi jengkal narasi yang bisa kita sebut sebagai autobiografi dari penulis tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata, ini. Pada episode Laskar Pelangi, yang adalah juga visualisasi atas sebuah napak tilas, tokoh Ikal berhasil menemukan kembali kawan inspiratifnya yang sempat hilang. Ya, Bocah Cerdas Lintang itu kini telah memiliki buah hati; seorang anak perempuan yang, seperti Ikal dulu, juga diinjeksinya dengan sindrom mimpi. Sekarang, di sekuel Sang Pemimpi ini, Ikal melanjutkan napak tilasnya, meriwayatkan ulang perjalanan mimpi-mimpinya.
Suara Lukman Sardi (Pemeran Ikal Dewasa) adalah kunci dari Film Sang Pemimpi. Dengan metode narasi, di mana seorang narator merajut tahap demi tahap alur cerita, Sang Pemimpi mendongengi kita tentang perjalanan mimpi sang Ikal pada usia remaja. Menarik untuk dicermati, hampir keseluruhan film yang diproduksi oleh Miles Production, rumah produksi kepunyaan Mira Lesmana, minus film ada apa dengan cinta, menggunakan seorang narator sebagai perajut alur cerita. Metode semacam ini memang relatif aman dari efek membuat bingung pemirsanya, cukup safely untuk mencegah penonton tersesat di rimba gambar, terlebih ketika film yang diproduksi adalah film yang berlatar kilas balik; film-film sejarah seperti film Gie, Laskar pelangi, dan sekarang Sang Pemimpi. Lukman Sardi sendiri, dalam sebuah wawancara, mengaku agak kesulitan melakoni peran dalam Sang Pemimpi. Betapa tidak, pada sekuel kedua tetralogi Laskar Pelangi ini ia dituntut untuk bukan hanya berakting secara fisik –dalam arti direkam gerak tubuh dan sekaligus suaranya, melainkan ia juga dituntut untuk bermimik hanya di hadapan mikropon, tanpa kamera. Dalam pada itu, Lukman dibebani tanggung jawab untuk memberikan emosi pada suara naratifnya. Perubahan emosi itulah yang terlihat ketika alur film Sang Pemimpi meloncat dari satu scene ke scene yang lain, yang dari satu kode waktu ke kode yang berbeda.
Secara Garis Besar, Sang Pemimpi dijalin dari tiga kategori waktu, yakni (1) Ikal pada saat SMP, (2) Ikal pada saat SMA, dan (3) Ikal ketika menjadi mahasiswa. Selain ditandai oleh pemeran dan kode bulan beserta tahun di pojok kanan bawah layar yang berbeda, seperti disebut sebelumnya, pemisahan (diferensiasi) kategori waktu itu juga diupayakan dengan susah payah oleh Narator; perbedaan tensi emosi suara Lukman Sardi. Pembedaan ini amat penting karena tidak sama dengan garis lurus, alur waktu dari film Sang Pemimpi tidak berjalan secara linear. Sang Pemimpi, misalnya, tidak dimulai pada saat Ikal masuk SMP atau sewaktu dia lulus SD –kisah semasa SD telah dikupas dalam film sebelumnya dengan pola yang linear. Dan sebaliknya, Sang Pemimpi diawali oleh satu momen ketika Ikal telah duduk di bangku SMA; suatu frase pada saat Ikal bersama kedua karibnya membikin geger upacara sekolah. Selanjutnya, masa SMP diceritakan dengan metode flash back.
Kenapa Sang Pemimpi memulai dirinya dari saat tokoh-tokoh utamanya duduk di bangku SMA? Ada beberapa kemungkinan alasan yang bisa dikemukakan. Pertama, untuk menunjukkan kepada kita, para pemirsanya, bahwa konsentrasi Sang Pemimpi hanya dibatasi pada fase SMA dari para tokohnya. Sebuah film tidak bercerita secara lengkap dari awal hingga akhir, melainkan hanya menampilkan sisi-sisi tertentu dan yang terpenting dari suatu peristiwa, tidak layaknya novel atau roman. Bisa dibayangkan apabila Sang Pemimpi harus menampilkan keseluruhan fragmen hidup sang tokoh, ia mustahil habis dalam durasi dua jam. Terbukti hampir 70 persen film dihabiskan hanya untuk menyoroti kehidupan Ikal dan kawan-kawan pada saat SMA. Kilas balik ke fase SMP hanya digunakan untuk memperkenalkan tokoh-tokoh utama selain Ikal, yakni dua sahabat barunya; Aray Sang Pemimpi dan Jimbrong Sang Penggila Kuda. Pemirsa yang dengan menonton Sang Pemimpi hanya ingin melihat akting seorang Nazril Irham (Ariel, Vokalis almarhum Peterpan, yang memerankan tokoh Aray dewasa, yang diakui atau tidak menjadi salah satu daya tarik film ini terlebih bagi para “Sahabat Peterpan”) bisa dipastikan akan kecewa. Sebab Nazril hanya muncul beberapa jenak di akhir film, ketika Aray (Nazril) dan Ikal (Lukman) menjalani fase kuliah di Universitas Indonesia (UI), yang tidak diceritakan secara detil. Itu belum lagi dipotong oleh sebuah kejadian sewaktu, pasca lulus dari UI, Aray tiba-tiba menghilang.
Kedua, karena pada fase SMA inilah, Ikal bertemu dengan tokoh-tokoh penting lain yang memberi warna pada perjalanan mimpi-mimpinya. Film Sang Pemimpi, juga film Laskar Pelangi, adalah film tentang riwayat perjalanan mimpi-mimpi. Dalam hal ini, mimpi-mimpi yang dimaksud adalah mimpi-mimpi Ikal, tokoh yang berperan sebagai Sang “Aku” cerita, Sang Narator, Sang Pencerita. Ikal merasa mustahil mampu meraih mimpi-mimpinya tersebut tanpa dukungan, bantuan, motifasi dari orang-orang terdekat. Orang terdekat Ikal ini terdiri dari setidaknya dua kelompok, yakni kelompok anak-anak yang mewariskan semangat dan kelompok dewasa yang memberikan motifasi. Dalam versi film Laskar Pelangi, kelompok anak-anak diwakili oleh Lintang dan Mahar beserta tujuh orang sahabatnya yang lain yang lazim dirujuk sebagai Laskar Pelangi, sementara Ibu Muslimah dan Pak Harfan –masing-masing adalah guru dan kepala sekolah SD Muhammadiyah Gantong– ditunjuk sebagai tokoh dewasanya. Pada Sang Pemimpi, posisi kelompok anak-anak diambil alih oleh remaja Aray dan Jimbrong, dan tokoh dewasa menemukan bentuknya dalam wujud Pak Julian Balya dan Pak Mustar –masing-masing adalah guru dan kepala sekolah SMA Negeri Manggar. Nah, dua tokoh yang disebut belakangan (Pak Balya dan Pak Mustar) inilah yang mengharuskan film Sang Pemimpi memulai dirinya pada fase SMA. Selain itu, pada saat duduk di bangku SMA ini peristiwa yang penting telah terjadi. Yaitu ketika ayah Ikal, yang disebutnya sebagai “ayah nomor satu”, kehilangan pekerjaan akibat PN Timah –tempatnya bekerja selama ini– gulung tikar. Ini sangat menarik karena pada film sebelumnya, Laskar Pelangi, tidak disebutkan sama sekali peran tokoh ayah dalam pembentukan karakter mimpi-mimpi Ikal (dan belakangan juga Aray yang selain menjadi Sahabat juga menjadi Saudara angkat Ikal; Aray dan Ikal tumbuh dari asuhan seorang “Ayah” yang sama). Pada Sang Pemimpi, kita para pemirsa, menemukan hikmah berupa fungsi penting dari orang tua dalam membentuk kepribadian anak.
Ketiga, sebab pada fase SMA inilah, mimpi-mimpi Ikal diterpa oleh ujian yang amat berat. Apabila disepakati inti dari sebuah film terletak pada konflik cerita, maka dalam konteks Sang Pemimpi konflik tersebut terjadi ketika mimpi-mimpi Ikal terancam buyar, terpaksa harus dibuangnya ke selokan bersama dengan amis ikan pantai Belitong. Dilukiskan; ketika itu Ikal dilanda krisis kepercayaan terhadap Aray, orang yang selama ini mampu membuatnya bertahan untuk terus bermimpi. Pasalnya, Aray-lah yang “memaksa” ketiga Sahabat itu (Ikal, Aray dan Jimbrong) menonton “film panas”, padahal masuk gedung bioskop adalah pantangan bagi semua siswa SMA Negeri Manggar, bahkan Pak Mustar memfatwakan haram. Tak pelak, karena perilaku mereka ini ketahuan, esoknya mereka dihukum membersihkan WC; “wilayah larangan” bagi mereka bertiga oleh sebab saking kotor dan amat baunya. Ikal marah, Ikal putus asa, Ikal kecewa telah bermimpi. Maka diputuskannya untuk tak lagi mengejar mimpi belajar di Paris, dan berencana pergi mengelilingi dunia dengan cara asli “ala orang Melayu”; menjadi pelaut. Ditinggalkannya bangku sekolah, meski ia tetap bekerja. Hingga masa akhir ajaran, nilai raportnya merosot tajam. Ikal merasa bersalah pada ayah nomor satunya, Ikal sedih. Dan pada detik-detik transisi itulah Pak Mustar yang selama ini dikenal sebagai guru biologi yang killer, keras, disiplin dan “menolak” cara Pak Balya –pengajar Sastra yang senantiasa menghembuskan mimpi-mimpi kepada siswa, berubah menjadi sosok lunak yang penuh pengertian dan jiwa kebapakan. Kepada Ikal ia menjelaskan bahwa sikapnya selama ini bukanlah untuk menghalang-halangi mimpi para siswanya. Dengan menjadi sosok killer, Pak Mustar bermaksud memberi tahu bahwa mengejar mimpi bukanlah sesuatu yang mudah. Mimpi hanya mungkin dicapai dengan keteguhan hati dan disiplin.

***
Film Sang Pemimpi adalah film untuk kategori tiga belas tahun ke atas. Asumsinya, film ini akan ditonton oleh mayoritas pemirsa remaja, lapis besar masyarakat Indonesia yang duduk di bangku SMP dan SMA. Sang Pemimpi dipercaya akan mentransfer banyak pelajaran bagi kalangan remaja. Menonton Sang Pemimpi, remaja Indonesia belajar banyak hal, terutama yang berkaitan erat dengan kenyataannya sebagai remaja; masa-masa transisional menuju kedewasaan. Di sini, remaja kita disuguhi romansa yang unik dan lucu ala Aray (suatu fragmen khas remaja; tumbuhnya asmara), krisis orientasi dan kepribadian sebagaimana dialami oleh Ikal atau hobi aneh dan ekstrem yang ditunjukkan Jimbrong (kecintaan Jimbrong pada kuda dan keinginannya untuk menengok Kuda Australia barangkali bisa disejajarkan dengan fenomena remaja masa kini yang, misalnya, hobi motor dan atau gila bola). Hanya saja, tidak seperti cerita dalam sinetron-sinetron remaja pada umumnya, Sang Pemimpi tidak membiarkan para remaja larut dalam euphoria asmara dan hura-hura. Tokoh-tokoh Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi adalah mereka yang sibuk mengejar mimpi-mimpi besar, bukan sekedar mimpi-mimpi picisan menjadi jagoan dengan tawuran, menghabiskan waktu untuk banyak-banyakan pacar, dan sebagainya. Kalau boleh jujur, tokoh Ikal, Aray dan Jimbrong adalah prototype yang asing di kalangan remaja masa kini. Mereka inilah yang, demi cita dan mimpinya, bersedia mengurangi waktu belajar untuk terpaksa bekerja. Bukan sebaliknya, memperbanyak waktu hura-hura dan belajar karena terpaksa, sesuatu yang acapkali kita lihat pada remaja kita.
Namun begitu, dengan memperbanyak porsi keremajaan, tidak berarti Sang Pemimpi turun martabat menjadi sekedar film remaja. Para guru umpamanya, bisa banyak menuai inspirasi dari kronik Pak Mustar dan Pak Balya. Pun juga para orang tua, bisa belajar pada keuletan dan ketegaran ayah Ikal. Di atas segalanya, Film Sang Pemimpi memang menampung aspirasi dan emosi dari semua kalangan. Tidak heran kalau kemudian dengan singkat karcisnya ludes terjual. Seiring dengan bertambahnya jumlah penonton film Sang Pemimpi, kita berharap virus mimpi dan bakteri pantang menyerah menjadi wabah di segala penjuru Indonesia, terutama bagi kalangan remajanya. Maka, mengutip kata-kata Pak Balya yang biasa dilantangkannya setiap selesai mengajar, “Para pelopor, pekikkan kata-kata yang memberikanmu Inspirasi”.
Mari berdiri, dan teriakkan; “Jangan takut bermimpi. Jangan menyerah atas mimpi-mimpimu. Sukses Sang Pemimpi, Majulah Film Indonesia.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 09/05/2010 by in Essey.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: