Elha Husnan

Man Syakka Wajada

Menyoal MTQ

>Peringatan Milad Muhammadiyah ke-100 di Sumsel berlangsung semarak. Salah satu dari beberapa rangkaian kegiatan yang berhasil menambah kehangatan suasana adalah perdebatan atau “diskusi panas” di seputar Musabaqah Tilawatil Qur’an, secara harfiyah berarti Lomba Pembacaan Al-Qur’an atau lazim diakronimkan dengan MTQ –versi lain dari MTQ, yang diselenggarakan pada waktu dan dengan cakupan perlombaan yang berbeda, dikenal oleh masyarakat dengan sebutan STQ alias Seleksi Tilawatil Qur’an. Perdebatan yang melibatkan kalangan ahli di lingkungan Muhammadiyah itu mengerucut dalam dua arus pemikiran. Faksi pertama menyatakan bahwa MTQ harus ditolak karena beberapa alasan yang dikategorikan sebagai prinsipil. Sementara itu kelompok kedua berpandangan bahwa MTQ bisa diterima dengan disertai beberapa catatan terkait hal-hal yang cukup relevan. (Lihat Sripo)
Perdebatan ini menarik untuk dicermati mengingat beberapa saat lagi Sumsel akan mengadakan hajatan MTQ ke-XXIV. Kegiatan yang dikomando oleh LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an) Provinsi Sumsel tersebut rencananya akan digelar di Kabupaten Musi Rawas pada Maret 2010.
Apabila disimak lebih lanjut, perdebatan menyoal MTQ dapat dilokalisir ke dalam dua segi. Pertama, perdebatan menyangkut hakekat pembacaan Al-Qur’an. Dalam hal ini pertanyaan besar yang patut dikemukakan adalah; adakah parameter standar yang mungkin dipakai sebagai acuan dalam tata cara pembacaan Al-Qur’an? Apakah melagukan Al-Qur’an tergolong sebagai metode yang tidak sesuai dengan parameter tersebut, untuk tidak menyebutnya salah?
Kedua, persoalan dan/atau pertanyaan di seputar MTQ itu sendiri. Seperti telah dimaklumi, MTQ merupakan ajang perlombaan yang menjadikan Al-Qur’an sebagai unsur vitalnya. Di arena MTQ, kompetisi sebetulnya bukan meliputi wilayah tilawah belaka, tidak mencakup pelaguan Al-Qur’an saja. Tilawah hanya satu diantara sekian cabang yang dilombakan, diantaranya adalah cabang-cabang macam tahfizh (hafalan Al-Qur’an), Tafsir, Seni Kaligrafi, dan penulisan kandungan Al-Qur’an. Pertanyaannya kemudian, apakah memperlombakan Al-Qur’an, seperti nyata dalam setiap event MTQ, dibenarkan oleh Islam?
Menyikapi persoalan di atas, setiap orang tentu memiliki pandangannya masing-masing, yang tidak jarang bertentangan antara satu dengan yang lain. Di lingkup internal Muhammadiyah saja setidaknya terdapat dua arus besar pemikiran. Ini belum lagi jika persoalan yang sama kita tawarkan kepada organisasi-organisasi di luar Muhammadiyah. Dijamin, pluralitas pandangan akan semakin kentara. Dalam konteks untuk meramaikan wacana perdebatan inilah, dan tanpa bermaksud mengklaim pandangannya sendiri sebagai sesuatu yang mutlak benar, penulis hendak mengutarakan sekelumit pendapatnya.
Menanggapi soal yang pertama, Allah dalam ayat 4 surat Al-Muzammil mengamanatkan; “Bacalah Al-Qur’an setartil-tartilnya”. Barangkali dari sini kita bisa bersepakat ayat tersebut menjelaskan satu hal, bahwa Al-Qur’an hanya mungkin dibaca dengan satu cara; yakni dengan metode tartil. Persoalannya lantas berkembang lebih menukik, sejauh manakah kita memahami konsep tartil itu? Seberapa jauhkah prinsip tartil harus diaplikasikan oleh seorang pembaca Al-Qur’an? Benarkah melagukan Al-Qur’an tidak sesuai dengan prinsip tartil?
Beberapa orang menginterpretasikan tartil dengan cara membaca Al-Qur’an yang baik dan benar. Definisi ini masih sangat konvensional selain juga tidak menjelaskan apapun. Yang lain melangkah lebih jauh dengan menggambarkannya sebagai cara membaca Al-Qur’an ala siswa-siswa TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an); kurang lebih bisa disederhanakan sebagai cara membaca Al-Qur’an yang mengedepankan keabsahan bacaan menurut tajwid serta tidak terlalu banyak memberikan variasi nada. Pendeknya, cara baca yang “datar-datar”.
Pemaknaan seperti ini mirip, meski tidak sepenuhnya sama, dengan pengertian yang dikemukakan oleh Sahabat Ali Karramallahu wajhah, bahwa tartil adalah membaguskan huruf dan mengetahui aturan berhenti (waqaf). Definisi Ali ini hanya menyangkut soal tajwid saja, tidak menyinggung pemakaian nada atau pelaguan bacaan Al-Qur’an (Lihat, Bunga Rampai Mutiara Al-Qur’an, Ahmad Mustafid/Ed).
Dari sini diketahui bahwa tartil, sebagai parameter standar cara membaca Al-Qur’an, tidak secara langsung berhubungan dengan pelaguan Al-Qur’an. Dengan kata lain, tartil adalah standar minimal membaca Al-Qur’an, dalam arti tanpanya bacaan seseorang dianggap salah. Akan halnya nada-nada dan pelaguan Al-Qur’an, Nabi Saw menjelaskan dalam sabda yang diriwayatkan Abu Daud; “Zayyinul Qur’ana bi ashwatikum”, hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu. Selain itu, Nabi juga sempat mencamkan; “Laisa minna man lam yataghanna bil Qur’an”, Bukan golonganku orang yang tidak melagukan Al-Qur’an.
Itulah kenapa MTQ mencabangkan tilawah; melagukan Al-Qur’an dengan maksud memenuhi anjuran Sang Pembawa Al-Qur’an Muhammad Saw. Sekali lagi, sangat tidak relevan mempertentangkan prinsip tartil dengan pelaguan Al-Qur’an, toh Nabi sendiri malah menganjurkannya. Tidak arif rasanya mencekal MTQ hanya dengan alasan bahwa melagukan Al-Qur’an berbanding terbalik dengan prinsip tartil. Lagi pula, tanpa melagukan Al-Qur’an sekalipun, masih sangat terbuka kemungkinan seseorang terjebak untuk tidak membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, dengan tartil, kalau dia memang belum sama sekali belajar hukum-hukum tajwid. Al-hasil, dari sudut pandang ini, MTQ harus terus digalakkan, apalagi kita juga mafhum bahwa di arena MTQ akan kita temukan juri atau hakim penilai di bidang tajwid. Bahkan bukan hanya tajwid secara umum, melainkan kebaikan pelafalan huruf, kebenaran tata cara berhenti (waqf), dan sebagainya, disediakan juri atau hakimnya secara khusus. Dengan sendirinya, peserta MTQ yang tidak patuh terhadap standar minimal membaca Al-Qur’an itu pun gugur.
Selanjutnya, mengomentari soal yang kedua, beberapa orang memandang MTQ dengan sebelah mata karena menurutnya kegiatan memperlombakan Al-Qur’an tidak pernah kita temukan rujukannya di masa Nabi. Soal-soal seperti ini sebenarnya sekedar variasi saja dari permasalahan klasik yang juga pernah dialami oleh umat Islam Indonesia di masa lampau. Masih lekat dalam ingatan kita kisah perdebatan bapak dan anak, yang keduanya sangat agamis sehingga bahkan keduanya diberi gelar ulama oleh masyarakat, meributkan celana dan dasi. Bagi sang bapak, celana dan dasi adalah bid’ah oleh sebab tidak pernah sekalipun dikenakan Rasul. Sebaliknya, sang anak melegalkan pemakaian celana dan dasi sembari mencontohkan pemakaiannya dalam kehidupan sehari-hari. Argumen sang anak sederhana saja; bahwa menggunakan celana dan dasi memang tergolong bid’ah. Tetapi bid’ah ternyata ada dua; bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah sayyiah (buruk). Memakai celana dan dasi dikategorikan bid’ah hasanah karena sesuai dengan ciri khas dunia modern yang “mobile” (bayangkan jika pada hari ini anda dilarang mengenakan celana dan hanya dibolehkan memakai sarung). Sementara itu, korupsi juga tergolong bid’ah, karena di zaman Nabi tidak ada cerita orang mengemplang uang negara. Hanya bedanya, bid’ah korupsi adalah bid’ah yang terkutuk alias bid’ah sayyiah.
Pada masa Nabi memang tidak ditemukan perlombaan-perlombaan kecuali hanya pada beberapa jenis seperti cabang panahan, pacuan (kuda dan unta), dan lain-lain. Tentu saja, memperlombakan Al-Qur’an, sebagaimana sekarang kita mengenal MTQ, tidak termasuk dalam jenis lomba yang diselenggarakan di masa Nabi. Sebutlah MTQ itu bid’ah, tetapi bukankah sangat dimungkinkan ia disepakati sebagai bid’ah hasanah, sebagaimana kita menyepakati kebolehan memakai dasi dan celana.
Tentu saja bukan karena niat yang buruk, Pemerintah Indonesia menyelenggarakan MTQ untuk pertama kalinya pada tahun 1968. Ketika itu, kalangan birokrat dan ulama berpadu menggencarkan sebuah usaha, mengutip Quraisy Shihab, membumikan Al-Qur’an. Terbukti, menurut laporan mantan Menteri Agama Sayyid Agil Husein Al-Munawar dalam suatu wawancara, program MTQ berhasil menarik semangat masyarakat kita untuk lebih memperdalam dan memperluas ilmunya tentang Al-Qur’an.
Selain itu, kita juga bisa mengemukakan alasan yang lebih praktis. Misalnya, bahwa dengan MTQ nama bangsa kita sedikit lebih semerbak di luar negeri. Siapa yang tidak kenal Muammar ZA, orang Indonesia yang juga aktifis MTQ itu. Bahkan, salah satu yang membuat nama Sumsel harum adalah para aktifis MTQ; beberapa Qari’ Sumsel bahkan telah menembus level Internasional.
Sebab itulah, di tengah-tengah situasi ketika wajah bangsa kita dicoreng oleh korupsi, maka MTQ pun boleh dinilai sebagai aset yang layak diperhitungkan di pentas dunia. MTQ masih tetap harus “halal”.

Iklan

One comment on “Menyoal MTQ

  1. Anymous
    13/05/2015

    Apakah anda tidak paham dengan yang namanya bid’ah?
    Bid’ah hanya menyangkut ibadah. Lalu apakaha memakai celana dan dasi adalah ibadah?
    Semoga Allah memberi hidayah kepada kita…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 09/05/2010 by in Essey.

Author

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Jejak

  • 57,535 hits
%d blogger menyukai ini: